Ranking Enam





Satu semester sudah Si Teteh menempuh SMA-nya. INSAN CENDEKIA MADANI nama sekolahnya. Megah kampusnya. Nyaman suasananya. ICM yang berlokasi di BSD Serpong, Tangerang Selatan ini memang salah satu sekolah terindah di negeri ini yang pernah saya tahu.  "Ini mah bukan sekolah, tapi surga" kata Bang Erdi Nasrul, Om-nya Si Teteh yang wartawan Republika itu pada satu kesempatan berkunjung ke ICM.

Ya, bagi saya saat berkunjung ke ICM tak ubahnya rekreasi.  Karena bisa menikmati detail lingkungan sekolah yang tertata begitu apik, sejuk dan asri. Walaupun berada di Tangerang yang berhawa panas, berada di ICM terasa berbeda. Ternyata hawa sejuk yang menyergap begitu memasuki kompleks yang berada di Jalan Ciater Raya Gang Haji Amat itu berasal dari rerimbunan pohon yang terawat rapi. Praktis, dengan ditambah lengkapnya sarana yang disediakan, maka satu-satunya tugas anak anak ICM adalah belajar.

Satu Semester ini Si Teteh memasuki "dunia lain". Dari anak rumahan jadi anak boarding. Dari rumah yang sederhana ke kampus megah. Aneh juga, yang umum itu megah di rumah tapi apa adanya di pesantren. Sebagai upaya pembelajaran kemandirian. Anak saya malah kebalikannya.

Tentu beda alam beda kebiasaan. Beda teman-temannya juga tentunya. Bagi Si Teteh Fathia, Kelas X memang masa transisi. Dari kultur sekolah alam yang merdeka dan tidak memprioritaskan aspek akademik, sekarang memasuki zona adu balap yang full akademik. Iklim persainganpun segera menyergap. Kurang teliti sedikit akan fatal akibatnya. Ketinggalan kelas satu hari, susah payah mengejar ketertinggalannya.

Setelah tahap penjurusan di penghujung triwulan pertama, Si Teteh menempati kelas X-1 IPA. Mulai bergelut dengan rumus kimia, matematika dan fisika. Setelah saat SD puas bermain dan SMP puas mengeksplorasi potensi diri, fase dominasi kognitif segera dimulai.

Aneka perubahan itu tentu menyisakan tanya. Mampukah ia melewatinya dengan sukses? Maka saat pembagian rapor seperti tempo hari itu ada rasa was was. Mampukah "anak alam" ini bersaing di jalur yang berbeda?

Maka saat Pak Great Ahmad, Wali Kelas X-1 menyampaikan "Fathia ranking enam Pak", sontak saya tersenyum. Penuh haru dan gembira. Ruang kelas tempat Fathia belajar dan jadi tempat pembagian rapor yang sudah ber AC itu jadi semakin terasa sejuk saja.  Walaupun ranking itu sekarang tak lagi jadi ukuran keberhasilan belajar. Hanya jadi penanda saja, sudah di posisi mana belajarnya. Tapi tetap saja ada sisi emosional yang terlibat.

Tetapi anehnya, Si Teteh malah terlihat bersedih dengan capaian itu. "Masak sih cuma nyampe ranking enam? masuk lima besar juga nggak, hiks" Galaunya.  Ia memang anak dengan ambisi meluap. Harus menjadi the best. Sesuai namanya : Sang Pemenang.

Merespon sikap Si Teteh itu saya coba tidak merespon yang biasanya terucap, misalnya :
"Ayo Teh, Teteh pasti bisa! Tidak ada yang tidak mungkin, Allah pasti berikan jalan! Allahu Akbar! Yes!"
"Masak nggak bisa sih Teh? kan sama-sama manusia? kalau sungguh-sungguh pasti tercapai, man jadda wa jadda!"

Tapi saya berikan argumen yang lebih terukur dan rasional begini : "Bagi alumnus sekolah SMP Alam, masuk sepuluh besar di ICM itu sudah sangat bagus, it's amazing. Karena startnya kan terlambat dibanding teman-teman Teteh. Orang dulu Teteh belajar akademiknya hanya pas mau UN doang, kan? Beda dengan teman-teman Teteh yang dari SMP-nya sudah digeber akademik, kalau bisa ikut bimbel sana sini. Jadi tadinya Abi malah berfikir Teteh dapat peringkat enam belas, hehe"

"Iih..., Si Abi mah, masak ranking enam belas sih, under estimate itu namanya ke Teteh" Si Teteh manyun

"Justru kalau langsung ranking satu atau dua malah aneh. Nggak masuk akal itu namanya. Kayak sulap saja. Lagian kalau mencapai puncak terlalu mudah mah nggak asyik. Asyik itu kalau harus sampai nyungsep terus baru dapat juara, itu baru kereen. Kalau dibuat cerita pasti akan seru, hehe"

Saya sendiri selalu berpatokan pada potensi atau kekuatan yang dimiliki oleh masih-masing anak. Ketika di ICM pun acuan saya adalah "Apakah potensi Si Teteh semakin terasah atau justru malah terabaikan?". Maka ketika ia diamanahi jadi scrip writer Bulletin YES, jadi Humas OSIS, jadi Sekretaris panitia TZORFAS, jadi koordinator anak-anak penerima beasiswa, ikut ekskul Jurnaslistik, serta sempat jadi pembicara di even berskala provinsi, saya anggap Si Teteh tetap berada di jalan yang benar. Adapun capaian prestasi akademik adalah bonus. Ukuran terpentingnya adalah proses dan perjuangannya meraih capaian akademik di tengah kesibukan aneka kegiatan yang seabreg itu. Bagaimana ia mengatur waktu serta irama kegiatan. Itu yang terpenting.

Ternyata, ada positifnya menghabiskan masa SD dan SMP untuk bermain dan eksplorasi potensi diri. Dimana aspek afektif dan psikomotorik lebih dominan. Maka samudera akademik itu ia selami dengan semangat yang masih fresh.

Ya, mengikuti perjalanan anak-anak menempuh pendidikannya, seakan memutar waktu ke saat dulu saya berada di masa sekolah. Di mana ketika ada mimpi saya yang tak terjangkau. Ada keterbatasan yang menghambat. Ada kesempatan yang hilang. Ada kekeliruan langkah yang disesali. Dan kini dengan komunikasi yang tercipta, saya bisa berbagi dengan mereka. Berharap kesalahan saya dulu tak mereka ulangi. Agar capaian mereka jauh melampaui orang tuanya. Lebih hebat, lebih pintar, lebih bermanfaat

Semoga...

Karawang 8 Januari 2015


Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI