Sunday, November 4, 2012

Masjid Di Pojok Parkir


d6560cb71a5f6a670515bb0b659ca9f2_04042012727

Awal Oktober ini, ada dua hari berkesempatan mengunjungi Bandung. Ada tugas kantor. Tempatnya di kawasan Dago. Ini memang acaranya se-kantor wilayah, dari Ciawi hingga Kuningan.

Bicara Bandung suka jadi obsesi sendiri. Rasanya senang sekali saat akan berangkat ke kota tempat Aa Gym bermarkaz itu. Kali ini fasilitas yang disediakan adalah menginap di hotel. Walau hanya semalam.

Bicara hotel yang ada bintangnya, beberapa impian dunia praktis bisa dinikmati. Kamar tidurnya berpendingin. Springbed empuk dengan selimut hangat nan tebal, jodohnya AC. Kamar mandinya tak kalah mewah. Bersih. Ada air panas dan dinginnya. Toiletnya cantik dan elegan dari bahan keramik putih gading. Layar TV LCD siap menayangkan siaran kesukaan. Mulai petualangan ala National Geograpic hingga film box office. Makan yang tersaji sungguh mengundang selera. Empat sehat lima sempurna enam ueenaaak... :)

Tapi ada sisi lain yang ingin ditulis ... sisi paradoknya.

Saat hendak shalat, ada muncul rasa tidak enak. Prihatin. Bagaimana tidak? saat mencari masjid, ternyata langkah kaki membawa ke sebuah tempat yang terletak di pojok parkir basement. Tempatnya gelap dan pengap. Karpetnya seperti di banyak mushola kampung. Karpet murah yang kasar terasa di kaki. Saya tahu, itu made in China. Baunya juga khas, mengandung aroma khas bekas kaki manusia. Kontras sekali dengan tampilan hotel. Bahkan dibanding kamar mandinya sekalipun!

Ya, bicara tempat ibadah di ruang komersial dan publik yang mengikuti bangunan induknya memang banyak warna. Diantaranya banyak yang bikin melas. Di Karawang, tempat domisili saya, dua Mal di sekitar bundaran Tuparev juga begitu. Mushollanya ala kadarnya. Gak niat banget yang buat. Dan ada kesamaan hampir di semua tempat itu. Tempat ibadah biasanya berdampingan dengan toliet. Mungkin niatnya biar praktis. Tapi jelas mengorbankan penghormatan terhadap sebuah tempat ibadah.

Saya acungkan jempol buat beberapa lokasi komersil yang memuliakan tempat ibadah. Diantaranya, di hampir semua Rest Area di sepanjang jalan tol Jakarta bagus tempat shalatnya. Di Rest Are 57 Karawang bahkan sangat bagus, baik arsitektur maupun pengelolaannya.

Beberapa rumah makan kini sudah mulai memuliakan tempat ibadah. Lebak Sari Indah dan Alam Sari di jalan interchange Karawang Barat sudah bagus. Mushola di Restoran Sindang Reret Karawang arsitekturnya full kayu. Eksotik. Bahkan rest area baru di dekat sana menjadikan Masjid Jami' Aliyah jadi center point-nya.

Sebelumnya, perkantoran sudah mulai melirik masjid sebagai tempat penting setelah ruang kerja dan ruang rapat. Seiring kebutuhan tempat ibadah bagi karyawannya. Masjid PLN di Karawang adalah salah satunya. Walaupun tidak berdiri sendiri, tapi tampilan fisiknya cukup bagus. Masjid di komplek Pemda Karawang bahkan kini sedang direnovasi total.

Tapi yang paling top diantara masjid yang berdiri di dalam komplek kantor, tempat umum atau tempat komersial, menurut saya, masih Masjid Shalahudin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak. Megah tempatnya, makmur kegiatannya. Bila diamati dari gambar di bawah, serasi sekali dengan gedung pencakar langit di sekelilingnya.

81d969b30f1975e186ebefff92700578_24082010256
Masjid Shalahudin, Kantor Pusat DJP


Bicara tempat ibadah, biasanya mencerminkan visi pendirinya. Bila dimuliakan, bisa ditebak kalau pendirinya punya visi yang melebihi sekedar materi. Walau akhirnya manfaat materi bisa mengikuti. Memisahkan materi dan immateri memang sulit. Memisahkan dunia dan akhirat dalam kenyataannya juga sekedar perasaan. Inilah gejala spiritulitas yang tidak bisa hilang. Karena ia adalah kodrati.

Kesadaran religius kini memang menjadi trend global. Tidak hanya di Indonesia, spiritualitas memang melanda dunia. Patricia Aburdene menyebutnya sebagai Global trend 2010. Sedangkan Gay Hendriks menyebutnya fenomena corporate mistics atau sufi-sufi korporat.

Mengikuti gelombang kesadaran religius kelas menengah, komunikasi bisnis mau tak mau mengikuti trend ini. Perusahaan yang memfasilitasi para karyawan dan konsumen untuk nyaman mengekspresikan agamanya, akan menuai simpati. Baik terhadap perusahaan maupun produk. Hermawan Kartajaya, Sang Guru Marketing dunia membahasnya secara khusus dalam tema  spiritual marketing.

Karenanya, marilah kita kembali ke kesadaran diri sebagai makhluk ciptaan Allah. Kembali ke sisi spiritual yang sempat terpinggirkan. Tergerus arus materialisme semu dan profan. Walau untuk jadi religius tak harus menunggu tren.

Karawang, 30 Oktober 2012

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...