Sunday, December 9, 2012

Antara Lima Anak dan Aktivitas Keluar Rumah

my Fifth Baby



Menjelang Ramadhan tahun 2012 ini, saya mendapat amanah baru: Anak kelima. Perempuan. Anak kelima yang lahir dengan (H2C) kuadrat: Harap-harap Cemas yang berlipat. Karena Permaisuri sudah masuk usia resti: resiko tinggi. Sudah emak-emak koq masih harus hamil? Namun, Alhamdulillah, takdir Allah akhirnya memberi “hadiah” itu melalui persalinan normal. 

Kata hadiah inilah yang saya lekatkan di kepala. Agar mensikapinya bisa lebih rileks. Agar husnudzan pada Sang Pencipta tetap terjaga. Saya memilih demikian karena banyaknya anak sering menjadi ujian bagi seorang ayah. Alasan banyak anak potensial jadi penghambat langkah. Menurunkan militansi. Akan ada alasan : fokus untuk keluarga. Kalau ditambah dengan ”khan keluarga juga amanah dari Allah”, biasanya membuat melempem kehadiran di luar rumah. Maunya ulukutek di rumah terus.  Menghadiri pengajian misalnya. Padahal itu untuk menyehatkan ruhani kita sendiri, bekal utama kepemimpinan seorang ayah. . Nah, kalau disikapi sebagai hadiah, maka akan terasa lebih ringan kalaupun harus meninggalkan rumah. Karena kita yakin, saat di luar rumah, Sang Pemberi Hadiah, pasti akan menjaganya. Tak usah risau dengan julukan "jarum super" alias jarang di rumah suka pergi. Kalau untuk tujuan kebaikan dan sudah saling dukung dengan pasangan.Insya Allah hidup jadi berkah. Karena tabiat dasarnya :persoalan hidup jauh lebih banyak dari waktu yang dimiliki. Maka saat terlalu banyak waktu luang mestinya jadi warning kalau kita banyak menyiakan waktu. Bahagialah jadi orang sibuk dengan aktivitas kebaikan. Bahkan hingga lelah dan letih. Seakan waktu tujuh hari sepekan terasa kurang. KArena itu tanda waktu kita terpakai secara positif.


Suasana Mabit di Masjid Raya Peruri, Karawang
Seperti Sabtu kemarin, ada acara Mabit (Malam Bina Iman dan Taqwa, acaranya menginap) di Masjid Raya Peruri. Karawang. Ustadznya dari Jakarta dan Karawang. Ini acara untuk pembekalan menjelang Ramadhan. Nah, kalau saya berangkat Mabit berarti harus libur menemani si Kecil. Biasanya jam satu malam mulai begadang gantian bersihin pup, BAB, gantikan popok dan gendong. Tapi Nyonya nyuruh berangkat. “Biar Qiyamullailnya bisa full 11 rakaat”, katanya. Duh, bidadariku, tahu saja kelemahan diriku yang sering tertatih dan ala kadarnya tiap kali menyongsong Ramadhan.

Biasanya kalau acara bermalam, saya mengajak Imad, anak saya yang kedua. Imad sangat senang kalau diajak mabit.
Tapi malam itu nggak jadi ikut, gara-garanya saya berangkatnya telat karena keburu ada tamu yang jenguk si Kecil. Si Imad jadinya ngambek, pergi ke kamar dan tertidur. Agak menyesal juga, karena mabit bareng Imad adalah salah satu acara “kebersamaan” favorit. Padahal acara kebersamaan sebelumnya juga gagal. Si Imad keburu ke tukang cukur karena sudah terlalu gondrong. Padahal, tadinya saya yang mau cukur sendiri.  Karena sensasi anak dicukur oleh bapaknya sendiri adalah hal indah nan tak terlupakan nantinya. Ya sudah lah, mudah-mudahan kalau gondrong lagi bisa sempat saya cukur sendiri.

 



Akhirnya, berangkat menjelang pukul sepuluh malam. Sebelum sampai di Masjid Peruri, jalanan Galuh Mas ternyata macet parah. Ramai sekali. Rupanya sedang ada konser Band Wali. Dari jalan terlihat lautan anak muda yang tumpah ruah. Bahkan ada seorang bapak yang ngajak anak kecilnya nonton konser. Boncengan di atas motor.

Panggung konser juga terlihat megah. Permainan lampu sorot membuat panggung jadi begitu gemerlap warna warni. Dua buah layar raksasa di kiri dan kanan panggung serta sound-system yang menggelegar benar-benar memanjakan pengunjung. Vokalis Wali terdengar jelas melantunkan bait lagu yang ada "astaghfirullah al adzhim...". Iramanya memang membuat badan penonton bergoyang.

