Sunday, May 5, 2013

Ibda Binafsik



Oleh : Ust. Uri Mashuri


Ibda binafsik”, mulailah dari dari sendiri, demikian Nabi memberi pesan kepada ummatnya. Kita benar-benar diingatkan, disadarkan, sebab kita menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Kita menginginkan reformasi, akan tetapi diri kita sendiri tidak mau berubah. Berislam itu, artinya, siap tunduk dan patuh kepada ketentuan Allah agar kita berubah ke arah kesempurnaan hidup.

          Dari mana kita mulai? Dari diri sendiri sesuai dengan pesan Rasulullah di atas. Islam bukan ajaran yang mengawang-awang seperti teori-teori rumit dalam filsafat yang abstrak. Islam membumi. Ajarannya bisa disimpulkan dengan sederhana, praktis, dan seimbang. Siapa pun bisa melaksanakan Islam dengan baik. Dari guru besar sampai yang buta huruf, semuanya bisa menikmati Islam yang penuh rahmat.


Kenyataan yang kita hadapi

Kita lebih sering mengelus dada daripada bernafas lega. Betapa berita-berita yang menjadi santapan kita sehari-hari hampir tidak ada yang melegakan dada. Demo beringas, anarkis, perusakan lingkungan, kriminal, korupsi, pengadilan yang jauh dari hati nurani, pembunuhan, dan lain lain merupakan gambaran keruntuhan akhlak yang sangat memprihatinkan. Kita hidup di tengah-tengah  masyarakat yang menuju kehancuran. Tidak sulit kita mencari contohnya, seperti

-       Penghalalan segala cara
-       Menggusur nilai-nilai budaya dan agama yang  luhur
-       Bergaul yang melampaui batas
-       Cara berkeluarga yang tanpa kendali agama
-       Cara berpakaian, termasuk pakaian olah raga yang
        memperlihatkan bentuk tubuh
-       Cara berpesta yang terfokus pada kepuasan duniawi
-       Dan lain-lain masih panjang kalau kita sebutkan.

Wimpi Pangkahila menulis di koran terbitan Ibu Kota yang dapat disarikan isinya lebih menegaskan tentang ciri kerusakan moral bangsa. Beliau menyebutkan  10 ciri kehancuran moral bangsa, yaitu

1         Mudah melakukan kecurangan
2         Menganggap diri paling benar
3         Bertindak tidak rasional
4         Emosional dan mudah menggunakan kekerasan
5         Cenderung bertindak seenaknya
6         Cenderung hidup berkelompok dan berpaham sempit
7         Berpendirian tidak konsisten
8         Mengalami konflik identitas
9         Munafik
10     Ingin mendapatkan hasil tanpa kerja keras

Itupun  dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Al Qur’an melarang kita berputus asa walaupun kita kadang telah habis harapan menyaksikan betapa kemunkaran  merajalela di sekitar kita. Kita ubah dengan tangan kita kalau kita mampu dan memiliki wewenang. Kita ubah dengan lisan kita kalau wewenang tak dimiliki. Bila dengan lisan pun kita tidak mampu, hati kita jangan larut, jangan menyetujui, jangan toleran dengan kemunkaran dan kemaksiatan. Hati adalah benteng terakhir iman kita. Jagalah jangan sampai runtuh.
         

Aturan kehidupan Pribadi

Islam sangat  memperhatikan kehidupan pribadi demi terwujudnya kehidupan yang bersih, suci dan mulia. Itu pula kunci kebahagiaan. Sejak bangun pagi sampai kembali ke tempat tidur, Islam teliti mengatur umatnya, baik secara langsung maupun dengan hikmah yang tersirat di dalamnya, antara lain

1.       Kesucian dan kebersihan
Islam mengajarkan bersuci sebelum melaksanakan shalat, suci dari hadats dan najis yang merupakan syarat menunaikan kewajiban yang satu ini. Kalau  bersih adalah dari kotoran, sedangkan suci adalah dari najis.
   Kita dapat memastikan, pengaruh apa yang diakibatkan dari keharusan melaksanakan shalat lima kali sehari semalam dengan pengertian harus suci dan bersih hati, pikiran, badan, pakaian, tempat dan lingkungan sekeliling,
Keharusan itu kita kerjakan sejak kita aqil baligh sampai akhir hayat.
Lihat  (An Nisa ayat 43) dan (Al Maidah  ayat 7  )

2.       Diet   -Pengaturan makanan
Islam  memberi perhatian yang khusus terhadap makanan dan minuman. Pada dasarnya, Islam memberi patokan dalam makanan dan minuman, yaitu ”setiap yang suci dan bersih serta berfaedah bagi tubuh manusia adalah halal. Sebaliknya, apa-apa yang tidak baik, kotor, dan merugikan kesehatan adalah haram baginya. “ Melakukan yang haram adalah dosa baginya.
Islam melarang makanan dan minuman tertentu :

2.1.     Minuman keras yang memabukkan dan mengakibatkan rusaknya jaringan tubuh   (Al Maidah 93 – 94).

Semua  bahan yang dihasilkan dari babi –daging, lemak, dan kulit–; binatang buas yang menangkap mangsanya dengan menggunakan kuku atau taring; burung yang memangsa dengan cara menyambar seperti rajawali, gagak, nazar; binatang pengerat –tikus, cecurut, birog, binatang reptil, cacing dan lain-lain; serta binatang yang halal yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah, termasuk darah, bangkai, dan nanah.

Islam ketat dan tak kenal kompromi dalam menjaga kualitas makanan. Untuk makanan yang halal saja, Islam mengharuskan tidak boleh berlebih-lebihan. Islam pun menggariskan yang halal dan baik sebab yang halal pun belum tentu baik bagi orang-orang tertentu.

Di samping zat makanan  yang diharamkan, Islam juga mengharamkan  makanan yang diatur halal, tetapi diperoleh dengan cara yang tidak sah menurut agama.


Pakaian dan Perhiasan

Islam tidak mengharamkan perhiasan, bahkan menganjurkan kepada umatnya untuk berhias dalam kondisi dan situasi tertentu. Islam membuat  kriteria tertentu, baik untuk laki-laki maupun  perempuan. Untuk laki-laki Islam menggariskan pantas, cukup mengikuti mode, sopan, dan gagah, serta tentunya menutup aurat.  Pakaian yang  menimbulkan kesombongan dan  menjatuhkan martabat serta dapat merangsang amat  tidak diperkenankan. Kain sutra murni dan perhiasan emas tidak boleh dipakai oleh laki-laki karena barang tersebut hanya cocok untuk perempuan.

Untuk perempuan, Islam menggariskan prinsip  menutup aurat, tidak tembus pandang, tidak ketat, pantas, dan mencerminkan kemuliaan dan kesucian yang memakainya.


Olahraga dan  Hiburan

Perlu kita renungkan bahwa bentuk-bentuk ibadah yang pokok dalam Islam, seperti sholat, shaum, dan haji, selalu membawakan peran olahraga meski pada dasarnya memang ditujukan untuk aktifitas spiritual. Semua itu dapat dimaknai bahwa Islam memberi ruang yang sangat luas untuk olahraga. Bahkan, Nabi menganjurkan kepada orang tua agar mengajari anaknya menunggang kuda , berenang, serta memanah.

Olahraga yang diperkenankan Islam adalah olah raga yang sehat, bermanfaat, bukan olahraga yang menimbulkan dosa, merugikan diri, dan merugikan orang lain.

Islam menegaskan bahwa mukmin yang kuat lebih baik dari mukmin yang lemah. Untuk membentuk itu semua, Islam menganjurkan olahraga serta hiburan yang sehat. Petunjuk dari Nabi berupa: “Bagi jasmanimu ada hak, dan bagi rohanimu ada hak“, cukup membuktikan bahwa Islam sangat memperhatikan kebutuhan jasmani akan kekuatan dan kesehatan, dan kebutuhan rohani akan hiburan dan kesegaran.


Wallahu a’lam
Kuningan, 2006

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...