Sunday, May 5, 2013

Hidup Yang Berkecerdasan



Oleh : Ust Uri Mashuri


Mukadimah

         “Bukanlah kebajikan kamu menghadapkan mukamu ke Timur dan Barat, tetapi yang disebut kebajikan itu adalah manusia yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab Allah dan para Nabi, serta dia memberikan harta yang dikasihinya kepada karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang dalam perjalanan, peminta-minta, dan juga untuk membebaskan hamba sahaya, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, menepati janji bila ia berjanji, bersabar dalam kemiskinan, kemelaratan, dan saat peperangan. Mereka itulah orang-orang yang berlaku benar dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.”


Kecerdasan

Salah satu anugerah Allah yang tak ternilai harganya adalah kecerdasan. Dengan kecerdasan manusia dapat mengembangkan diri menuju kesempuranaan. Ia dapat mengembangkan ilmu dan teknologi, membangun peradaban dan keadaban. Kecerdasan memungkinkan manusia maju dalam berpikir, berbuat, serta berkarya membangun diri, keluarga, dan masyarakat untuk kesejahteraan bersama sebagai khalifah di muka bumi.

“Pandai-pandai membawa diri”, itulah pesan yang sering dituturkan orang tua saat melepas anaknya yang akan pergi merantau atau saat pertama kali meninggalkan rumah mengadu nasib di negeri orang. Ada pesan tersirat yang mendalam di balik kata pandai-pandai. Kepandaian akal saja tidak cukup. Perlu seni hidup untuk menjalaninya. Itulah kecerdasan-kecerdasan lain yang diperlukan dalam mewujudkan tujuan agama Islam, yaitu “Lisa’adatil basyari fi ma’asyihim wa ma’adihim” –kebahagiaan manusia dunia dan akhirat.

Di samping kecerdasan intelegensi, kita juga mengenal kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, kecerdasan linguistik, kecerdasan bodi kinestik, dan kecerdasan interpersonal, serta yang takkalah penting, Allah menganugrahkan kepada manusia kecerdasan spiritual. Itulah kemuliaan anak Adam di muka bumi yang membedakan dari makhluk-makhluk lain.


Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi tidak datang secara alami. Allah menganugrahkannya berupa potensi yang dapat dikembangkan, dikenalkan, diajarkan, dilatih, dan dibiasakan. Hal tersebut merupakan suatu keniscayaan agar menjadi karakter yang mendarah daging (akhlak).

Waktu berlalu dan zaman berubah. Dulu waktu kehidupan masih sederhana, yaitu cukup meniru nenek moyang kita. sekarang sudah tidak bisa lagi, kehidupan industri modern telah menghadirkan tantangan emosional yang tidak lagi bisa diantisipasi secara alami. Perilaku-perilaku menyimpang, kejahatan-kejahatan, serta kriminalitas yang mengiringi kemajuan zaman termasuk oleh anak-anak di bawah umur mengundang kita untuk mencerdaskan emosi secara aktif.

Michael Narden mengatakan: “Sebahagian dari kita tidak lagi hidup di desa yang berpenduduk hanya beberapa ratus orang. Membiarkan anak bermain sendiri di kebun, membiarkan anak bermain bersama anak tetangga kampung di lapangan dengan permainan yang alami, tanpa ada rasa khawatir. Namun, kondisi sekarang, kita hidup bergerombol memadati kota. Tekanan-tekanan kumulatif dari kehidupan modern telah mendatangkan bencana-bencana berupa depresi, kecemasan, susah tidur, anak temperamental, dan masalah-masalah psikologis lainnya.”

Para peneliti menemukan bahwa kecerdasan (baca keterampilan) sosial dan emosional ini mungkin bahkan lebih penting bagi keberhasilan hidup ketimbang kemampuan intelektual. 80% kemungkinan keberhasilan seseorang dikarenakan EQ. Namun, jangan dipahami IQ tidak penting. Keterampilan EQ bukan lawan IQ. Namun, keduanya berinteraksi dinamis pada tataran konsep maupun kehidupan nyata.

         Salovey, seorang psikolog, menyebutkan bahwa kecerdasan emosi itu adalah kondisi-kondisi untuk menerangkan kualitas emosi yang penting untuk menggapai keberhasilan, yaitu
1         Empati
2         Mengungkapkan dan memahami perasaan
3         Mengendalikan amarah
4         Kemandirian
5         Kemampuan untuk menyesuaikan diri
6         Disukai
7         Kemampuan memecahkan masalah antarpribadi
8         Ketekunan
9         Kesetiakawanan
10     Keramahan, dan
11     Sikap hormat.



Emosi dari Segi Moral

Keberhasilan perkembangan moral berarti dimilikinya emosi dan perilaku yang mencerminkan kepedulian akan orang lain, saling berbagi, bantu membantu, saling menumbuhkan, saling mengasihi, tenggang rasa, dan kesediaan mematuhi aturan-aturan. Agar menjadi manusia bermoral, William Damon, pakar perkembangan  anak-anak dan remaja, mengemukakan bahwa anak-anak harus mendapatkan keterampilan emosional dan sosial sebagai berikut:
11     Mereka harus mengikuti dan memahami perbedaan antara perilaku yang baik dengan perilaku yang buruk dan mengembangkan kebiasaan dalam hal perbuatan yang konsisten dengan sesuatu yang dianggap baik
12     Mereka harus mengembangkan kepedulian, perhatian, dan rasa tanggung jawab atas kesejahteraan hak-hak orang lain, yang diungkapkan melalui sikap peduli, dermawan, ramah, dan pemaaf.
13     Mereka harus juga merasakan reaksi emosi negatif, seperti malu, bersalah, marah, takut, dan rendah hati bila melanggar aturan moral.

