Pewarisan Dakwah dan Kedekatan Ayah-Anak




Keberlanjutan estafeta dakwah adalah salah satu isu penting yang selalu menyita perhatian para penyerunya. Memang mustahil sebuah misi besar luput dari agenda ini. Maka secara sadar  tarbiyah-pun kemudian dijadikan tulang punggungnya. Jargon bahwa “Tarbiyah memang bukan segalanya, tapi tanpa tarbiyah segalanya tak bisa kita raih” tentu sudah kita akrabi sejak memasuki “lingkaran pekanan”, bukan?

Salah satu isu penting dalam tema pewarisan ini adalah bagaimana anak-keturunan para penyeru itu bisa menjadi pewarisnya. Bahkan para nabi mencontohkan  dengan gamblang. Baik dalam doa. Juga dalam laku nyata. Bahwa pewaris paling dekat adalah anak-keturunan.  Dan para da’i pun dambakan hal yang sama. Bahwa anak-keturunan mereka kelak adalah pembimbing ummat di masanya.  

Maka, sebuah kemestian sekaligus tanda berjalannya pewarisan perjuangan kalau anak kader sudah bisa ikut halaqah. Kemudian mulai muncul generasi penghafal Qur'an. Diantara mereka banyak tercatat yang berprestasi di bidangnya dengan tetap menjaga keshalihan. Mulai aktif beramal jama’i. Aktif di organisasi. Sudah akrab dengan baksos. Sudah muncul empati hingga sediakan tabungan buat sahabatnya di Palestina. Ada juga yang sudah akrab dengan demo :D

Tentu, disamping optimisme yang menyeruak tatkala menyaksikan parade success story anak-anak kader di atas, para pejuang dakwah tetap wajib mencermati fakta-fakta yang berbeda. Bahwa ternyata tidak otomatis anak-anak kader dakwah mampu mewarisi perjuangan abi-uminya. Diantaranya ada anak kader yang terlibat kenakalan, misal tawuran atau bahkan tindak kejahatan. Wajar sebagai jamaah manusia. Walaupun saya kira relatif jarang terjadi.

Tetapi, yang saya coba angkat bukan kasus "luar biasa" di atas. Saya lebih tertarik dengan kasus yang biasa  terjadi dan sering tidak diantisipasi. Karena dianggap tidak berbahaya atau "masih bisa diupayakan". Padahal sudah masuk ke ruang "kegagalan regenerasi atau pewarisan". Yaitu, ketika :

- anak kader belum juga aktif dalam dakwah walau sudah kuliah
- anak kader belum menikmati agenda tarbiyah walau abi umi-nya para jagoan halaqah
- anak kader tidak jadi penggerak anak-anak sebayanya, justru cenderung cuek dan enggan bergaul.
- aktivitas anak kader sama dengan anak-anak pada umumnya. Tidak ada beda. Hanya jadi “anak baik-baik” saja.
- Anak kader justru ada yang phobia mendengar istilah "halaqah" atau "liqo". Karena mereka merasa ayah bundanya telah “dirampas” oleh banyaknya agenda dakwah.

Tentu akan banyak faktor penyebabnya. Namun, di sini saya tidak akan jadikan faktor lingkungan atau faktor luar lainnya sebagai objek bahasan. Walaupun kerap jadi faktor yang berpengaruh. Karena sudah mafhum bahwa benteng akhlaq anak ada di keluarga, maka saya persempit pembahasan dan langsung ke peran orang tua. Saya juga tidak akan bicara konsep yang memerlukan analisis mendalam dan referensi bertumpuk. Saya hanya berbagi dari sedikit renungan selintas dari seorang ayah, yang merasa mengalami kegagalan di sana sini.

To the point ya, kalau terjadi hal-hal di atas, dan faktor keluarga jadi fokus permasalahan, arah jempol kita lantas diarahkan ke siapa? ke AYAH atau ke IBU? ABI atau UMI-kah sebagai sebab?

Kenapa harus memilih salah satu?  Memang bisa sih kedua-duanya. Tetapi ada "sesuatu"  yang menjadikan saya tertarik mengajukan pertanyaan pilihan di atas. Bahwa ada yang paling bertanggung jawab pada munculnya masalah pada proses regenerasi dakwah di keluarga kader.

