Monday, November 5, 2012

Bicara Pendidikan, Di Mana Peran Ayah?

 

Selama ini kalau bicara pendidikan bisa dipastikan akan berbicara tentang isu-isu sebagai berikut
  • Gedung sekolah yang rusak sehingga menyulitkan anak belajar.
  • Guru yang masih perlu perjuangan memperbaiki kesejahteraan.
  • Kompetensi guru yang masih harus diupgrade
  • Ujian nasional yang mengandung kontroversi serta isu kebocorannya
  • Mahalnya biaya pendidikan terutama pendidikan menegah dan tinggi
  • Tingginya angka putus sekolah
  • Peringkah Human Development Index Indonesia yang masih rendah dibanding negara tetangga sekalipun.
Seolah pendidikan itu milik sekolah, milik guru, kepala sekolah, lembaga kursus, universitas, dikbud, UNESCO, atau milik para pakar pendidikan. 

Kenapa tidak banyak yang mengedepankan faktor keluarga? Dan ketika membahas keluargapun mata kita lebih melirik ke ibu? Bisa jadi karena kaum ibu lebih banyak di rumah. Alam bawah sadar kita sepertinya mempersepsikan bahwa ibu lebih cocok jadi seorang guru. Mungkin karena sifat keibuannya.
Lalu di mana ayah dalam variable pendidikan? Jujur, peran ayah seringkali hanya dipandang perlu dari sisi pembiayaan pendidikan. Betul?

Tapi tahukah Anda, bahwa Ayah justru punya andil besar bagi sukses tidaknya pendidikan putra putrinya? Dan itu bukan karena peran membiayai, tapi peran dalam proses pendidikannya itu sendiri.
Kita memang lahir di negeri yg menyerahkan pendidikan anak kepada ibu. Ibu memang madrasah pertama, tapi ingat ayah adalah kepala sekolahnya. Sampai ada yang berseloroh bahwa Indonesia praktis adalah negeri tanpa ayah, NII (negeri ibu-ibu) karena masih asingnya para ayah dari dunia pengasuhan anak.
Padahal.

Ibu takkan bisa menggantikan peran ayah. Anak membutuhkan dua sayap. Sayap pengasuhan dari ayah dan ibunya. Tak boleh hanya satu, idealnya begitu. Karena itulah fitrah anak yang Allah titipkan dalam jiwa raganya. Sayap ibu tak bisa digantikan oleh sayap ayah dan demikian sebaliknya. (Dikutip dari buku RAHASIA JADI AYAH HEBAT karangan Irwan Rinaldi).

Contoh, ketika yang bercerita tentang gagahnya panglima perang Muhamad Fatih penakluk Konstantinopel adalah sosok ibunda yang gemulai, maka secara kognitif sudah sampai pesan tentang Al Fatih yang gagah. Tapi bagaimana seorang anak mendapatkan gambaran utuh seorang jenderal perang? Maka ayahlah yang harus memberi contoh ekpresi kegagahan seorang Al Fatih.

Kesibukan ayah menjadikan banyak anak yang yatim sebelum waktunya. Yatim secara psikologis. Terjadi fenomena father-hunger, ketiadaan ayah pada jiwa anak. Maka jiwa anak yang jauh dari ayahnya kelak akan jadi generasi minder, peragu. Praktis ayah sekarang hanya berfungsi jadi mesin ATM. Hanya jadi tempat meminta uang.

Teladan dari kisah Muhammad saw, saat ayahanda Abdullah wafat, Muhammad kecil lantas diasuh oleh kakek Abdul Mutholib, lalu ke paman beliau Abu Thalib. Karena anak memang perlu sosok ayah.
Semangat pengasuhan di Al Quran ternyata lebih ke spirit keayahan, 17 ayat dialog pengasuhan di Al Quran, 14 ayat diantaranya adalah dialog ayah-anak.


Belajar dari Ibrahim as

Maka, contohlah Ibrahim. Bapak para Nabi itu. Ia adalah AYAH HEBAT dalam sejarah, krn :

Pertama, dua anaknya juga menjadi Nabi, yaitu Nabi Ismail dan Ishak. Dari keturunan Ismail pula kelak lahir Muhammad, sang nabi pamungkas. Dari sudut pandang pendidikan, Ibrahim adalah seorang ayah yang sukses mendidik anaknya.

Kedua, mengasuh dari jauh dengan doa yang khusyuk. Pada kondisi tertentu, seorang ayah bisa berjauhan secara geografis. Tapi ini bukan lasan untuk lepas tangan dari mendidik anak. Ibrahim ada di Palestina, sedangkan anak & istri (hajar) ada di Mekah. Ibrahim mengganti kedekatan secara fisik dengan kedekatan spriritual. Dengan doa.

Ketiga, memilih istri yang pandai mengasuh. Bahkan jauh sebelum diamanahi anak, seorang ayah sudah harus membuat perencanaan terbaik. Salah satunya dalam memilih pasangan. Sejarah mencatat bahwa pilihan Ibrahim as adalah tepat. Siti Hajar terkenal dengan kisah Shofa & Marwa. Dimana ia dengan heroik berupaya mencari air bagi putranya Ismail, selepas ditinggal ayahanda Ibrahim karena memenuhi titah Tuhannya. Kemudian mendidiknya sehingga Ismail "layak" jadi nabi penerus ayahandanya.

Keempat, memilih tempat tinggal yang baik. Ismail tumbuh besar di sekitar Kabah. Pusat ibadat yang ramai dikunjungi. Lingkungan Kabah yang baik tentu memberi pengaruh yang besar bagi Ismail.

Kelima, selalu mengajak anaknya berdialog dalam setiap keputusan. Bahkan dalam melaksanakan perintah dari Tuhan yang mutlak sekalipun. Contoh dialog Irahim dengan Ismail ini terabadikan dalam Al Quran surat 37: 102.

Keenam, menegakkan sholat untuk diri & keturunannya. Ini menciptakan atmosfir religius dan semangat penghambaan pada Sang Pencipta. Inilah basis pendidikan Ibrahim. Menjadi hamba Sang Khalik adalah pondasi bagi pembebebasan manusia dari penghambaan antar sesama manusia. Maka di hadapan manusia ia menjadi merdeka. Dan mempelakukan manusiapun sebagai manusia merdeka pula. Tidak rendah diri, juga tidak arogan.

Itulah sedikit renungan untuk Indonesia yang lebih baik...

Selamat Hari Pendidikan nasional 2 Mei 2012...

Karawang 02052012

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...