Tour de Gontor #3


Antara Gontor dan Qoryah Thayyibah

Hari Sabtu, 15 Oktober 2011 saatnya kembali pulang. Kembali memacu mesin, memutar roda dan menghabiskan solar. Kembali menyusuri jalur tengah menuju Solo.

Selepas Solo saya pantengin daerah Salatiga dari GPS. Saya memang penasaran mau berkunjung ke sebuah sekolah antik bernama Qoryah Thayyibah. Sekolah komunitas yang muncul dari sebuah kelompok tani di desa Kalibening, Salatiga. Sekolah yang beda dengan sekolah biasa, tanpa seragam tanpa berbagai aturan yang memenjarakan. Sekolah yang telah memacu kreativitas anak-anak desa sehingga bisa go internasional.
Begitu ada papan penunjuk arah ke Kalibening, saya segera belokkan si Macan. Tidak sulit mencarinya. Cukup sekali nanya ke penjaga toko di pinggir jalan. Saat tiba di Kalibening, dan berhenti di depan sebuah gang, saat bertanya ke penjaga warung di situ, ternyata itulah gangnya.

Gangnya hanya cukup dilewati satu mobil. Tanpa papan nama atau petunjuk bahwa di sana ada sekolah. Untuk sampai ke lokasi saya masih harus bertanya sekali lagi ke penduduk setempat. Saat sampai ke lokasi, dari luar memang tidak seperti sebuah sekolah. Hanya bangunan dua lantai berteras keramik warna hijau.Tidak ada papan nama, tidak ada tiang bendera. Di dalam tidak ada bangku berderet. Praktis tidak ada ruangan kelas. Hanya aula yang luas.

Performance apik anak-anak Q-Tha
Setelah dipersilakan masuk ke dalam aula oleh siswa yang ada di bagian depan, ternyata sedang ada pentas seni. Di dalam keremangan ruangan itu hampir semua warga Qoryah Thayyibah berkumpul di sana. Di panggung sedang ada performance puisi, lagu dan pantomim. Kualitas tampilannya cukup bagus. Ekpresinya terlihat sangat lepas. Tanpa beban. Sebuah kesalahan cukup jadi bahan hiburan, tanpa perlu ada celaan. Apalagi caci maki. Anak saya semuanya suka pementasan anak-anak Q-Tha itu. "asyik bangeet...!" kata Fathiya.

Di keremangan ruangan itu saya ketemu Mas Bahrudin, si pencetus sekolah antik itu. Beliau duduk lesehan paling belakang. Sayapun mengenalkan diri. Orangnya ramah dan terbuka. Tampilannya masih seperti yang saya lihat di internet dan TV Edukasi. Dari obrolan singkat saya tahu jumlah siswa sekarang sekitar 40 anak. Dari SMP hingga SMA.

Fathia dan Fina Af'idatus Shafa
Pada kesempatan itu saya dipertemukan dengan Fina , si penulis buku Lebih Asyik Tanpa UAN yang ditulis saat ia masih SMP. Bukunya sendiri saya dapatkan di toko buku Utama, Mal Lippo Cikarang, tahun 2007 lalu. Fina kini sudah mengenyam bangku kuliah. Ia adalah putri dari Mas Bahrudin. Dari atmosfer kreatifitas ala Qoryah Thayyibah, Fina sudah berhasil menulis beberapa buku. Untuk ukuran anak sekolah menengah memang hal itu sebuah keistimewaan. Pada kesempatan itu Fina saya pertemukan dengan anak saya Fathiya dan berfoto bersama.

Kunjungan pada kesempatan itu memang sangat singkat, hanya setengah jam. Memang saya hanya perlu konfirmasi tempat saja. Karena hampir semua hal tentang Qoryah Thayyibah dapat dibaca di internet. Lagipula tidak konfirmasi dulu ke pihak pengelola, bukan? Setengah jam waktu saya rasa cukup kalau hanya untuk memuaskan rasa penasaran.

Gontor dan Q-Tha memang beda ya. Beda jumlah siswa beda metodologi. Beda biayanya juga. Saya liat ini sebuah alternatif pendidikan selain sekolah formal dan negeri yang diselenggarakan pemerintah. Inisiasi dari masyarakat menjadikan orang tua punya banyak pilihan. Asalkan tahu tujuan dan mengetahui metodologi, nggak masalah mau ke Gontor, Q-Tha, Boarding School, Sekolah Negeri, Sekolah Islam Terpadu, atau sekolah alam.

Oh, ya. Ada juga yang saya belum tahu banyak, yang sekarang mulai muncul jadi trend baru, yaitu Pondok Tahfidz. Tempat para penghafal-Quran belia memindahkan lembaran Quran menjadi memory di kepala. Kebetulan di Karawang sudah ada yang buka. Mudah-mudahan ada waktu untuk berkunjung ke sana. Lokasinya juga tidak sulit dijangkau. Salah satunya ada di Jatisari, Cikampek.

Bersambung…

Comments

Popular posts from this blog

PANGGUNG SALMAN DI PENGHUJUNG TAHUN

HARU BIRU PUTIH BIRU

MUTASI PONTI