Emosi-emosi negatif yang dapat dimanfaatkan atau dapat memotivasi anak-anak untuk belajar dan mempraktikkan perilaku-perilaku yang proporsional, seperti
14     Takut dihukum
15     Kekhawatiran tidak diterima orang lain
16     Rasa bersalah bila gagal memenuhi harapan seseorang
17     Malu bila ketahuan berbuat sesuatu yang tidak dapat diterima orang lain

Kecerdasan Spiritual
“Kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya. Kecerdasan menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain”. Demikian Danah Zohar dan Ian Marshall memberi pengertian. Selanjutnya, mereka berdua mengatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif, bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.
Allah menganugerahkan kepada manusia tiga daya jiwa, yaitu
18     Akal atau thinking, daya pikir, atau rasio
19     Rasa atau feeling, afeksi atau emosi
20     Iman atau willing, kemauan atau karsa

Sering terjadi antara akal dan perasaan tidak dapat berjalan seiring sebab kedua daya itu memiliki pemuasan dan ukuran yang sangat berbeda, bahkan bisa bertentangan. Bila pertentangan itu tidak ada yang menengahi atau tidak ada rujukan tempat berpijak, maka akan terjadi kebimbangan-kebimbangan. Bila pertentangan itu terus berlanjut akan berakibat benturan demi benturan karena salah satu cenderung untuk dominan. Akibatnya, hal itu membuat manusia mengalami ketidakbahagiaan.
George Sarton mengatakan bahwa dalam hidup manusia senantiasa mencari tiga hal, yaitu
21     Kebenaran
22     Keindahan
23     Kebaikan

Kebenaran akan dipuaskan oleh rasio melalui ilmu pengetahuan. Keindahan akan dipuaskan melalui seni dalam berbagai bentuk dengan manifestasi daya rasa yang disebut tadi. Daya rasa ini pula yang membuat manusia bahagia atau sengsara.
Manusia yang didominasi oleh rasa akan menghasilkan manusia yang sarat dengan benturan-benturan masalah karena memang rasa sulit untuk diukur. Ia akan kurang berfikir apalagi tafakur. Ia sering berbuat yang irrasional. Sebaliknya, jika seseorang hanya mampu menggunakan daya pikirnya saja, maka ia akan menjadi orang agnostist, yaitu orang yang ragu akan Tuhan. Ia tidak mampu membuktikan Tuhan itu ada atau tidak ada, bahkan lebih jauh akan menyeret dia menjadi atheist.

Taqwa sebagai perwujudan Kecerdasan Spiritual
Islam mengajarkan keseimbangan. Ketiga daya tersebut hendaknya difungsikan dan diperankan secara baik dan tepat sehingga terciptalah keselarasan dalam jiwa. Islam mewajibkan untuk mengasah, mempergunakan dan mempertajam akal dengan mempelajari alam semesta, falsafat, fiqh, dan sebagainya. Islam pun mengajarkan penghalusan rasa dengan ihsan, akhlak, tasawuf, serta banyak mengingat hadiratNya. Ha; ini dapat dicapai dengan taklupa menyuruh memperbaiki iman, meningkatkan taqwa, serta memperbanyak ibadat.
Al Qur’an sebagai pedoman hidup setiap muslim adalah kitab suci yang mampu menggetarkan rasa yang paling halus serta menggedor keras pintu akal dan juga mengetuk lembut kesadaran kita agar mampu mencerna dan memahami petunjuk Ilahi yang suci itu.
Kecerdasan spiritual mendapatkan bentuknya yang utuh dan purna dalam cakupan kata pendek, yaitu taqwa, tingkat paling tinggi dan mulia martabat di sisi Allah. Surat Al Baqarah ayat 177 yang dikutip di awal tulisan ini menggambarkan secara nyata dan konkret perilaku mereka yang memiliki kecerdasan spiritual, yaitu

24     Memiliki keyakinan – iman – kepada Allah
25     Memiliki kesadaran tanggung jawab di akhirat
26     Memiliki keyakinan terhadap malaikat
27     Kesediaan menerima kebenaran
28     Memiliki kesadaran yang tinggi di bidang sosial
29     Memenuhi kewajiban beribadah
30     Memiliki kesadaran fungsi sosial dari harta benda yang dimilikinya
31     Memiliki ketabahan dalam menghadapi kesengsaraan hidup

Kecerdasan spiritual adalah kemampuan seseorang untuk dapat mengaplikasikan kebenaran yang diyakininya dalam menghadapi kenyataan hidup dengan baik, benar dan tepat  sesuai dengan tugas, tujuan serta bekal yang diberikan Maha Pencipta kepadanya.

Mari kita renungkan ucapan Mahatma Gandhi yang tertuang dalam daftar tujuh dosa yang menodai hati nurani
32     Kekayaan tanpa kerja
33     Kenikmatan tanpa suara hati
34     Pengetahuan tanpa karakter
35     Perdagangan tanpa etika
36     Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, dan
37     Politik tanpa prinsip
                                          

Wallahu a’lam
Cirebon, 25 Juni 2006

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...