Sunday, May 5, 2013

Serasi Dalam Kemajemukan



Oleh : Ust Uri mashuri



Allah tidak melarangmu sekalian berbuat baik dan memberi sebahagian hartamu kepada yang tidak seagama dengan kamu, selama mereka tidak memusuhi kamu dalam agamamu atau mengusirmu dari kampung halamanmu.

                                              (Al Mumtahanah, 9).


Pangkalan Berpijak

Nabi Ibrahim A.S begitu istimewa dalam pandangan Islam. Banyak ibadah dan keteladanan yang dinisbatkan dengan pengalaman beliau seperti ibadah haji dan qurban. Beliau adalah nenek moyang monotheisme yang pertama kali mendeklarasikan ke-Esaan Tuhan kepada seluruh manusia, mengajarkan tentang kehidupan akhirat serta neraca keadilan yang diberikan Tuhan saat menghisab amal perbuatan manusia di kehidupan nanti. Semua agama Samawi, Nabinya merupakan turunan beliau.

Agama-agama Samawi diakui oleh Islam sebagai satu keluarga dalam persaudaraan iman. Mereka dijuluki ahl kitab -Keluarga dalam petunjuk– istilah Ahl bertumpu pada persamaan dan keserasian. Memang itulah sendi persaudaraan yang merupakan fondasi kerukunan. 

Allah memerintahkan kepada umat Islam agar menyeru kepada Ahli Kitab dengan kalimat-kalimat yang sama, kalimat yang paralel, kalimat yang tidak mengandung perbedaan. Kalimat itu berupa penyembahan kepada Zat Yang Maha Esa, yakin pada adanya kehidupan nanti di akhirat, dan keharusan untuk senantiasa menyeru kepada amal-amal yang shaleh –amal yang baik– dalam kehidupan di dunia.

Kebencian karena perbedaan keyakinan dan paham jangan menghalangi seorang muslim untuk tidak menegakan keadilan. Obyektifitas harus senantiasa ditonjolkan.

Umat Islam yakin seyakin-yakinnya bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa bergandengan tangan dengan Nabi Isa A.S dalam membawa misi. Keduanya membawa rahmat untuk manusia.

“Aku datang untuk membebaskan bumi”, demikian sabda Nabi Isa A.S.
“Aku rahmat bagi seluruh alam”, demikian pula sabda Nabi Muhammad SAW.
Seorang muslim senantiasa dianjurkan untuk berulang ulang membaca ayat 33 surat Maryam, yang artinya :
“Salam sejahtera dilimpahkan untukku –Isa A.S.– saat aku dilahirkan, saat aku diwafatkan, dan saat aku dibangkitkan hidup kembali.”

Demikian istimewa kedudukan Nabi Isa di hati seorang muslim. Pelanggaran besar dan taktermaafkan bila ada yang merendahkan apalagi menghinakannya. Tapi tidaklah demikian bagi umat lain terhadap Nabi Muhammad anutannya umat Islam. Kita acap mendengar cercaan, hinaan, bahkan hujatan yang membuat pengikutnya terluka hati.

Islam jauh membuka lebar sayap toleransinya, tergambar dalam awal surat At-Tin. Tersirat dalam surat tersebut pengakuan keberadaan agama-agama besar yang banyak mempengaruhi perilaku umat manusia di dunia ini.

“Demi pohon tin, pohon zaitun, bukit Tursina, serta Negeri yang aman ini –Mekah.” Syeh Jamaludin Al Qasimi (1866-1914) dalam pemahamannya menyebutkan bahwa At-Tin yang dimaksud adalah pohon suci di mana Sidharta Gautama untuk pertama kali mendapatkan pencerahan dari Tuhan. Zaitun adalah pohon yang banyak tumbuh di sebuah bukit dekat Al-Quds (Yeruzalem) tempat Nabi Isa A.S menerima wahyu dan diangkat ke sisi Tuhan. Bukit Tursina adalah tempat Nabi Musa A.S menerima kitab Taurat dan bercakap-cakap dengan Tuhan, sedangkan negeri yang aman ini merupakan negeri Mekkah tempat Nabi Muhammad S.A.W. merima wahyu untuk pertama kali.

Mari kita simak kitab ulangan 33:2 “katanya: bahwa Tuhan telah datang dari Torsina dan telah terbit bagi mereka itu dari Seir, kelihatanlah Ia gemerlapan cahayanya dari Gunung Paran.”

