Tuesday, January 15, 2013

Caper 12-13 # 1 : Rute terjauh, Track Tersulit dan Kebersamaan yang Sempurna






Alhamdulillah, akhir tahun 2012 hingga awal 2013 ini saya bisa menikmati lagi suasana kampung halaman kedua : Probolinggo. Mudik libur akhir tahun sekaligus menghadiri pernikahan adik nyonya yang dapat jodoh seorang wartawan Republika asal Jakarta. 

Karena ingin kebersamaan, juga dalam rangka berhemat kembali seisi rumah pindah sementara ke Jawa Timur. Berangkatnya juga bareng-bareng satu mobil. Ditambah seorang keponakan yang mahasiswa IPB, maka ada delapan kepala berjejalan di dalam satu mobil. Untungnya kabin Phanter yang lapang bisa menampung seluruhnya dengan leluasa. Walau masih ditambah seabreg barang bawaan. Mulai dari pakaian, logistik, hingga oleh-oleh. Sayapun berubah profesi sementara : jadi sopir AKAP.

Untuk persiapan, kembali harus membawa si Macan ke bengkel buat tune up. Ban juga diganti karena sudah waktunya. Juga rem. Momen kebetulan begini memang agak melegakan. Saat kondisi prima, saat akan dipake perjalan jauh. Ini juga sebentuk ikhtiar dalam persiapan. Karena kalau terlalu mengikuti kekhawatiran, maka tak akan pernah saya nyetir sendiri menempuh rute 700-an km itu. Pulang-pergi lagi. Apalagi tak ada sopir cadangan. Bagaimana kalau malam-malam di jalur sepi dan jauh dari bengkel tiba-tiba mesin mogok? Bisa kiamat! Tapi saya selalu menancapkan keyakinan dan tawakkal. Kalau kita sudah melakukan prepare yang memadai, serahkan saja pada Allah. Insya Allah hati mantap dan tenang.

Fathia n Nafiza @ Rest Area Tol Palikanci-Cirebon
Rute yang akan ditempuh kali ini adalah jalur Pantura Jawa. Sebelumnya kalau mudik ke Probolinggo selalu lewat jalur tengah. Karena biasanya mampir dulu ke Pondok Gontor Puteri di Mantingan, Ngawi, Jawa timur. Mampir menengok atau sekalian mengikuti agenda adik nyonya yang mondok di sana. Maka saat di Semarang, rute berbelok ke selatan. Melewati Ungaran, Salatiga, Solo, dan Sragen. Kemudian dilanjut melewati Madiun dan Mojokerto hingga Gempol. Di titik ini bertemu kalau kita melewati jalur Pantura lewat Surabaya. 

Agak berbeda dengan sebelumnya yang selalu menyalakan GPS di Nokia E71. Kali ini ingin mengandalkan ingatan. Ingin lebih menghayati jalanan yang dilewati. Saat di Tuban, jalur normal mestinya belok kanan arah Bojonegoro, baru masuk Gresik dan langsung masuk tol Gresik-Surabaya. Karena keasyikan menelusuri jalur utara itu, jalur yang ditempuh malah bablas hingga pantura Gresik. Melewati Paciran hingga bertemu lokasi WBL (Wisata Bahari Lamongan). Jalurnya memang sepi. Tapi terhibur dengan pemandangan indah pesisir pantura Gresik. Sepanjang jalan terlihat hijau. Jadinya ini track terjauh menuju Probolinggo.


Setelah track terjauh, saya juga mengalami track tersulit sepanjang menjalani karir sebagai sopir. Itu saat melewati jalur berkelok menuju Gunung Bromo. Ini saya tempuh setelah tiba di Probolinggo, tepatnya di penghujung 2012, tanggal 31 Desember 2012. Tadinya mau ke air terjun Madakaripura, namun karena cuaca sudah mendung dan biasanya tidak boleh masuk ke area air terjun karena dikhawatirkan ada banjir di hulu, maka saya ubah rute ke Gunung Bromo. Saya berfikir rutenya tidak terlalu sulit, karena memang pernah ke sana dua kali. Namun waktu itu terasa nyaman-nyaman saja, karena statusnya sebagai penumpang. Capek sedikit tinggal merem. Padahal ternyata jalur berkeloknya sangat tajam. Saat pegang setir terasa sekali suasana menegangkannya. Apalagi di belakang ada tujuh anak. Empat anak sendiri dan tiga keponakan. Perasaan juga koq tidak nyampe-nyampe. Padahal sudah puluhan kelokan dilewati. Jumlahnya saya tak tahu persis. Gak sempat hitung jumlah kelokan. Yang jelas mah banyak sekali.

Imad @ Mount Bromo, 31 Des 2012

Kalau saat naik cuaca cerah, sehingga seluruh pemandangan kiri-kanan bisa terlihat indah dan eksotiknya. Nah saat turun gunung, tantangannya berbeda. Saat itu hujan turun dan kabut turun. Pandangan hanya berjarak lima meter saja. Maka rute turun dan berkelok saya tempuh dengan perlahan-lahan. Mengandalkan gigi persneling 1 dan 2, serta rem yang pakem.

Satu hal yang saya rasakan dari perjalanan jauh itu adalah  kebersamaan yang terasa begitu sempurna. Walaupun semua anggota keluarga ada di rumah setiap hari, kumpul ngariung, namun seringnya aplusan. Ada yang datang ada yang pergi. Ada kesempatan ngariung sebentar saat menjelang tidur, tapi hanya sebentar. Inilah saat seluruh anggota keluarga ada dalam satu ruangan kabin. Jarak pulang pergi masing-masing 700 km dan ditempuh rata-rata 24 jam itu benar-benar memunculkan kebersamaan yang terasa dan dirindukan. Ini terasa saat sudah pulang ke Karawang dan berkendara di dalam kota yang sebentar saja. Rasanya ingin lagi tour jarak jauh.


Saya pun merasa benar jadi pemimpin seutuhnya. Karena sepanjang perjalanan saya yang nyopir, saya seperti dititipi enam nyawa, tujuh dengan punya sendiri. Tidak boleh lengah dan ceroboh. Lengah sedikit, bisa menyebabkan kecelakaan fatal. Karena di jalan raya, di tengah arus kendaraan yang saling berpacu. Segala kemungkinan bisa terjadi.  Kalaupun kita sudah hati-hati, belum tentu kendaraan lain juga hati-hati. Di saat seperti itu terasa betul kalau hidup kita ada di tangan-Nya. Perjalanan seperti ini memang menjadi sangat spiritual. Terasa sekali kedekatan dengan Sang Pemilik Nyawa. Karena jangan heran kalau do’a orang yang safar adalah salah satu do’a yang makbul.

#bersambung




No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...