Saya tidak tahu maksud penyelenggara. Apakah dalam rangka menjelang ramadhan sehingga Band Wali yang diundang, sehingga ada pesan religius yang sampai ke penonton atau hanya karena memang sedang ngetrend saja. Yang jelas, panggung konser itu berhasil jadi magnet bagi ribuan remaja.

Karawang yang dekat dengan ibukota memang mudah menghadirkan show artis ibukota yang biasa dilihat di Televisi. Selain Wali, dalam satu tahun terakhir nggak terhitung artis yang mampir ke bumi Pangkal Perjuangan ini. Dari Jiji, Iwan Pals, ST dua gelas, Perinces, Slang hingga Ajis Gagap. Ada juga karena lokasi di Karawang jadi tempat syuting sinetron Cecece. Kuburan elit San Diego Hill jadi jadinya didatangi boyband lokal Smest (maaf saya tidak menyebut merek dengan jelas, nanti dikira promosi, he he)


Suasana Tahajjud berjamaah
Masjid  Raya Peruri hanya berjarak 300 meter saja dari konser Wali. Dari lantai dua Masjid bagian teras yang terbuka akan terlihat hingar bingar konser. Suasana di dalam masjid jelas berbeda dibanding di depan panggung itu. Kalau di sana pada jingkrak-jingkrak, sedang di dalam masjid penuh kekhusyukan. Duduk bersimpuh mendengar lantunan ayat suci atau tausiyah penceramah. Di situ bicara akhirat. Tentang keutamaan Ramadhan dan bagaimana kita mengisinya jadi ladang ibadah dan memanen pahala berlipat. Dua tempat beda suasana. Seakan mempertontonkan dua kubu yang saling berebut pengaruh. Mana yang lebih diminati. Di sana dakwah ke arah kesenangan duniawi, di sini dakwah kepada kekhsyukan ukhrawi.

Apakah takdir kebaikan memang selalu minim pengikut ataukah upaya para da’i yang belum canggih men
yampaikan ajakan? Hingga jelas beda kuantitas itu. Di Masjid Peruri itu “hanya” ada 300-an peserta. Sedangkan di sekitar panggung konser ada ribuan manusia yang menyemut.

Cerita tentang kehidupan akan selalu sama : ada pemenang dan pecundang. Diantara pemenangnya adalah tiga anak remaja SMA yang saya temui di teras masjid. Ternyata mereka bisa mengalahkan kesenangan yang sesaat itu. Lebih memilih duduk mendengar taushiyah
  ketimbang menghadiri konser musik. Sayangnya, jumlah remaja yang ikut hanya segelintir. Kebanyakan yang hadir itu jenggotnya udah pada panjang dan ubanan. Itu tanda alam bahwa tak lama lagi akan jadi abah-abah.


Malam itu saya kembali menikmati qiyamullail berjamaah. Imamnya ustadz muda yang hafidz dan fasih baca Qur’annya. Saya memang memerlukan datang ke acara seperti ini karena tahajjud berjamaahnya mampu menguatkan semangat yang sedang kendur.   

Ustad Solmed di Masjid Al Jihad, Karang Pawitan, Karawang

Besok siangnya, sekitar pukul sembilan saya ajak si Teteh dan si Uki meluncur ke Al Jihad, Karang Pawitan. Ada undangan menghadiri ceramah Ustadz Solmed. Saya menyempatkan hadir karena undangannya disampaikan langsung oleh kawan saya yang jadi panitia. Namanya, Mas Arief Widieharto, kader muda NU yang sangat enerjik.   Juga agar Si Teteh mengenal  “dunia lain”, karena biasanya hanya bergaul dengan anak-anak di Sekolah Amani, atau anak-anak Remas Blok T Perumnas. Saya juga ingin menyaksikan geliat kalangan muda Nahdliyin Karawang yang kini seperti tengah mengalami kebangkitan lagi itu.  

Saat masuk ruang utama Masjid Al Jihad itu anak muda Nahdhiyin masih sedikit yang hadir. Walaupun penyelenggaranya IPNU dan IPPNU, tapi yang hadir banyak  dari Fatayat dan pengurus NU. Ada juga beberapa dari FPI, lengkap dengan uniform gamis putih. Ternyata, menurut Ustadz Solmed, mengutip Habib Riziek, FPI itu adalah NU yang “agak nakal”.   Hari itu Bupati Karawang, H Ade Swara yang berkesempatan hadir menyampaikan sambutan sebelum Ustadz Solmed menyampaikan tausiyahnya.

Kalau dilihat-lihat, dibanding Mabit di Masjid Peruri ternyata ada kesamaannya. Yaitu, anak muda yang hadir relatif sedikit dibanding para senior.  Ya....di dua tempat itu saya merasakan dua keprihatinan yang sama: Anak-anak remajanya pada kemana?  Karena itulah saya ajak Si Teteh ke sana...

Karawang, 9 Juli 2012

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...