Tuesday, January 8, 2013

Mudik's Note # 4 : Para Petarung



sumber : internet

Bila kita jeli, di sekitar kita akan banyak ditemukan orang-orang yang menakjubkan dalam bertahan hidup. Orang-orang yang berdaya tahan luar biasa. Berdaya juang hebat. Mandiri. Walau tidak terlihat dan terpinggirkan. Bahkan disepelekan dan tak dihiraukan. Mereka memang bukan tokoh atau selebritis. Tersembunyi di balik hiruk pikuk. Di balik ukuran kemuliaan versi manusia. Hingga nyaris mereka tenggelam. Ada  dan tidak adanya tidak diperhitungkan.

Namun, Allah memang sudah punya ukuran yang ajeg. Juga adil dan tidak main-main. Itu cerminan Ar-Rahman. Maka bagi siapa saja yang memakai kacamata Kasih Sayang-Nya, maka kemuliaan dibalik debu itu akan tersingkap. Berubah jadi decak kekaguman. Jadi ibroh bagi siapa saya yang mau mengambil pelajaran. Jadi cermin bagi siapa saja yang mau bermuhasabah. Terutama tentang  syukur dan sabar.

Diantara mereka itu bahkan orang yang tak jauh dari kita. Kerabat kita. Bisa jadi karena jarang silaturahim dan enggan memasang radar kepedulian, kita jadi tidak begitu faham. Beberapa diantara mereka itu saya temui saat mudik edisi akhir tahun 2012. Saat acara kumpul-keluarga waktu walimahan pernikahan adik-nyonya.

Pertama, Mbah Maron. Ia berusia sekitar 70 tahun.  Mantan kepala desa era Suharto tahun 90-an. Ia tinggal di sebuah rumah di pelosok Desa Maron Kidul, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo. Perjalanan dari jalan raya jalur Pantura bisa ditempuh dua puluh menit naik mobil atau motor. Tempatnya tinggalnya di pinggir jalan tapi tidak dilewati angkot. 

Usia segitu biasanya akan jadi tanggungan anak-anaknya. Sudah tak mampu mencari nafkah. Tapi, Mbah Maron ini lain. Siapa sangka kalau penghasilan bersih setiap harinya minimal 300 ribu. Penghasilan sebulan bisa mengalahkan pegawai baru di Kementerian Keuangan yang sudah remunerasi. Dan itu dari hasil tangannya sendiri. Ya, keahlian memijatnya ternyata diterima masyarakat. Setiap hari, kebanyakan pagi dan sore, antri mereka yang ingin merasakan pijatan si Abah memenuhi teras rumah. Kebanyakan anak bayi dan balita. Sebelum pulang balik ke Karawang, saya sempat merasakan nikmatnya dipijat Si Mbah. Entah karena sugesti atau memang efek pijatan, alhamdulillah perjalanan pulang ke Karawang bisa dilalui tanpa hambatan apapun. Badan fit hingga finish. Bahkan tanpa kopi, tanpa minuman energi.

Kedua, Mbak Endang. Ia janda yang ditinggal wafat suaminya tiga tahun lalu. Meninggalnya tanpa didahului sakit parah atau kecelakaan. Ia ditinggal pergi tanpa keahilan dan tanpa pekerjaan. Namun, musibah berat ini berhasil merubah Si Zero jadi Sang Hero. Dimulai saat ia bekerja di perusahaan catering. Semangat belajarnya membuat ia menjadi mahir membuat aneka resep makanan. Kini  ia manjadi chef andalan perusahaan itu. Punya keahlian yang sukses mengentaskan hidupnya dari keterpurukan. Kini ia bisa tegak menatap masa depannya.

Ketiga, Mbah Yang. Ia nenek 8o tahunan. Bisa bertahan hidup dengan tangan sendiri. Ia juga hidup seorang diri di rumah bambunya.  Keahliannya sama dengan Abah Maron, memijat. Namun karena tenaganya sudah jauh berkurang, “omzet” dari memijatnya hanya cukup untuk membiaya hidupnya sendiri. Biasanya saya meminta Mbah Yang ini memijat kalau lagi pulang ke PMI (pondok Mertua Indah :) ). Namun melihat usia yang sudah sepuh dan lemah, saya jadi tak tega. Jadinya, saya ganti upah memijatnya dengan dengan oleh-oleh.

Keempat, ada lagi seorang Mbah Perempuan yang saya lupa namanya. Ia juga sudah sepuh, 65 tahunan. Ia SAudara Mbah Yang di atas. Ia bisa bertahan hidup dengan mencari daun pisang dan menjualnya di pasar. Daun pisangnya bukan dari pohon milik sendiri. Tapi minta keridhoan dari tetangga-tetangganya yang punya pohon pisang. Begitulah ia tiap hari bertahan hidup.

Alam pedesaan memang membuat mereka relatif panjang umur, karena makanan untuk konsumsi serba alami. Juga gerak fisik. Namun, keadaan ekonomi dan serba keterbatasan, membuat masa juang mereka untuk bertahan menjadi relatif lebih panjang juga. Menyisakan PR bagi yang mampu. Kelak dari merekalah muncul aneka pertanggungjawaban bagi Si Mampu :
Mana zakatmu? 

Mana kepedulianmu? 
Bukankah kamu muslim?

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...