Monday, November 5, 2012

Peran Ayah Untuk Generasi Hebat




Sejarah mencatat beberapa contoh dari generasi hebat Zaman Nabi Muhammad dan Khalifah sesudahnya. Beberapa contoh berikut menggambarkan hebatnya generasi muda waktu itu, diantaranya :
  1. Ali baru berusia 10 tahun saat menjadi tameng Rasulullah ketika akan berangkat hijrah. Resikonya adalah terbunuh. Di usia belia itu Ali sudah siap syahid. Anak yang luar biasa bukan?
  2. Seorang Zaid bin Tsabit saat usia 9 tahun sudah ingin maju ke medan perang, padahal pedangnya lebih panjang dari tubuhnya. Saat tidak diijinkan, dia sedih dan mengadu ke uminya. Uminya kemudian menganjurkan jihad dengan pena. Sejarah kemudian mencatat bahwa ia adalah sekretaris Rasulullah yang mencatat wahyu yang turun. Pada usia 21 tahun dapat amanah strategis dari Khalifah Abu Bakar untuk mulai membukukan Al Quran.
  3. Umar Bin Abdul Azis berusia 24 tahun saat menjadi gubernur Madinah. Kemudian usia 37 tahun jadi khalifah.
  4. Muhammad Al Fatih memimpin pasukan muslim menaklukan Konstantinopel saat usia 21 tahun.
Bagaimana dengan anak-anak kita?

Bukan sebuah pesimistis, tapi ada beberapa gejala mengkhawatirkan yang layak menjadi bahan buat early warning bagi orang tua. Apa saja?

Generasi Langit yang Pasrah. Artinya generasi yang gampang terombang ambing. Ungkapan terserah ente dah, ya gitu deh, ya....gimana gitu, sepertinya biasa saja bukan? ternyata ini adalah indikasi awal yang perlu diwaspadai karena bisa mencerminkan dari generasi yang tak mampu punya sikap tegas, anak yang tidak bisa berkata tidak!. Dalam jangka panjang generasi yang tidak berpendirian begini hanya akan jadi follower.

Hasil STERILISASI, bukan IMUNISASI. Anak-anak generasi sekarang dikhawatirkan karena mereka kering pengalaman, lebih banyak di depan layar hape, televisi dan komputer. Berjarak dan asing dari tetangga, dan realitas. Terproteksi. Sedangkan input ortu dan lingkungan adalah ungkapan harus ini nggak boleh itu!. Tidak terkondisikan untuk berani bertanya. Ini adalah ciri pengasuhan dengan pola indoktrinasi yg kuat.

Beramal untuk Orang Tua. Mereka menjadi anak soleh di depan orang tua, tapi error di belakang. Mereka bilang Yang pengen hafal Quran kan Abah, bukan saya
Bisa beragama tapi tak suka beragama. Bisa baca Quran tapi tak suka. Bisa Sholat tapi tidak suka sholat. Bisa doa tapi tidak suka doa. Bisa pake jilbab tapi gak suka pake jilbab, maka amat mudah bagi mereka untuk melepasnya lagi.

Agar anak berkarakter tangguh
Agar anak berkarakter tangguh, maka para ayah janganlah lari dan abai. Berikut yang harus disimak para oarang tua :

1. Pengasuh yang lengkap (ayah dan bunda hadir dalam jiwa anak).
Kita lahir di negeri yg menyerahkan pendidikan anak kepada ibu. Ibu memang madrasah pertama, tapi ingat ayah adalah kepala sekolahnya. Indonesia praktis adalah negeri tanpa ayah, NII (negeri ibu-ibu) karena masih asingnya para ayah dari dunia pengasuhan anak.

Padahal....

Ibu takkan bisa menggantikan peran ayah. Anak membutuhkan dua sayap. Sayap pengasuhan dari ayah dan ibunya. Tak boleh hanya satu, idealnya begitu. Karena itulah fitrah anak yang Allah titipkan dalam jiwa raganya. Sayap ibu tak bisa digantikan oleh sayap ayah dan demikian sebaliknya." (Dikutip dari buku "RAHASIA JADI AYAH HEBAT" karangan Irwan Rinaldi).

Contoh, yang bercerita gagahnya Umar bin Khatab adalah ibunda yg gemulai. Secara kognitif sudah sampai pesan tentang Umar yang gagah. Tapi bagaimana seorang anak mendapatkan gambaran utuh seorang Umar bin Khatab ? Maka ayahlah yang harus memberi contoh ekpresi kegagahan seorang Umar bin Khatab.
Kesibukan ayah menjadikan banyak kita yang yatim sebelum waktunya. Yatim secara psikologis. Terjadi fenomena Father Hunger, ketiadaan ayah pada jiwa anak. Maka jiwa anak yang jauh dari ayahnya kelak akan jadi generasi minder, peragu. Praktis ayah sekarang hanya berfungsi jadi mesin ATM. Hanya jadi tempat meminta uang.

