Sunday, November 4, 2012

Mudik's Note: Dari Reuni hingga Terpesona di Palutungan

Sejak mulai tertarik menulis dan kenal ngeblog setiap peristiwa kini terasa  lebih bermakna. Rasanya segala sesuatu inginnya ditulis dan diposting.  Dimana asyiknya? Menulis blog seperti  menyusun ulang peristiwa dan menemukan sesuatu makna yang baru. Bahkan yang saat mengalami nggak kepikiran. Pun saat lebaran edisi 1433H kemarin. Ada saja yang menarik buat ditulis. Terutama karena ada tiga agenda yang terlalu sayang dilewatkan  : silaturahim, reuni dan wisata.

Sebelum lebaran sebenarnya sudah ada tulisan tentang lebaran dan mudik. Sempat jadi blog pilihan versi detiknews.com dan dibanjiri pengunjung dan komentar dari pembaca sejagat maya. Judulnya “haruskah kita mudik?”.  Pembaca yang belum menyimak sila menuju ke sini.

Pulkam lebaran kali ini setelah mempertimbangkan berbagai hal, terutama karena baru diberi hadiah Allah seorang bayi cantik usia dua bulan, akhirnya diputuskan berangkatnya setelah shalat ‘Ied.  Pukul 10 pagi, Si Macan Phanter 2.500 cc pun kembali mengaum, melahap solar, memutar roda dan mengukur jalanan. Kali ini rutenya via Jalur alternatif Sadang, Kalijati, Subang, Cikamurang, Tomo, Kadipaten, Cirebon, dan Kuningan.  Jalanan berkelok mulai Kalijati hingga Tomo menjadikan suasana lebih variasi. Mata Pak Sopir bisa lebih segar.

Ada untungnya tidak ikut arus mudik beberapa hari sebelumnya. Perjalanan lancar hingga Kuningan. Cukup enam jam waktu yang dibutuhkan hingga kembali merasakan kesejukan hawa kota di lereng Ciremai itu. Waktu yang normal. Kalau mendengar cerita para mudikers yang berangkat H-3, ceritanya bikin mental para driver anjlok. Bagaimana tidak? Bekasi-Kuningan yang biasanya cuma 6 jam, ini bisa 25-30 jam. Benar-benar penderitaan nan tak terperikan. Tapi, semakin sengsara saat mudik biasanya semakin seru dan semangat yang cerita. Kita memang terkadang aneh.

Ritual mudik sebenarnya hanya silaturahim plus maaf-maafan. Selebihnya adalah bumbu penyedap. Ada mercon, kembang api, pakaian baru, atau salam tempel. Kalau ada yang menambahkan dengan pamer kekayaan, itu sih sudah keluar dari tujuan.  Maka beberapa kerabatpun dikunjungi. Karena sama mudiknya memang jadinya mudah bertemu. Mungkin inilah satu hal yang tidak tergantikan dari mudik. Bisa bertemu dalam satu kali waktu.  Kalau hari lain mah mana gampang? paling tidak kita harus janjian dulu.

Salah satu kunjungan adalah menghadiri walimahan anak saudara sepupu jauh dari garis bapak. Menghadirinya karena ada alasan khusus. Saudara sepupu ini  meninggal beberapa bulan lalu dengan meninggalkan sembilan anak. Tujuh anaknya masih kecil-kecil. Anak paling besar usia 20-an, berijazah SMP, putus sekolah. Dia bekerja serabutan di Depok. Bekerja apa saja. Praktis Ia jadi kepala keluarga menggantikan sang ayah. Adiknya  yang perempuan inilah yang kemarin menikah. Dapat orang Cilacap.
Pernikahan yg bersahaja
Pernikahan yg bersahaja





Melihat tujuh anak yatim itulah yang membuat hati ini trenyuh. Kadang berfikir, bagaimana mereka melewati hari-demi hari tanpa kehadiran sang ayah? Pernah mengutarakan mau mengambil salah satu anak yang mau lulus SD buat jadi anak asuh. Tapi ibunya menolak. Setelah saya pikir lagi sambil bergantian melihat anak-anak sendiri. Rupanya kasih Ibu memang teramat luas.  Si anak juga rupanya tidak sanggup lepas dari kehangatan Ibundanya.
.
Reuni SMP

Sedangkan peristiwa asyiknya  adalah saat reuni terbatas SMP. Memang ini bukan reuni akbar. Hanya beberapa kawan yang sebelumnya intens komunikasi via BBM dan FB. Akhirnya ada yang inisiatif bertemu di salah satu rumah alumni, rumahnya Eka yang di Pasapen III.  Nama jalan yang dulu begitu akrab.  Saat ketemu itulah yang heboh. Semua pada saling nanya “kamu siapa ya?” Ha ha ha. Agak berbeda dengan yang SMA tahun kemarin yang relatif  masih bisa dikenali.  Walau sudah ada fotonya di FB, tetap saja harus mengernyitkan dahi dulu. Ada yang hafal wajah lupa nama. Tapi kebanyakan lupa wajah juga lupa nama. Meni blank pisan geuning... he he he.

Reuni sesunguhnya sebuah silaturahim. Maka motivasinya memang tak boleh keluar dari itu. Reuni bukan untuk bangga-banggaan atau pamer. Lagipula apa yang harus dibanggakan? Semuanya toh relatif. Saya sendiri paling semangat kalau saat ngobrol menyebut  jumlah anak. Lima anak saya kira masih rekor untuk generasi seangkatan. Itupun harus disertai kesadaran bahwa jumlah itu adalah sebanding amanah. Diantaranya malah jadi ujian. Semakin banyak semakin susah pertanggungjawabannya kelak. Jadi apanya yang harus dibanggakan? Begitupun harta dan kedudukan.

Kesan nostalgia memang terasa. Itu karena suasana tempat dan lingkungan yang dekat dengan lokasi sekolah. Terik dan cerahnya siang hari itu, menjadikannya terasa SPENDA banget. Seperti memasuki lorong waktu. Mundur ke masa seragam putih biru celana pendek yang masih polos dan ababil. Mencari jatidiri.
Maka saat acarapun kayak orang baru ketemu. Motto yang pas dalam suasana begini memang “tak kenal maka kenalan”, he he. Maka masing-masing mengenalkan siapa jatidiri sebenarnya. Seperti menepis tabir misteri. Maka  kata “Oooo...h” bergantian muncul saat Elie, Leni Sudrajat, Deden, Eka,Yulie, Ajeng-Julaeha Rustam, Yoyoh, Yeyet, Ira dan diriku bergiliran mengenalkan diri.
nama kamu siapa....?
nama kamu siapa....?





emak-emak narsis
emak-emak narsis





Seperti biasa, di ujung acara, sesi foto-foto adalah acara wajib. Bagi kebanyakan orang ini adalah sesi favorit. Ajang narsis walau wajah sudah berkurang manis. Tapi bagi saya, sesi foto-foto adalah moment paling mengerikan. Siap-siap harus meratapi nasib. Karena hasil jepretan yang seringnya jauh dari fotogenik. Melas liat wajah sendiri, ..he.. he...

Saya rupanya kurang beruntung karena keburu pulang, si kecil Uki yg saya bawa mulai rewel. Padahal ada Kang Dede Badrudin dan  Bapak Kuswata, kepala Spenda sekarang yang datang ke situ. Kebetulan depan rumah Eka adalah rumah beliau. Padahal tadinya saya mau studi banding dengan beliau sekalian konsultasi mengatasi kendala psikologis saat rambut di kepala mulai mengalami krisis pertumbuhan. Agar tetap pede dan berkarya seperti beliau, he he
.
Terpesona di Palutungan

Saat mudik yang asyik juga adalah saat wisata alam. Kenal  Gunung Ciremai? Pernah ke sana? Nah, yang pernah silaturahim ke gunung tertinggi Jawa Barat melalui Kuningan, hampir pasti kenal tempat ini. Namanya mengingatkan pada sejenis primata berwarna hitam atau cerita rakyat Sunda “Lutung kasarung”.  Namanya Palutungan.

