Sunday, May 5, 2013

Akhlak Yang Mulia



Oleh : Ust. Uri Mashuri


 Aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak“ Itulah jawaban Nabi atas pertanyaan orang Quraisy: “Untuk apa Engkau ya Muhammad bersusah payah menyebarkan Islam?” Sederhana sekali jawabannya. Akan tetapi, esensinya begitu luas dan mendalam sebab akhlak adalah cerminan totalitas kepribadian seseorang.


Moral dan Akhlak

Ucapan Nabi di atas menjelaskan dengan tegas bahwa misi Islam adalah memperbaiki akhlak –budi pekerti. Lantas pertanyaannya, bagaimanakah dengan aqidah, ibadah, dan sebagainya? Jawabnya, semua akan bermuara dan terlihat jelas atsar ibadat dan kecemerlangan iman itu pada akhlak atau budi pekerti yang menjadi perhiasan hidup manusia juga –kata Nabi– yang nantinya akan paling banyak memasukkan manusia ke sorga.

Di sinilah perbedaan antara moral dan akhlak. Moral bisa berubah-ubah sesuai  perkembangan  situasi dan kondisi, sedangkan akhlak tidak karena akhlak berakar pada keyakinan dan terpelihara kesegarannya  oleh ibadah.

Moral adalah ukuran baik dan buruk yang berlaku di satu tempat dan satu keadaan. Mungkin suatu tindakan dianggap baik dan terpuji di tempat ini, tetapi dianggap jelek di tempat lain. Misalnya, minuman keras. Bagi orang Barat minuman keras merupakan bagian pergaulan sehari-hari; sebuah tindakan yang wajar, bahkan keharusan dalam sebuah perjamuan. Namun, bagi ummat Islam minuman keras merupakan  perbuatan yang haram yang harus dijauhi.

Bila kita berbicara masalah akhlak, di mana pun kita berada, aturannya tetap, yakni yang baik tetap baik walaupun orang lain menghinannya. Yang buruk tetap buruk walaupun orang lain menyenanginya. Sebab dasar akhlak adalah “ittaqillah haetsu maa kunta“ takutlah engkau kepada Allah  di mana pun engkau berada. Jelas sudah tidak ada  tempat kemunafikan dalam akhlak.

Seorang muslim yang berakhlak harus tetap menjaga pikiran, ucapan, dan perbuatannya, termasuk di dalamnya niat dan itikadnya agar tetap tidak ke luar dari garis yang telah ditentukan Allah dan Rasulnya. Ia bertugas memenangkan kebenaran dan mengalahkan kebathilan. Ia selalu berpegang dan berpihak pada yang benar dan meninggalkan yang salah. Ia juga mencintai keindahan dan menghindari yang tidak senonoh. Tujuannya menciptakan kebajikan. Perilakunya rendah hati, sederhana, ramah, dan penuh kasih sayang.

Sombong, senang dipuji, kejam, dan tidak peduli adalah sifat yang tidak pernah melekat  pada diri orang yang beriman, yang terpelihara dengan ibadah.

Dalam pandangan seorang  muslim, alam adalah karunia dari Allah yang wajib disyukuri dan dinikmati tanpa melampaui batas dan merusak sumber-sumber kemanfaatannya. Ia senantiasa menghindari pemborosan dan pengrusakan. Ia menyadari bahwa orang lain pun memiliki  andil di bumi ini dan ia senantiasa pula memperhatikan kepentingan-kepentingan generasi mendatang.

Bila Islam mengadakan pembatasan atau pelarangan, hal itu dimaksudkan  agar manusia terhindar dari kegila-gilaan, kemerosotan, kelemahan, dan hal-hal lain yang tidak senonoh dengan martabatnya sebagai khalifah di muka bumi. Larangan-larangan itu bukanlah tindakan kesewenang-wenangan Allah atau beban yang diberikan kepada manusia, melainkan untuk kebaikan mental spiritual demi kepentingan manusia itu sendiri. Larangan itu bukan pula artinya Allah merampas hak seseorang, melainkan melindungi manusia dan membuat manusia mencapai titik optimal pengembangan dirinya ke arah kemuliaan.

Untuk mencapai itu, manusia memerlukan kekuatan kemauan, pikiran, perasaan, fisik, kekayaan, dan kesehatan. Sebabnya, larangan itu bukan pemerasan, melainkan memperkaya; bukan penindasan, melainkan disiplin; dan bukan pembatasan, melainkan perluasan.


