Tuesday, November 20, 2012

Aku, Anakku dan Hujan




“Aa Dhiyaaa....! Ukiii...! ayo segera keluar!” teriak saya dari teras rumah. Bersaing dengan suara hujan yang siang itu deras mengguyur Perumnas Karawang, Ahad kemarin.
“Ada apa, Bi?” Tanya Dhiya.
“Ayo, kita main hujan-hujanan!” Seru saya lagi.
“Hujan-hujanan, Bi? Memang boleh??” tanya Dhiya keheranan. Tumben  abinya ngajak hujan-hujanan. Biasanya justru melarang keluar rumah. Khawatir masuk angin biasanya jadi alasan. Bisa juga khawatir dengan petir.
“Iya, bareng Abi! Sekalian ajak Uki ya!” jawab saya.
“Horeeee.... ayo 'Ki, kita main hujan-hujanan sama Abi!” Dhiya dengan girangnya menyambut ajakan saya dan langsung ngajak adiknya, Uki.

Tak lama, saya bareng dua bocah itu berlari-lari di depan rumah. Merasakan hunjaman butir-butir air yang jatuh dari langit. Terasa memukul-mukul ringan di kepala dan sekujur badan. Terasa benar dingin dan segar. Rasanya lama sekali tidak merasakan sensasi diguyur hujan tanpa penghalang payung. Badan seakan menyatu dengan alam. Sensasinya membuat rasa khawatir akan resiko  masuk angin jadi terbang entah ke mana. Yang tersisa tinggal asyiknya.

Karena sudah rata diplester, menjadikan lapangan kecil depan rumah jadi tempat asyik buat hujan-hujanan. Setiap hari memang lahan milik warga itu sudah jadi favorit anak-anak bermain. Juga parkir mobil tetangga dan para tamu dari luar perumnas. 

Saat hujan-hujanan seperti itu jadi ada kesempatan buat teriak-teriak. Nggak perlu ada jaim. Bebas dan lepas. Inilah kesempatan menjadi dekat dengan anak-anak. Saling siram. Saling kejar. Setelah puas bermain,  akhirnya sayapun melirik Si Macan yang dari pagi diparkir di luar pagar. Sambil hujan-hujanan juga, si macan saya cuci sampai bersih. Lumayan, bisa menghemat biaya cuci steam, he he 

Kebersamaan ayah dan anak adalah salah satu isu yang sering mengemuka dalam setiap diskusi parenting. Terutama karena semakin seringnya terdengar kenakalan anak dan remaja. Di manakah peran ayah dalam kasus ini? Cukupkah dengan sudah menanggung biaya hidup mereka?

Salah satu isu hangatnya adalah gejala Father Hunger, alias “lapar Ayah” di mana anak tidak merasakan kehadiran ayah di dalam jiwanya. Sepi dan terasa jauh.  Banyak riset membuktikan keterkaitan erat antara peran ayah dan perilaku anak laki-lakinya di kemudian hari. Tidak heran bila psikolog terkenal John Gottman mengingatkan kita bahwa anak-anak, yang ayahnya tidak terlibat dalam kehidupan mereka, akan menghadapi kesulitan yang lebih besar untuk menemukan keseimbangan antara ketegasan laki-laki dan pengendalian diri. Mereka mengalami kesulitan mempelajari pengelolaan emosi, penundaan keinginan, dan keterampilan-keterampilan hidup lain yang dibutuhkan anak laki-laki untuk mencapai persahabatan yang erat, kesuksesan akademik, dan pencapaian karirnya. Dampak-dampak negatif itulah yang sangat mungkin dialami oleh anak laki-laki yang ''lapar'' akan figur ayah. Demikian yang sempat saya baca dari situsnya mizanpublishing.

Sebagai ayah dari lima anak, tentu isu di atas menjadi bahan renungan. Menjadi kekhawatiran. Takut tidak bisa jalankan amanah. Sudah terbayang pertanggungjawabannya kelak di hadapan Sang Khalik. Maka saat ingat hal itu, munculah pencarian gagasan di kepala. Kira-kira apa ya,yang bisa diperbuat agar bisa dekat dengan anak-anak? Kebetulan, bertemulah dengan tips main hujan-hujanan bareng anak-anak di atas. 

Sebenarnya ini juga bukan ide asli sendiri. Tapi pernah dengar dari Nyonya Permaisuri. Katanya ada anjuran agar para ayah coba main hujan-hujanan bareng anak. Tapi lupa siapa yang menganjurkan. Katanya, sensasinya tak terlupakan seumur hidup bagi si anak. Nah, kenapa tidak dicoba, bukan?  

Efek masa depan memang belum terlihat. Tapi besoknya, si Dhiya dan Uki bolak balik minta main hunjan-hujanan lagi.

Allahumma shayyiban-naafi’an. Semoga hujan ini membawa manfaat. Itulah do’a yang Rasulullah ajarkan. Selain buat kebaikan alam, semoga baik juga buat kita. Salah satunya mendekatkan kita dengan anak-anak.

Karawang, 21 Nopember 2012

2 comments:

  1. wah siap untuk dipraktekkan nih ke Nayla anak saya ^_^

    ReplyDelete

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...