Postingan

Sekolah Untuk Anakku

Gambar
Sekolah Alam Amani Karawang Sekitar bulan Maret setiap tahun adalah bulan-bulan sibuk orang tua yang putra-putrinya kelas 6 SD, 3 SMP atau kelas 3 SMA. Mereka punya agenda penting: mencari sekolah. Sebagiannya ditingkahi jantung yang deg-degan. Berlabuh di sekolah mana akhirnya ananda tercinta ? atau di perguruan tinggi mana menimba ilmu. Update status di Facebook banyak diwanai laporan singkat aktivitas ortu mengantar putra-putrinya ke kawah candradimuka yang dicita. Pun saat tahun 2011 yang lalu. Kejadian itu berulang terus. Sepertinya memang akan selalu begitu. Namun diantara jutaan ortu itu terselip diantaranya orang tua yang adem-ayem saja. Seolah tanpa beban. Tidak wira wiri kesana kemari mencari info sekolah favorit impian. Tidak dipusingkan dengan passing grade sakolah favorit yang terus bergerak naik. Anaknyapun seolah tidak dipersiapkan untuk kompetisi masuk. Tidak ada bimbel, tidak ada les atau try out di sana sini. Hanya try out di sekolah sendiri...

The People Who Shape My Life # 1 : A b a h

Gambar
Ini adalah tulisan yang saya kirim untuk Proyek Nulis Buku Bareng , sebuah grup di Facebook. Alhamdulillah bukunya sudah terbit judulnya jadi “ Masa Kecil yang Tak Terlupa “, disingkat MKTT. Istimewa karena itulah nama saya nangkring sebagai penulis. Walaupun keroyokan tapi tetap tak mengurangi kebanggaan. Disitu saya menulis tentang pengalaman mas kecil saya bersama Abah (kakek) di kampung halaman. Masa indah yang tak terlupakan. Yap…silakan membaca, mudah-mudahan berkenan. * * * * Masa kecil saya sebagian besar dihabiskan di kampung, sebuah desa kecil di selatan Kuningan. Tinggal bareng Abah (kakek) dan Emma (nenek). Abah saya biasa dipanggil Abah Ndim, lengkapnya Dimyati. Walaupun sudah rumah ortu sendiri tapi dempet dengan rumah Abah, dan ada pintu buat lalu lalang ke rumah Abah. Jadi seperti satu rumah saja. Otomatis banyak waktu dihabiskan bareng Abah. Apalagi Bapak lebih sering di Jakarta buat berdagang. Pulangnya sebulan sekali. Dengan kebersamaan seperti itu ...

Hari Pertama Di Sekolah Alam

Gambar
Dhiya dan Teteh berangkat ke sekolah barunya : SAKA Ini catatan saya c atatan tentang hari pertama anak saya Fathiya dan Diya masuk ke sekolah alam, 18 Juli 2011 lalu. Selamat menyimak... 18 Juli 2011 @Karawang Suasana jalanan pagi itu terlihat dari kaca mobil masih berdebu disana-sini. Khas suasana kemarau di Perumnas Telukjambe, Karawang. Di kursi depan, Diya duduk manis dengan pakaian bebas. Tak ketinggaalan topi toga dan name tage terbuat dari karton dan kertas koran, uniform wajib masa perkenalan siswa baru. Sedangkan Fathiya duduk di kursi tengah, juga dengan uniform sama. Letak Sekolah Alam Amani kalau ditarik garis lurus dari rumah sebenarnya dekat sekali, cukup jalan 10 menit saja. Namun karena terhalang sungai kecil dan tidak ada jembatan permanen, menjadikan jarak ke sekolah jadi berlipat lipat. Harus memutar dulu. Melewati masjid Blok T, Jembatan sungai, Pasar Blok R dan Blok S, juga Pasar Tradisional, serta SDN Wadas dan Perumahan dPar...

Reuni SMA

Gambar
Dress-code Reuni Sabtu, 2 Juli 2011 adalah istimewa. Bukan tanggal kelahiran atau pernikahan yang biasanya dikenang. Ini adalah waktu ketika segala memori berkumpul. Mengikuti hadirnya sekumpulan raga yang sudah beranjak usia. Segala rasa yang sempat teralami hadir lagi. Sepenggal episode seakan diputar kembali. Ia seolah mesin waktu yang memutar ke 19 tahun lalu. Ia seolah ditakdirkan jadi ajang pembuktian. Maka bagi yang merasa pencapaian hidupnya telah diraih. Ia adalah Si Dia yang dinanti. Sebaliknya, bagi yang masih terseok-seok, terpuruk, terjatuh, bingung dan kesepian, maka ia adalah sosok yang mengerikan. Bahkan Ia tidak terpikirkan. Mungkin Ia dirindu sekaligus dibenci. Jadi minder, kata Kang Andi Suwandi mah. Isi kepala mungkin masih dipenuhi pertanyaan Who am I? saha urang teh? siapa diri ini? Kenapa diri ini? Dimana ia akan eksis dan berlabuh. Pertanyaan tentang pencapaian dan eksistensi diri-kekinian serta misteri masa depan. Prestasi juga gengsi. Ya,...

B e r d u a

Gambar
Hari Ahad, beberapa waktu lalu, gerimis malam itu memang mengundang. Biasanya mengundang kantuk. Terkadang malas. Apalagi yang ada jadwal pekanan tak terikat. Pengajian pekanan umpamanya. Gerimis malam juga kerap memberatkan kaki para pejuang untuk melangkah. Para penjual sekoteng, martabak atau bakso misalnya. Walau gerimis malam bisa juga mengundang romantisme. Waktu yang tepat membuat moment tak terlupa. Seperti Ahad itu. Malam sebelumnya sang permaisuri sudah dibisiki. "Hanya berdua?". Tanya Nyonya "Ya, berdua saja!". Jawab saya setengah berbisik. "Anak-anak bagaimana, Bi?" tanyanya lagi, pelan saja. "Hmm sekali ini anak-anak terpaksa harus diamankan, ini gak boleh ada orang ketiga!" Tegas saya. "Termasuk Umi?" rajuknya. "Ya, termasuk Umi, nggak boleh ikut juga, hanya untuk berdua, afwan ya Miii, kali ini saja, pleeeease..." Final. Siapa sih yang begitu istimewa sampai permaisuri sendiri gak boleh ik...

Saung Para Juara

Gambar
Cuaca Sabtu pagi, 19 Juni 2010 itu begitu segar dan hangat. Ya, pepohonan sedang hijau-hijaunya setelah tersiram air hujan setengah tahun sebelumya itu kini bermandi cahaya matahari awal musim kemarau. Semangat saya menghadiri undangan Brother Ridwan, SE "visioner" itu jadi ikut2an segar dan hangat. Brother yang Kepala SMP Alam Amani dan masih lajang itu memang meminta saya jadi anggota "tim penguji" karya tulis siswa SMP kelas VII dan VIII. Walaupun undangannya dikirim via SMS, saya merasa begitu bersemangat! Ya, karena pagi itu saya akan saksikan sendiri sebuah pembuktian dari tesis yang selama ini saya yakini, bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang baik bukan karena gedung kelas yang megah full AC. Dan tesis itu coba dibuktikan dengan didirikannya Sekolah Alam Amani, 2 tahun lalu. Dimana anak-anak alam itu belajar tidak terpaku di dalam ruang kelas. Awal-awal berdiri malah berkampus di rumah Blok A Peru...