Sunday, June 20, 2010

Saung Para Juara

Cuaca Sabtu pagi, 19 Juni 2010 itu begitu segar dan hangat. Ya, pepohonan sedang hijau-hijaunya setelah tersiram air hujan setengah tahun sebelumya itu kini bermandi cahaya matahari awal musim kemarau. Semangat saya menghadiri undangan Brother Ridwan, SE "visioner" itu jadi ikut2an segar dan hangat. Brother yang Kepala SMP Alam Amani dan masih lajang itu memang meminta saya jadi anggota "tim penguji" karya tulis siswa SMP kelas VII dan VIII.

Walaupun undangannya dikirim via SMS, saya merasa begitu bersemangat! Ya, karena pagi itu saya akan saksikan sendiri sebuah pembuktian dari tesis yang selama ini saya yakini, bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memerdekakan. Pendidikan yang baik bukan karena gedung kelas yang megah full AC. Dan tesis itu coba dibuktikan dengan didirikannya Sekolah Alam Amani, 2 tahun lalu. Dimana anak-anak alam itu belajar tidak terpaku di dalam ruang kelas. Awal-awal berdiri malah berkampus di rumah Blok A Perumnas. Selanjutnya, numpang di TK Abata. Kini, anak-anak alam itu sudah bisa nyaman dengan kampus sendiri Saung Amani, di Jl. Pintu Air, Wadas, Telukjambe Timur, Karawang.

Sebuah pembuktian yg sedikit menegangkan. Menegangkan karena alat buktinya berupa karya tulis. Setahu saya yang namanya tugas karya tulis itu baru diberikan saat SMA. Apa bisa anak kelas VII dan VIII bikin karya tulis hasil penelitian? Artinya kalau anak2 alam ini gagal bikin karya tulis yang bagus, habislah tesis itu. Masa depan SMP Amani seperti sedang dipertaruhkan.

Disampin perasaan itu, saya juga masih ada perasaan gundah. Salah satunya karena respon masyarakat yang masih asing dengan konsep sekolah alam. Buktinya jumlah anak yang dipercayakan orang tua belum melewati angka 10 pada setiap angkatannya. Walaupun begitu saya tetap optimis, ini hanya masalah waktu saja. Apalagi pak Asep Saefudin yang menjadi otak dibalik pendirian Sekolah Alam Amani semacam memberikan "garansi", insya Allah tahun ke empat SMP Amani bisa running. Saat sudah ada yang lulus dan outputnya sudah jelas. Tapi, sekali lagi, semuanya khan butuh pembuktian. Inilah kenapa saya jadi agak tegang.

Yup, Sabtu itu anak anak alam itu akan diuji kemampuan analisis mereka. Sebelumnya menuangkan kedalam karya tulis, mereka "diliburkan" dulu utk sebuah penelitian. Tidak tanggung-tanggung, dua bulan full mereka turun gunung. Kegiatan yang agak aneh untuk seusia mereka.

Setelah dilakukan persiapan semestinya, presentasi dibuka pukul 10.30. Ternyata suporter acara saat itu tak hanya guru dan anak-anak alam. Ada ortu calon siswa baru. Ada juga yg bareng anaknya yg mau masuk. Anak-anak SD Alam Amani juga ada yang ikut menyimak. Ini benar2 sidang terbuka. Cukup surpise bagi saya. Mengingat acara ini sebenarnya acara serius. Dan biasanya, yang serius itu tidak menarik.

Setelah dipersilakan ke ruangan utama Saung 1, anak-anak alam yang akan presentasi itu berbaris masuk beriringan sambil mendekap laptop di dada mereka. Oh, ternyata empat presenter pertama adalah para siswi. Saya juga baru tahu ternyata presentasi ini adalah barang wajib buat anak kelas I maupun II.
Sebuah pemandangan yang unik dan menjanjikan terlihat didepan mata. Kombinasi unik antara saung kayu, pepohonan, laptop, lcd proyektor, ABG berkerudung, alunan music, makalah hasil penelitian, dan suasana rileks benar-benar mewakili idealisme tentang pendidikan yang menyenangkan.

Giliran pertama adalah Zahra Ghaliyah. ABG kelas VII asal perumahan Karaba Indah G 18 ini agak grogi saat mau maju. Sangat normal sih untuk ukuran anak kelas I SMP. Belakangan diketahui ternyata ini karya tulisnya yang pertama, hm.. pantas saja. Judul penelitiannya ternyata cukup keren : Inisiasi Penyusuan Dini Pada Bayi. Jumlah total halamannya ada 25. Cukup bagus buat anak kelas 1 SMP. Observasinya dilakukan di sebuah klinik bidan di kompleks Karaba Indah. Rupanya Zahra memang tertarik dengan dunia perbidanan.

Selanjutnya Zahra mampu menyampaikan hasil penelitiannya dengan baik. Walaupun gaya khas ABGnya kerap mewarnai, namun paparannya cukup logis dan runut. Apalagi dibantu slide powerpoint warna-warni yang ditampilkan dilayar proyektor.