Solusi bagi ayah agar dekat dgn anak

Berikut ada beberapa tips agar ayah dekat dengan anak, walau sulit bagi sebagian ayah, namun mari kita coba

Pagi, ayahlah yang membangunkan anak, sampaikan kalimat-kalimat yang positif, seperti kalimat, bacaan quran, kata-kata motivasi dan penghargaan.

Siang, sempatkan telpon atau SMS kalau memungkinkan.

Malam, menjelang tidur, sampaikan lagi kalimat-kalimat positif, kalimat tauhid, kisah atau baca kitab suci. Juga evaluasi tentang kegiatan hari itu, serta nasihat.

Waktu libur, jalin kebersamaan yang berkualitas dan interaktif

Waktu anak sedih, ayah harus hadir. Bahkan Nabi Muhammad sempat menghibur seorang anak yg kehilangan burung pipit.

Waktu aktualisasi, saat pentas, pembagian raport, ikut lomba dll usahakan ayahlah yang datang dan hadir.
Teladan Rasulullah, saat ayahanda Abdullah wafat, Muhammad kecil lantas diasuh oleh kakek lalu ke paman beliau. Karena anak memang perlu sosok ayah.

Spirit pengasuhan di Al Quran ternyata lebih ke spirit keayahan, 17 ayat dialog pengasuhan di Al Quran, 14 ayat diantaranya adalah dialog ayah-anak, sedangkan dua ayat lainnya antara ibu dan anak.
Contohlah Ibrahim. Ia adalah AYAH HEBAT dalam sejarah, krn :
  • Dua anaknya juga menjadi Nabi (Ismail&Ishak)
  • Mengasuh dari jauh dg doa yg khusyuk --> (AYAH di Palestina, anak&istri di Mekah)
  • Memilih istri yg pandai mengasuh --> (Siti Hajar terkenal dengan kisah Shofa&Marwa)
  • Memilih tmpt tinggal yg baik --> (dkt Masjid)
  • Selalu mengajak anaknya berdialog dlm setiap keputusan (QS.37: 102)
  • Menegakkan sholat utk diri&keturunannya

2. Habis Habisan Di Usia Dini

Kadang anak usia dini mengalami kesalahan pengasuhan. Pertama anak usia pra sekolah disuruh belajar ala anak sekolah. Padahal haknya adalah bermain. Perhatian ayah pada anak juga banyak yang tidak memadai. Ayah hanya fokus pada cari uang agar kelak kuliah kedokteran, contohnya. Maka memberi perlakuan yang terbaik pada usia dini adalah investasi jangka panjang orang tua. Kesempatannya pun tak akan terulang kembali.

3. Pengajaran berbasis hands on minds on, praktek teori, pengalaman hidup
Karakter banyak terbentuk dari pengalaman hidup. Maka memberikan anak pengalaman terbaik menjadikannya berkarakter terbaik. Rasulullah di usia belia sudah belajar secara alami dari pengalaman menggembala kambing, dan kemudian berdagang. Walaupun beliau tidak bisa baca tulis. Belajar dari pengalaman hidup menjadikannya pemimpin dunia. Bukan berarti anak kita nggak perlu bisa baca tulis. Tapi memang Nabi Muhammad menjadi contoh terbaik dari proses pembelajaran menjadi insan teladan.

4. komunikasi yang patut atas dasar :
- Pengkuan
- Bimbingan
- Perbaikan
Mengapa Ismail mau disembelih ayahanda Ibrahim? Menurut Sayid Qutb, disamping karena faktor kuatnya aqidah yang tertanam, juga karena Ismail dihargai. Caranya? Dengan diajak dialog oleh Ibrahim. Karena secara manusia, di ayat tentang kisah penyembelihan Ismail, pada dialognya tersirat bahwa Ismailpun memiliki rasa takut yang manusiawi. Tetapi itu tereliminasi oleh sikap seorang ayah Ibrahim yang sangat apresiatif.

Penutup

Sekian dulu ya...
sambil introspeksi diri...
mudah-mudahan Allah senantiasa memimbing kita jadi ayah yang baik
Amiin...

Cikarang, 10 April 2012,
#terima kasih kepada Bp Bendri Jaisyurahman dari Yayasan Langkah Kita, Depok atas uraiannya ttg peran ayah yang begitu inspiratif..

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...