Nah, kalau saya sendiri yang menjawab, maka jempol kanan saya akan saya arahkan ke para AYAH. Ke para ABI!

Koq para ayah?

Hemat saya, masalah di atas memang pantasnya kita arahkan ke para ayah untuk dicari jawabannya. Ini bukan berarti saya suami yang takut istri atau ingin dipuji para ummahat ya… Jawaban saya tersebut karena saya seorang ayah. Terutama lebih karena faktor ayah sebagai pemimpin keluarga. Sebagai pemimpin maka ia harus tanggung jawab atas masalah yang ada di keluarganya.

Disamping karena posisi pemimpin itu, juga ada teks hadits yang dengan jelas menyatakan kalau pihak yang sebabkan anak yang lahir nan fitri itu jadi Yahudi, Nasrani atau Majusi adalah  para bapak. Coba saja cek readsional hadits " Kullu mauludin yuuladu 'alal fithrah.... fa abawahu yuhawwidanihi, aw yunashshiraanihi aw yumajjisanihi...". Siapa yang sebabkan sang anak jadi menyimpang dari fitrahnya? para bapak bukan?

Juga, bukankah dialog parenting di Al Qur'an lebih sering dimuat antara ayah dan anak? Ada Ibrahim dan Isma'il. Ada Yusuf dan Ya'qub. Ada Keluarga Imron. Ada Nuh dan anaknya. Ada Lukman dan puteranya.
Maka tak salah kalau salah satu alasan keberadaan ayah adalah pembimbing anak-anaknya. Sehingga selamat agamanya. Itulah yang saya pernah dengar dari asatidz yang concern menyadarkan pentingnya pengasuhan yang lengkap oleh ayah dan bunda.

Di sisi lain, para Bunda atau Ummahat menurut saya relatif sudah memenuhi kewajibannya sebagai ibu. Peran melahirkan dan merawat anak yang ekstra berat itu sudah mereka tunaikan bersamaan dengan fungsi madrasatul-ula. Peran ibu selanjutnya memang lebih kepada mengupayakan tempat dan suasana nyaman bagi tumbuh kembang fisik dan kejiwaannya. Lebih ke fungsi hadhonah. Sedangkan pada fungsi pengarahan  dan bimbingan, di situlah peran ayah mesti maksimal.

Maka kehilangan sosok ayah dalam perjalanan perkembangan anak, akan akibatkan anak kehilangan kesempatan memperoleh pengarahan  dan bimbingan yang bernilai mahal. Ia berpotensi kehilangan pegangan dan orientasi. Sebab ia harus cari sendiri kelak mau jadi Apa dan Siapa serta mau ke Mana. Kecenderungan sekarang, para ayah memang lebih memilih mendelegasikan pembinaan anaknya ke sekolah. Bahkan secara penuh. Beruntung kalau sekolahnya bagus pembinaannya.  Kalau tidak? alamat susah jawaban ortu di yaumil hisab.

Kemudian, bila dalam proses pengasuhan anak yang berjalan dominasi peran Ibu, maka sikap ibu yang cenderung penuh welas asih dan dominan emosi, hati-hati dan protektif akan cenderung jadikan anak kelak kurang percaya diri, sulit mandiri dan kurang berani mengambil resiko. Misal, seorang anak yang ingin belajar naik pohon, atau aktivitas bertualang lainnya  yang mengandung tantangan akan lebih pas kalau dibimbing ayahnya.

Hemat penulis, di sinilah titik temuanya antara kegagalan pengasuhan oleh ayah dan gagalnya pewarisan dakwah.  Logika sederhananya, bagaimana anak mau mengikuti jejak orang tua kalau jarak psikologisnya berjauhan?  Bagaimana sang anak menauladani ayah, kalau jarang bertemu dan berinteraksi?

Pertanyaannya, apakah mengasuh anak itu begitu susahnya sehingga banyak ayah yang luput dan abai dari peran ini?

Menurut saya, jawabannya malah sebaliknya. Justru karena pengasuhan oleh ayah ini mudah, sederhana bentuknya, dan tak perlu teori yang canggih yang menyebabkan para ayah banyak yang menyepelekan. Dianggap tidak penting. Bahkan dianggap berpotensi merusak wibawa.