Akhlak dan Pendidikan
 
Dr. Muhammad Javad as Sahlani, dalam karangannya, menyebutkan bahwa pendidikan Islam sebagai “Proses mendekatkan manusia kepada tingkat kesempurnaan dan mengembangkan kemampuannya.“ Dari pernyataannya dapat kita tarik kesimpulan bahwa  pendidikan adalah upaya dakwah untuk membentuk akhlak yang mulia.

Pengertian dakwah sendiri adalah sentuhan-sentuhan psikologis dan sosiologis dengan realita yang ada sehingga mampu memberi dasar filosofi, arah, dorongan, dan pedoman menuju perubahan masyarakat sampai terwujudnya masyarakat Islam. Itu  pula tujuan pendidikan Islam. Al Qur’an menyebutkan beberapa prinsip pendidikan, antara lain

1         Pendidikan harus membantu proses pencapaian menuju tingkat kesempurnaan.  (Al Mulk ayat 2)
2         Menuju model sebagai teladan. Rasulullah mendapat kehormatan dari Allah sebagai manusia teladan – uswatun hasanah (Al Ahzab ayat 21).
3         Pendidikan Islam harus mampu mengembangkan potensi yang baik. (Asy Syams ayat 7-8).
4         Pendidikan Islam harus berujung pada tingkat kesadaran yang tinggi. (Ali Imran 79 dan An Nur 37).
5         Pendidikan Islam harus berujung dan mampu menciptakan manusia yang berilmu, bertaqwa, dan beramal shaleh/akhlak.

Adapun akhlak  dalam Islam bertumpu pada 4 pilar minimal, yaitu :

-    Mental Spiritual
    Mental spiritual merupakan karakter dasar manusia yang berbentuk nilai-nilai kemanusiaan sejati, yang  mempertalikan semua kegiatan manusia dengan penciptanya, misalnya keikhlasan, kejujuran, kesederhanaan, integritas pribadi, dan kerendahan hati.


-    Keterampilan Mental ( mental skill )
        Keterampilan mental ialah sifat-sifat kejiwaan yang diperlukan oleh manusia dalam menjalankan tugas-tugas profesionalnya sehari-hari, seperti kecakapan berkomunikasi, keterampilan memengaruhi orang lain, kepandaian mengambil keputusan yang tepat dan cepat, berwawasan ke depan, pandai mengevaluasi serta memprediksi situasi secara akurat, berorientasi pada waktu, serta kemampuan bekerja secara efektif dan efisien.

-    Keterampilan keahlian ( labour skill )
      Keterampilan keahlian atau mental ahli adalah kecakapan-kecakapan khusus yang harus dimiliki  oleh seseorang sesuai dengan profesi atau karier yang digelutinya.

-    Etika atau adab sopan santun
      Istilah teknis ilmiah sering disebut etika praktis. Ia merupakan sifat-sifat lahiriah yang harus dimiliki sesuai dengan kedudukannya. Etika praktis ini mencakup penampilan fisik, seperti  cara berbicara, cara berpakaian, cara berjalan, cara memandang, dan cara berhubungan dengan  orang lain.

Itulah akhlak Islam yang mencakup semua aspek kehidupan. Kenakalan, penyimpangan, dan penyelewengan merupakan akibat dari ketidakmampuan jiwa untuk memberi arah dan ketidakmampuan diri untuk mengendalikan dorongan yang sebenarnya bertentangan dengan nuraninya.

Bila uraian tersebut kita kaitkan dengan kenakalan remaja, kita bisa mencermati remaja-remaja yang bermasalah dan tidak mampu mengatasi masalahnya secara benar dan tuntas cenderung untuk berperilaku menyimpang dan nakal.

Hanya dengan kesadaran agama yang kuat yang bersumber dari keyakinan yang teguh dan benar serta kesan dari ibadah yang ikhlas yang akan menyelamatkan remaja dari malapetaka perilaku yang tidak benar.

Hanya keyakinan pada Allah dan hari Akhirat, terutama kayakinan balasan surga bagi yang berbuat baik dan neraka bagi yang jahat, yang akan membentengi remaja dari hal-hal yang kini tengah merisaukannya.




No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...