Tempat ini memang berfungsi sebagai bumi perkemahan sekaligus hutan wisata. Saya sendiri lupa persisnya kapan terakhir ke Palutungan. Kalau tidak salah waktu SMA kelas dua tahun 1991. Jadi sudah 21 tahun tidak ke sana. Lama sekali ya.  Karena lamanya bahkan lupa kalau di sana ada Curug Putri. Air terjun indah yang cukup tinggi dan deras airnya.

Melihat Curug Putri jadi teringatAir Terjun Mada Karipura di Probolinggo, lereng gunung Bromo. Bedanya Mada Karipura jauh lebih tinggi dan suasananya lebih mistis. Mungkin karena bentuknya seperti lorong vertikal raksasa dengan debit air yang lebih deras. Saya jadi merindukan Probolinggo. Tanah air kedua setelah Kuningan.

Suasana pedesaan Cisantana yang dilewati, juga mengingatkan pada suasana pedesaan Ngadisari di Pegunungan Bromo . Konturnya berbukit dengan tanaman sayur kol di sana sini. Ada juga yang berkebun Strawberry. Hanya jurang-jurang dan perbukitan di kiri-kanan jalan menuju Bromo memang lebih eksotik karena arealnya lebih luas.  Sayapun jadi merindukan Bromo. Minimal sudah latihan membawa Si Macan menyusuri jalan menanjak sampai ke gunung.

Di lokasi Palutungan, rupanya sudah terkelola dengan baik oleh Pemda setempat. Sudah ada fasilitas outbond. Juga warung-warung makanan dan minuman. Di situ sempat menikmati  mi Instan dan bakso. Dinginnya hawa membuat rasa mi dan bakso  jadi lebih nikmat. Sayangnya lagu yang di-stel di situ ternyata dangdut koplo. Kenapa bukan irama degung ya, atau kecapi suling, gitu? Biar suasana Sundanya terasa banget. Paling tidak Rhoma Irama lah, peupeuriheun murottal mah, biar kayak suasana hajatan atau saat ada layar tancap di Alun-alun kecamatan Kadugede dulu, he he

Oh, ya....  anak saya yang ikut memang tidak semua. Hanya Si Teteh, Imad dan Dhiya. Ditemani Iping (adik ketiga saya) dan pasukannya. Sedangkan nyonya memilih istirahat di rumah bareng Si Kecil dan Kakaknya. Soalnya besoknya langsung balik lagi ke Karawang. Menghindari macet arus balik.
Saat mencapai Curug Putri, anak-anak yang ikut langsung bersorak. Maklum jadi anak warga kota Karawang jauh dari air mengalir. Adanya juga selokan depan rumah. Sungai Citarum-pun jauh dari bersih. Malah punya pengalaman pahit saat diterjang banjir besar luapan Citarum, tahun 2010 lalu. Merasakan derita jadi pengungsi.

Puas rasanya menikmati air jernih dingin nan alami Curug Putri. Saat itu kebetulan sedang ramai. Banyak pengunjung yang ikut memanfaatkan indahnya sekeliling curug. Terutama para abege. Ramai-ramai berpose alay dan difoto pake hape. Ada yang berpose  di bawah guyuran air, di dekat akar pohon, atau dekat batu besar. Saya yakin habis itu ramai-ramai di-upload di fesbuk, lantas nge tag teman2nya yang di alam ghaib itu. Tapi saya gak yakin kalau diantaranya mereka ada blogger nyasar lalu posting di Blogdetik kayak saya, he he. Nah, sayapun jadi ketularan. Sebagian fotonya ada dibawah ini.
2b0e586376aedce394af44c33587c620_21082012998
A Father 'n Three Children

14e967d59f16aeef4b716b1d66a3840d_210820121034
Imad di belakang, Teteh di depan....narsis dulu... aahh

4d8c6f4eeab01840bb318f2a42bf5e7e_210820121033
Aa Dhiya gak mau kalah narsis sama kakaknya





Euuuh..... waktosna seep para mitra... itulah sekilas catatan lebaran edisi tahun ini. Semoga Allah mempertemukan kembali dengan Ramadhan dan lebaran tahun depan. Amiin.

Karawang, Syawal 1433H

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...