Mau bukti? coba jawab pertanyaan di bawah ini :

-          Siapa yang mendampingi Sang Istri di ruang persalinan saat melahirkan anak?
-          Siapa ayah yang bisa memandikan bayinya?
-          Siapa yang sering kelihatan saat mendorong kereta bayi saat pagi : ibunya? kakaknya yang perempuan? neneknya? pembantu? atau ayahnya?
-          Siapa ayah yang tak sungkan nyebokin anak kalau lagi BAB?
-          Siapa ayah yang suka gantikan pokok atau pampers saat tidur?
-          Siapa yang paling banya
k dialog dengan anak?
-          Apakah para ayah melihat sendiri kapan anaknya mulai bisa ngomong "ayah"? Atau kapan saat mulai bisa berjalan sendiri?  Atau kapan saat anaknya bisa mengayuh sepeda sendiri tanpa bantuan roda atau tanpa dituntun?
-          Siapa yang buatkan susu saat malam anaknya nangis?

Peran minimal ayah dalam kegiatan di atas, bisa jadi indikasi  kerenggangan hubungan ayah-anak. Awal gagalnya pengasuhan oleh ayah. Silakan renungkan.

Apakah saya mengajak para ayah jadi baby sitter? Tentu tidak. Kita sedang berbicara tentang interaksi yang dekat dan hangat dengan anak. Kalau kita sayang anak, kenapa bau BAB dan BAK menghalangi dari kedekatan dengan mereka? Toh ini juga tidak perlu setiap saat. Kadang-kadang saja. Terpenting adalah kesediaan dan antusiasme. Sang Bunda juga faham. Tapi kesediaan Ayah untuk ikut terlibat adalah hadiah terindah bagi anaknya.

Lanjut ya, coba para ayah renungkan lagi dengan baik pertanyaan di bawah ini
-          Siapa yang mengambil buku raport saat anaknya kenaikan kelas?
-          Siapa yang mengenalkan nama pohon, hewan, benda-benda di sekitar rumah?
-          Apakah anak merasa sungkan ngomong dengan ayah?
-          Apakah saat ayah pulang anak sambut dengan girang. Dan ayah menjawabnya dengan antusias?
-          Saat bermain dengan anak, apakah ayah ikut larut dalam permainan atau hanya melihat dari jauh?
-          Siapakah yang menemani anak bikin PR?
-          Pernahkah ayah main hujan-kehujanan sama anak-anak?
-          Apakah suka mengajak jalan berdua satu-satu secara bergiliran ke semua anaknya?
-          Apakah ketika anak perempuan tiba-tiba ketahuan sudah punya pacar dan sang ayah membiarkan dan anggap hal biasa?
-          Lebih banyak mana, kalimat perintah dan larangan yang harus direspon dengan sami’na wa atho’na atau kalimat pertanyaan-pertanyaan yang merangsang daya kritis?

Fakta yang saya jumpai sendiri. Di sekolah anak-anak saya, yang mengambil raport mayoritas ibu-ibu. Padahal biasanya hari sabtu. Saat libur kerja. Mestinya para ayah bisa mengikuti. Juga saat ada kajian parenting, mayoritas ibu-ibu yang hadir. Anggota komite sekolah juga kebanyakan ibu-ibu. Apalagi kalau melihat siapa guru-guru TK, jarang ditemui bapak-bapak.

Pada kondisi inilah kemudian, berlaku sunnatullah. Bagaimana mengajak anak kalau sang ayah tidak dekat dengan anak. Bagaimana tersentuh hatinya sang anak, kalau dari sang ayah sikapnya terus menjauh dan cuek dengan sesuatu yang menarik di mata anak. Bagaimana anak merasa penting, kalau agenda bisnis dan dakwah sang ayah dipandang sudah mengalahkan agenda bermain sang anak.

