TULISAN KE-100 DAN KEAJAIBAN KECIL




“Bi, nulis apa dooonk........? lagi nggak ada ide niiih..!” Kata Fathia, suatu malam. Kira-kira pukul sembilan.

“Kalau nggak ada ide, coba nulisnya tentang "menulis" saja, simple kan?” Saya jawab saja begitu. Praktis dan gampang ditindaklanjuti.

“ya udah...” Jawabnya.

Dan kira-kira satu jam kemudian, sebuah postingan tayang di blognya, www.fathiya.blogdetik.com.


Awalnya hanya kumpulan tulisan di komputer. Kemudian karena terprovokasi dengan tulisan saya yang dimuat di blogdetik, Fathia, anak pertama saya, mulai ingin juga nge-blog.   Hal yang memotivasi, salah satunya karena tulisan yang masuk headline, apalagi masuk blog pilihan di kanal news.detik.com akan dibaca ribuan pengunjung. Ini dapat dilihat di statistik blog.   Inilah sepertinya yang jadi sebab ada rasa iri. Tapi ini iri yang positif.

Kemudian iapun mulai menulis di blogdetik. Hanya saja, karena masih kelas 8 SMP, tulisannya mula-mula masih abege banget.   Penuh kosa kata alay. Bahkan ada postingan yang berisi kamus bahasa alay yang kriwil-kriwil dan bikin kriting itu. Selain itu mungkin terbawa arus penulis a-be-ge yang tergabung dalam KKPK (Kecil-Kecil PunyaKarya), iapun memilih  untuk menulis beberapa tulisan fiksi. Sepertinya coba  membuat novel. Belakangan, rupanya Fathia lebih sreg menulis opini. Sama seperti abinya. Novelnya jadi berhenti begitu saja. Kasihan juga para tokoh di novelnya. Jadi patung semua, he he


Ledakan “kembang api” itupun terjadilah!

Ini berawal dari sebuah tulisan bertema  politik. Awalnya ia ragu mengangkat tema ini. Karena menyebut nama sebuah parpol. Di jejaring internet, nama parpol  ini memang merajai. Ya dicaci, sekaligus juga dipuji. Fathia khawatir kalau mendapat komentar-komentar yang bernada bullying. Tapi saya coba beri optimisme. Kalau yang ditulis itu sebuah kebenaran, ya tulis saja.

Kemudian iseng saya kontak admin situs PKSPiyungan via email. Barangkali bisa dimuat di sana. Rupanya, tulisan bertema politik oleh seorang a-be-ge adalah sebuah  keunikan. Dan meledaklah tulisan itu.  Saya telusuri di internet, ternyata banyak website yang me-reply. Komentar juga banyak sekali, baik di Piyungan maupun yang di blogdetik-nya Fathia. Untuk beberapa lama, merajai Top Posting, Terbanyak Disukai dan Terbanyak Dikomentari di halaman muka blogdetik. Kalau di facebook dan twitter tak terhitung yang nge-shrare dan retweet. Efeknyapun ke mana-mana. Salah satunya follower twitter bertambah 500an hanya dalam dua hari. Padahal saya berbulan bulan  punya akun twitter, sampai sekarang baru punya 30-an follower. Untuk beberapa saat, iapun jadi celebrity di dunia maya. Seperti nyala kembang api di angkasa maya.

Lalu saya coba provokasi lebih lanjut. Karena ini moment bagus.  Sayang kalau dilewatkan. Harus bisa dipakai buat mengungkit lagi potensinya hingga maksimal. Maka saya tantang untuk menulis setiap hari : #OneDayOneArticle.  Adapun argumen yang saya sampaikan : kalau orang dewasa menulis  setiap hari sudah ada dan tidak istimewa. Saya mencatat nama Wijaya Kusuma, Jamil Azzaini, Ahmad Arqom. Tapi semuanya kan sudah bapak-bapak. Pak Jamil Azzaini malah dengan bangga  menyebut dirinya kakek. Nah, yang a-be-ge menulis setiap hari saya belum menemukan. Tentu sebuah pencapaian manakala itu bisa diwujudkan.

Tidak  dinyana, Fathia menyanggupinya. Dan hari-hari berikutnya sayapun menyaksikan pemandangan unik itu setiap harinya. Sebelum tidur, Fathia sudah standby di depan netbook Toshiba-nya. Ngadekluk menulis sebuah artikel. Kalau ngantuknya tak tertahankan, ia tertidur dengan netbook masih menyala. Biasanya saya off-kan dulu dan simpan  tulisannya di draft pada dashboard blogdetik. Pagi setelah subuh, ia meneruskan tulisannya hingga selesai.

Bagi saya, tantangan ini kadang diperlukan. Apalagi ini tantangan yang kemudian disepakati. Maka ini menjadi target pribadi Fathia. Bukan lagi target saya. Maka energinya ada di dalam diri sendiri. Tidak tergantung orang lain.

Kalau sedang blank tema tulisan, biasanya ia ngajak saya diskusi. Kadang saya usulkan sebuah tema, lalu dibahas bareng-bareng. Kalau manjanya sedang kumat, ia minta dibuatkan mind-mapping di buku catatan. Setelah saya buatkan, ia segera mengetik dengan  kecepatan yang memang sudah di atas rata-rata itu berdasarkan  alur di mind-mapping itu. Tak lama kemudian, sebuah  artikel sudah tayang di blogdetik.

Selain kecepatan menulis yang semakin cepat. Gaya  penulisan juga semakin dewasa. Padahal saya hanya menyampaikan dua rumus saja : Upayakan sesuai EYD, dan kalimatnya ringkas-ringkas saja. Kenapa EYD? karena tulisan itu untuk dibaca semua orang, bukan kalangan a-be-ge saja. Apalagi diri sendiri. Kemudian harus ringkas kalimatnya, agar yang baca tidak cepat lelah. Maka tulisanpun menjadi atraktif.

Per tanggal 17 Mei 2013, berarti sudah dua bulan Fathia menulis setiap hari. Bila digabungkan dengan tulisan terdahulunya, maka tulisan yang diposting tanggal 20 Mei 2013 di www.fathia.blogdetik.com, adalah tulisan ke-100. Dan saya punya janji kalau sudah mencapai angka seratus saya akan buatkan alamat web dengan domain sendiri alias tidak gratisan lagi. Dan, official blog dengan alamat www.fathiasyafiqah.com pun sekarang sudah tayang di internet.

Ya, angka seratus mungkin hal biasa bagi penulis besar. Tapi bagi saya, itu sebuah pencapaian penting seorang anak yang masih es-em-pe. Sosok yang masih hijau di mata para orangtua yang seringkali dinilai dgn under-estimate. Maka, saya menyebutnya sebagai “keajaiban kecil”.


Karawang, 27 Mei 2013

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah