Postingan

Nasib Hafalan Quranku

Gambar
Pekan kemarin saya menjumpainya lagi. Untuk ke sekian kalinya. Sebuah raka'at yang cukup panjang. Di shubuh itu Sang Imam membaca surah Ar Rahman di rakaat pertama. Dan itu seluruh surat, dengan jumlah ayat 78! Hmm..sebuah keistimewaan tersendiri. Karena itu terjadi di masjid perumahan. Biasanya rakaat panjang begini adanya di pondok tahfidz atau yang ada ma'had dirosat. Yang ma'mumnya rata-rata anak mahasiswa atau santri. Saat dulu di Kampus STAN saja, imam masjid Baitul Maal (MBM) paling banter surat Ar-rahman itu selesai dalam dua rakaat. Tak hanya surat Ar Rahman, Sang Imam yang ketua DKM itu kadang membaca surat Al Mulk (30 ayat). Pernah juga surat Al Hujuraat (18 ayat). Durasi pembacaan suratnya yang panjang berhasil membuat posisi beberapa ma'mum yang bergerak tanda pegal. Respon ma'mum tentu beragam. Dari obrolan antar tokoh lokal di sana, cenderung kurang berkenan. "Terlalu panjang" katanya. "kasihan ma'mumnya yang ada keperluan...

Aku, Anakku dan Hujan

Gambar
“Aa Dhiyaaa....! Ukiii...! ayo segera keluar!” teriak saya dari teras rumah. Bersaing dengan suara hujan yang siang itu deras mengguyur Perumnas Karawang, Ahad kemarin. “Ada apa, Bi?” Tanya Dhiya. “Ayo, kita main hujan-hujanan!” Seru saya lagi. “Hujan-hujanan, Bi? Memang boleh??” tanya Dhiya keheranan. Tumben  abinya ngajak hujan-hujanan. Biasanya justru melarang keluar rumah. Khawatir masuk angin biasanya jadi alasan. Bisa juga khawatir dengan petir. “Iya, bareng Abi! Sekalian ajak Uki ya!” jawab saya. “Horeeee.... ayo 'Ki, kita main hujan-hujanan sama Abi!” Dhiya dengan girangnya menyambut ajakan saya dan langsung ngajak adiknya, Uki. Tak lama, saya bareng dua bocah itu berlari-lari di depan rumah. Merasakan hunjaman butir-butir air yang jatuh dari langit. Terasa memukul-mukul ringan di kepala dan sekujur badan. Terasa benar dingin dan segar. Rasanya lama sekali tidak merasakan sensasi diguyur hujan tanpa penghalang payung. Badan seakan menyatu dengan al...

Dua Yang Terabaikan

Gambar
Di tengah masyarakat yang didominasi hedonisme dan cinta dunia, seringkali kita tidak menyadari adanya sebuah kehilangan yang sifatnya non materi. Dimana kerugian tak terlihatnya berlangsung lama. Bahkan sudah turun temurun. Dianggap biasa. Sudah jadi adat. Bahkan jadi identitas. Penentang dan pengkritiknya dalam banyak kasus dianggap tak faham budaya. Tidak menghormati tradisi. Dianggap aneh. Padahal nilai kerugian itu menjangkau akhirat. Di sini saya akan menyodorkan dua hal saja yang membuat kita, ummat Islam, menderita kerugian non materi. Berupa kehilangan momentum spiritual. Kehilangan kesempatan beramal terbaik di hadapan Allah. Dimana dengan amal baik itu kita berharap rahmat-Nya. Berharap kebaikan dan surga-Nya. Apa sajakah itu? 1.        Hari Jum’at tidak Diliburkan Betapa tidak! hadits-hadits yang memuat keutamaan hari jum’at cukup banyak. Ada amalan-amalan utama di hari itu. Maka iapun disebut Sayyidul Ayyaam . Rajanya...

Kebersamaan yang Sempurna

Gambar
“Bi, jalan-jalan ya....” Kata Dhiya dan Uki, dua jagoan kecil saya. Setiap libur akhir pekan hampir selalu terlontar kalimat ini.   Mereka menyebutnya “jalan-jalan”. Bisa sekedar jalan kaki ke Galuh Mas yang jadi pasar kaget saat Ahad pagi, atau sekedar keliling naik mobil ke kota Karawang, beli es krim, terus pulang. Namun diantaranya ada yang paling pavorit: jalan kaki menelusuri sawah. Kebetulan di sebelah utara perumnas Karawang masih ada lahan sawah yang cukup luas. Lahan sawah itu kebetulan kini sedang dialihfungsikan. Ditanami ribuan pohon Jabon. Ibu Tua yang tukang bebersih di sana menyebutnya “jambon”. Kayunya untuk bahan baku kertas. Nah, saat tinggi Jabon sekitar dua meter,   barisan pohon itu menghasilkan pemandangan yang indah. Terutama   sayang kalau   tidak diambil fotonya.  Jarang-jarang di kota Karawang menjumpai pemandangan rindang seperti ini. Kini kota Karawang memang tidak seperti gambaran saya dulu yang...