Kekhawatiran hilangnya wibawa karena terlalu dekat dengan anak sempat muncul juga dalam diri saya. Saat coba untuk hilangkan jarak dengan anak-anak. Sampai kemudian kedekatan itu memang terbangun. Akrab seperti dengan teman. Ada anggota keluarga yang ingatkan “jangan terlalu dekat dengan anak, nanti susah diatur dan bisa melunjak”. Saya hampir terpengaruh. Tetapi akhirnya waktu membuktikan, bahwa wibawa orang tua itu muncul dari kasih sayang yang ditunjukkan. Muncul dari kesungguhan mencintai mereka. Muncul dari payahnya pengorbanan membesarkan mereka. Muncul dari kelelahan mencari nafkah keluarga. Sepertinya mereka juga tidak membutuhkan ayah yang berwibawa dan disegani. Mereka lebih butuh Ayah yang mau merendah, mau bermain. Ada di dekatnya

Hingga suatu saat....

Datanglah perpisahan sementara. Dua anak dari keluarga berbeda akan masuk pesantren. Ternyata anak  dari keluarga yang "lapar ayah" (father hunger) berbeda dengan anak yang "kenyang ayah". Anak yang sudah kenyang dengan kebersamaan bersama sang ayah, tentu merasa kehilangan. Namun segera sadar kalau ia sedang masuk ke tempat menempa diri. Iapun bersemangat mengasah ilmu di tempat barunya. Sedangkan anak satunya yang "lapar kebersamaan" dengan ayahnya, merasa masuk boarding adalah seperti dibuang saja. Ia meronta dan mau berontak. Tapi tak berdaya. Sang ortu dianggap lepas tanggung jawab. Di pesantren  ia merasa dipenjara. 

Di sebuah tempat tak jauh dari saya. Sebuah keluarga kader. Sungguh sedang berbahagia. Seorang anaknya yang ikhwan sebentar lagi menikah dengan akhwat yang juga kader dakwah. Sedangkan adiknya yang akhwat juga sudah jadi aktivis di kampusnya. Setelah saya cari tahu apa rahasianya, rupanya benar, kedekatan dan keakraban memang tercipta di keluarga itu. Sang Ayah rutin jenguk anaknya sepekan sekali ke kota Kembang. Memastikan kondisinya baik-baik saja. Juga karena ia merasa tidak bisa jauh dari sang anak. Maka saat SMP dan SMA ia belum rela melepas ke boarding school.  

Tetapi, sebuah keluarga kader yang lain, sungguh sedang gulana. Anak perempuannya sudah mulai kenal pacaran. Sedangkan halaqah belum jadi minatnya. Apatah lagi jadi aktivis rohis. Kemudian, terkuaklah jauh jarak antara ayah dan anak. Sang Ayah tak hirau dengan buku raport anaknya. Tak mau tahu. Ia merasa cukup dengan peran pencari nafkah. Bagai ATM saat anak butuh uang. Ia sudah merasa cukup dengan carikan sekolah yang Islami berlabel “Boading School” dan “IT”. Saat karakter anaknya tak sesuai dengan kriteria ideal, maka iapun menyalahkan sekolah.

Karenanya, saya yakin, bahwa kedekatan seorang ayah-kader-dakwah dengan anaknya adalah bagian dari proses pewarisan dakwah. Maka, mulai sekarang hendaknya para ayah tidak menganggap remeh aktivitas bermain dengan anak dan segala yang membangun kedekatan dengan mereka. Karena ia sedang melahirkan pejuang-pejuang masa depan. Jangan sia-siakan kesempatan bermain bersama anak-anak. Berceritalah. Dengarkanlah mereka. Tilawah bersama. Ajak mereka bercanda. Main layangan. Main hujan-hujanan. Berkebun. Bersepeda bareng. Jalan ke sawah atau selfie bareng di bawah pohon. Suporter saat anak ikut lomba. Mengambil raport saat kenaikan kelas. Menghibur anak tatkala bersedih.

Kabar gembiranya, tidak ada kata terlambat untuk memulai. Walau anak kita sudah SMP, SMA, bahkan kuliah. Lakukan saja upaya untuk menjadikan ayah kembali dekat dengan anak. Just do it! Jangan menunggu hingga anak kita membuat puisi begini :

Aku kehilangan
Tapi tidak tahu apa yang hilang
Aku kehilangan
di setiap berangkat sekolah
mungkin inilah kiranya
apa yang dikatakan bunda
ayah ada
ayah tiada *)

*) Puisi dikutip dari buku "Ayah Ada Ayah Tiada" karya Irwan Rinaldi.






Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Hari Pertama Di Sekolah Alam

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah