Wednesday, May 8, 2013

Berfikir Kreatif dan Produktif

Sebagai individu siapapun, kita dituntut berfikir kreatif dan produktif. Ini karena kebutuhan asasi. Setiap manusia  butuh ini.  Ingat,hidup selalu berhadapan dengan masalah sehingga diperlukan adanya ide-ide kreatif untuk mengatasi dan memecahkan masalah. Catat, persaingan tidak pernah berhenti sehingga harus selalu kreatif dalam menghasilkan ide-ide untuk membuat atau memperbaiki produk agar tetap unggul.

Apalagi yang mendeklarasikan sebagai seorang da'i, agent of change, pahlawan zamannya, pendobrak mitos, pelopor, pejuang dal lainsebagainya. Maka kreativitas menjadi wajib adanya. Karena dalam persaingan dengan ahlul bathil ia berhadapan dengan lawan yang berjuang sunggung-sungguh (berjihad) di jalan mereka. kenapa kita juga tidak berjihad di jalan kebenaran?

Lihatlah bagaimana kreativitas mereka dalam menjerat generasi muda muslim sehingga banyak yang terseret arus jahiliyah secara tak sadar. Melaului seni jahily mereka titipkan pesan apa saja yang sesuai misi bathil mereka. Mulai pacaran hingga menyembah setan. Mulai

Baik, kita mulai dari definisi berfikir kreatif ya. Menurut J.C. Coleman dan C.L. Hammen (1974), berpikir kreatif merupakan cara berpikir yang menghasilkan sesuatu yang baru —dalam konsep, pengertian, penemuan, karya seni. Sedangkan D.W. Mckinnon (1962) menyatakan, selain menghasilkan sesuatu yang baru, seseorang baru bisa dikatakan berpikir secara kreatif apabila memenuhi dua persyaratan:

Pertama, sesuatu yang dihasilkannya harus dapat memecahkan persoalan secara realistis. Misalnya, untuk mengatasi kemacetan di ibu kota, bisa saja seorang walikota mempunyai gagasan untuk membangun jalan raya di bawah tanah. Memang, itu baru, tapi untuk ukuran Indonesia membuat jalan raya di bawah tanah tidak realistis. Dalam kasus ini sang walikota belum dikatakan kreatif. 

Kedua, hasil pemikirannya harus merupakan upaya mempertahankan suatu pengertian atau pengetahuan yang murni. Dengan kata lain, pemikirannya harus murni berasal dari pengetahuan atau pengertiannya sendiri, bukan jiplakan atau tiruan. Misalnya, seorang perancang busana mampu menciptakan yang unik memesona. Perancang itu dapat disebut kreatif asalkan rancangan itu memang benar-benar ide dan karyanya, bukan mencuri gagasan orang lain. Sumber : http://www.blog-berbagi.com/2012/05/berpikir-kreatif-pecahkan-masalah-blog.html

Berfikir Produktif
Kata kedua adalah berfikir produktif, tidak sekedar berfikir tapi ia memiliki indikasi
berpikir produktif yang menurut Marzano (dalam Kamdi, 2002) sebagai berikut :

(1) self-regulated thinking and learning, yakni kompetensi mengetahui apa yang sedang dipikirkannya, tindakan yang terencana, mengetahui sumber-sumber yang penting, sensitive terhadap umpan balik, dan evaluatif terhadap keefektifan tindakan;

(2) critical thinking and learning, yang dicirikan oleh tindakan yang ceermat, jelas, terbuka, bisa mengendalikan diri, sensitive terhadap tingkat pengetahuan

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...