Zahra juga mampu menjawab dengan meyakinkan pada saat sesi tanya jawab. Artinya ia benar2 melakukan penelitian dan menguasai tema. Tidak seperti kasus plagiarisme desertasi doktor dari I*B yg sempat heboh dan bikin dunia perguruan tinggi kita tercoreng itu.

Presenter kedua adalah Arin Ayudiastika Efendi. Siswi kelas VIII putri pasangan Ibu Sri Gantini dan Haji Nendi ini memilih sebuah judul penelitian yang cukup hi-tech: Pengaruh Teknologi Internet Terhadap Minat Generasi Muda Mengunjungi Museum. Total ada 60an halaman.

Membaca karya tulisnya Arin, saya sempat ragu, setengah tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Yang membuat saya terpesona adalah isi makalahnya. Tulisannya sangat sistematis, gambar2nya cukup kaya. Grafik2nya full color dan sangat meyakinkan. Ada quesioner yang dilakukan kepada 105 responden di 5 museum berbeda. Semuanya di kota Bandung. Data survey kemudian dituangkan dalam analisis asosiatif untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih. Arin juga berhasil meyakinkan penelitiannya dengan menghitung koefisien korelasi yang mencapai 0, 968884. Belakangan saya tahu, kemampuan Arin berstatistik ria itu salah satunya karena dibimbing oleh SDM yang oke punya, Ibu Wangsih Susilawati, S.Si, M.P Mat. Jebolan S2 ITB itu memang pengajar matematikanya . Pantas saja Arin jadi canggih begitu.

Pada sesi tanya jawab, Arin semakin nampak seperti mahasiswi saja: responsif, sistematis, logis dan berkualitas. Melihat Arin ini saya seperti melihat masa depan generasi muslim modern. Dan, yang pasti, perasaan ragu saya langsung hilang entah kemana.

Presenter ketiga adalah Gebyanca Arfecia. Siswi kelas VII yang biasa disapa Geby ini memilih Judul yang sangat humaniora: Kereta Api dan Kedisiplinan Masyarakat. Siswi yang tinggal di Perum Bintang Alam blok L No. 3, Karawang ini membuat makalah 22 halaman. Ketertarikannya mengangkat tema kereta api karena sering naik kereta api jurusan Karawang-Jakarta . Menurut Geby suasana disana sangat jauh dari nyaman dan sikap disiplin.

Saat sesi tanya jawab, Geby juga mampu menunjukkan bahwa ia memang menguasai makalah itu. Untuk yang baru bikin karya tulis, Geby sangat menjanjikan.

Terakhir adalah giliran Nibrasabiyya Djunaedi. Siswi kelas VII kelahiran 14 Desember 1997 ini mengambil judul penelitian "Analisis Tingkah Laku Orangutan". Sebuah judul yang nyentrik, bukan? Rupanya, walaupun Biyya, begitu ia disapa, bertempat tinggal di kota, tepatnya di Jl. Bandung no D18, Karangpawitan, Karawang, ternyata ia punya kepedulian yang tinggi dengan alam.

Dari 25 halaman tulisan yang ia buat itu cukup banyak gambar Orangutannya. Lebih surprise lagi ternyata ABG ini malah ingin lebih dekat lagi dengan dunia Orangutan. Walaupun harus tinggal di pedalaman Kalimantan, wah hebat ya. Dan seperti yang lainnya, Biya juga mampu menjawab pertanyaan2 yang diajukan dengan baik.

Sebenarnya saya ingin mengikuti semua presentasi anak-anak alam itu. Saya ingin lihat presentasinya Wulan yang waktu masuk dulu saya yang memprovokasi. Yang saya tahu, putri Pak Pamuji langganan potong rambut saya itu mainan tiap harinya ya laptop. Nggak beda dengan siswa RSBI yang mahal itu. Juga Imad, mungkin satu anak alam yang sedikit mirip Lintang-nya Laskar Pelangi. Dia tiap hari berangkat PP Jakarta-Karawang. Bedanya, kalau Lintang naik sepeda, Imad naik bis :). Sayangnya waktu presentasinya bukan hari libur.

Yup, itulah catatan saya tentang karya tulis anak-anak alam Amani. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan telah lahir ilmuwan-imuwan muda dari Saung Amani . Saya semakin yakin bahwa konsep yang diterapkan di Amani ini sangat menjanjikan dan futuristik. Artinya akan datang suatu masa ketika semua siswa akan seperti anak2 Amani itu. Bahwa pendidikan berkualitas itu tidak hanya untuk orang kaya saja, asalkan ada yang mau dan peduli. Ini bukan ramalan lho, tapi sebuah optimisme. Boleh khan?

Terakhir, saya ingin ucapkan selamat pada anak-anak alam Amani. Kalian sedang berada di jalur pintar untuk sukses, dan jalur sukses untuk pintar. Insya Allah anak saya yang pertama akan menyusul tahun depan. Sekarang dia udah mulai bikin tulisan karangan sendiri. Kelak saya juga ingin ia jadi anak yang tumbuh dengan karakter khasnya, seperti kalian.

Karawang 19062010

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...