Torsina dan Seir, semua tahu, itu tempat Nabi Musa dan Nabi Isa menerima wahyu. Sedang Gunung Paran sebagaimana dijelaskan dalam kitab kejadian 21:21 adalah tempat Nabi Ismail dan ibunya Hagar atau Hajjar tinggal. Tempat itu adalah Mekkah Al Mukaromah tempat Nabi Muhammad S.A.W. diangkat menjadi Rasul.   

Penafsiran seperti di atas boleh saja tidak diterima. Namun, penolakan terhadap empat tokoh dunia yang banyak memengaruhi kehidupan orang banyak sangatlah naΓ―f. Kita dituntut untuk merunduk menaruh hormat pada mereka.

Jembatan Hati

Ada anugerah besar yang Tuhan berikan kepada kita. Anugerah itu adalah hati nurani, sifatnya fitri -suci – senantiasa cenderung pada kebaikan ––hanif. Tuhan memberikannya pada semua manusia tanpa pandang bulu. Nurani senantiasa menyuarakan kebenaran, kesucian, kejujuran, serta mengarahkan kita pada kemaslahatan, kedamaian, dan ketentraman. Itulah jembatan persaudaraan antarmanusia yang dalam keyakinan umat Islam merupakan bagian dari Tauhid, unity of  man kind.

Bila kita mampu membangun jembatan hati antarkita, kita akan mendapat pola yang kokoh dalam berinteraksi satu dengan yang lain tanpa harus mengusik keyakinan masing-masing. Permasalahannya, apakah kita mampu mendengar bisikan hati nurani? Apakah kita lebih mendengar hawa nafsu kita yang cenderung mengedepankan kepentingan pribadi atau  kelompok dalam wawasan yang sempit dan temporal?

Saya tidak dapat membayangkan apa jadinya seandainya umat Kristen hanya berpegang pada Matius 20:19 “sebab itu pergilah kamu, jadikan sekalian bangsa itu muridku, serta baptiskan dia dengan nama Bapak dan Anak dan Ruhul Kudus.”

Kemudian, umat Islam hanya berpegang pada surat Al-Imran ayat 19 dan 85 yang menyatakan bahwa hanya agama Islam yang akan diterima dan diridhai Allah. Tentunya, yang akan terjadi adalah konflik yang akan membawa pada kemadharatan.

Islam dalam berdakwah menggariskan prinsip-prinsip yang sportif dan berlandaskan ahlak yang mulia. Pemaksaan, intimidasi, penipuan, manipulasi, dan mengekploitasi kelemahan tidaklah dibenarkan. Kebijaksanaan (hikmah) tukar pikiran yang jernihdam  keteladanan yang baik itulah yang harus ditempuh oleh shahibud dakwah. Itulah ajaran Islam yang menjunjung tinggi toleransi, kebebasan, keterbukaan, kewajaran, keadilan, serta kejujuran.

Saya yakin ajaran Kristen pun demikian bila bersumber dari misi Nabi Isa A.S yang penuh kasih dan kelembutan.

Insya Allah, dengan semangat kasih yang diteladankan oleh Nabi Isa AS dalam menjalani hidup dan kehidupan dan umat Islam dengan semangat Al-Quran dan As Sunah sebagai mercusuar pembimbing menjalani kehidupan, hal tersebut akan menjadi dasar pengokoh persaudaraan sejati dalam kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Hanya dengan semangat itu kedua umat akan berjalan seiring bersama-sama dalam mengatasi berbagai masalah kemasyarakatan dan menjawabnya dengan solusi bijaksana.

Pasang Surut Hubungan Islam Dan Kristen

“Takkenal maka taksayang”, adalah ungkapan yang sangat popular dan sangat sulit untuk diingkari kebenarannya.

Banyak asumsi yang salah akibat tidak saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain. Tanpa alasan kadang-kadang timbul kebencian dan merasa terancam dengan komunitas yang berbeda paham dan berbeda keyakinan. Dialog tebuka dengan saling menghormati hubungan yang baik tanpa agenda tersembunyi menjadi kunci hubungan baik antarkomunitas.

Nabi Muhammad SAW menjadi contoh yang baik tatkala menerima rombongan kaum Nasrani dari wilayah Narjan, Beliau menerima dengan penuh hormat dan mengizinkan mereka berdoa di kediamannya.
Saat beliau menjadi penguasa di Madinah ucapannya membuat tenteram komunitas lain yang tidak sekeyakinan dengan beliau. Sabdanya, “Siapa yang mengganggu umat agama Samawi, maka ia telah menggangguku.”
Nabi juga berdiri hormat pada saat jenazah seorang Yahudi diusung lewat dihadapan beliau. Saat sahabat keheranan dengan sikap Nabi dan bertanya, “Bukankah ia seorang Yahudi?” Nabi menjawab pendek: “Ia pun adalah manusia.”

Penguasa Ethiopia Najasi yang beragama Kristen, patut mendapat acungan jempol pada saat ia menolak permintaan kaum musyrikin Quraisy untuk mengekstradisi kaum muslimin yang hijrah ke negerinya dengan alasan kemanusiaan. Contoh-contoh konkret hubungan yang indah antara dua agama yang berbeda keyakinan.

Amal shaleh dalam Islam yang dilakukan dapat melintasi etnis, agama, bangsa, dan negara. Amal shaleh berdiri di atas landasan kemanusiaan yang beradab, “Oleh sebab itu telah kami -Tuhan– tetapkan atas anak turunan Israil bahwasanya barang siapa yang membunuh tanpa kesalahan atau membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan ia telah membunuh umat manusia seluruhnya, barang siapa menghidupkan –berbuat baik- kepadanya maka sekakan-akan ia telah menghidupkan umat manusia seluruhnya.( Q.S Al-Madinah: 32).

Teroris yang sering kita dengar dan sangat menghantui kita pasti dilakukan oleh mereka yang tidak memahami secara baik ajaran agama yang mereka anut. Radikalisme tidak hanya terdapat dalam kalangan umat Islam, tapi juga terdapat dalam penganut agama lain, termasuk Kristen, Yahudi, Hindu, Budha, dan lain-lain. Tentunya, kewajiban kita untuk mencari akar masalah yang membuat mereka radikal seperti itu agar tuntas penyelesaiannya. Bila kita sikapi dengan ketidakjernihan hati dan pikiran, kita akan terjebak dalam konflik yang lebih dalam dan mengerikan.

Radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok yang menamakan Islam tidak saja terarah pada kelompok agama lain, tetapi juga bisa terarah pada semua muslim  yang dianggap tidak sepaham, seperti yang dilakukan sekelompok yang menamakan dirinya “organisasi Islam” saat berusaha membunuh presiden Mesir, Husnie Mubarok. Mereka berkata, “Dalam upaya melaksanakan hukuman Tuhan terhadap pelaku kejahatan, maka usaha untuk merenggut nyawa Husnie Mubarok merupakan tugas suci bagi kami.” Tentunya sulit bagi kita untuk memahami jalan pikiran seperti itu.

Kita berterima kasih kepada mereka-mereka yang telah menempuh jalan dengan melintasi jembatan hati untuk memahami perbedaan-perbedaan yang ada sehingga menjadi harmoni yang sangat mengagumkan. Mereka adalah pemikir dan penulis dikalangan Nasrani baik dari Katholik maupun Protestan yang dengan sepenuh hati dan pemikiran yang jernih sampai pada kesimpulan objektif menurut sudut pandang keahlian mereka.

Insya Allah, mereka merupakan angin segar yang bertiup untuk menyejukan hubungan antara Islam dan Kristen dengan penuh kedewasaan, dengan kadar toleransi yang tinggi. 

Toleransi yang penuh kedewasaan takkan menyentuh wilayah akidah –keyakinan– dan juga ibadah –ritual. Sebabnya, hal itu merupakan identitas masing-masing yang perlu dihormati.

Wilayah kehidupan dunia, sosial, politik, budaya, ekonomi, dan lain sebagainya masih terbentang luas. Semua ini tercakup dalam bahasa agama Islam muamalah yang merupakan tugas kemanusiaan bersama, yaitu khalifah di muka bumi.

                                 Wallahu a’lam.
Cigugur, 24 Djuqaidah 1425H
             6 Januari 2005

Disampaikan Pada Acara:
“Membangun Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Dalam Persaudaraan Sejati”
Kamis 6 Januari 2005, Di Gedung Pertemuan Paroki Kristus Raja Cigugur

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...