Etika Islami



oleh : Ust. Uri Mashuri


Etika dalam pembahasan ini, bukan dalam pengertian sehari-hari yang hanya mengisyaratkan masalah kesopanan, tetapi dalam pengertian yang lebih mendalam dan lebih mendasar, yaitu sebagai konsep dan ajaran yang serba meliputi (komprehensif), yang menjadi titik tolak pandangan hidup tentang baik dan buruk serta benar dan salah. Dengan berbagai keterbatasan, sudah barang tentu pembahasan ini dibatasi pada hal-hal yang dianggap pokok saja.


Sejoli Iman dan Amal Shaleh

Iman yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah iman dalam pengertian yang tidak cukup hanya sebagai sikap percaya tentang adanya Tuhan atau Tuhan Yang Maha Esa, tetapi Iman yang menyikapi bahwa Allah sebagai Yang Benar dan Baik. Akibatnya, iman berlanjut dengan Islam, yaitu sikap menerima dan pasrah kepada-Nya yang diwujudkan dalam sikap menerima dan pasrah kepada kewajiban-kewajiban moral atau tantangan kehidupan bermoral.

Islam tidak dapat dipahami hanya sekedar formula-formula abstrak tentang keyakinan dan nilai karena setiap agama, termasuk Islam, sudah barang tentu terekspresikan dalam perilaku pemeluknya. Di sini kadang-kadang ada kekaburan dan tarik-menarik antara yang normatif dengan kenyataan sejarah. Mana yang murni dari agama atau tambahan dari manusia atau lingkungannya, kita mesti jeli membedakan antara yang revealed dengan yang realita.

Islam datang dengan sosok berbeda dari agama lain. Ajaran yang universal, skriptual, dan egaliter membuat Islam lebih kondusif mengikuti dan mengantisipasi kemajuan zaman.
Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia (hudallinnaas) merupakan fungsi yang utama. Ummat Islam tertantang untuk menangkap, memasyarakatkan, serta memahami dan melaksanakan petunjuk dari pesan-pesannya dalam kondisi dan situasi apa pun.
Dengan keyakinan dalam Islam bahwa Tuhan tidak boleh dipahami sebagai wujud mitologis yang harus serba dibujuk, Tuhan harus dipahami sebagai wujud etis yang menghendaki rida dan perkenan-Nya melalui kegiatan kebajikan atau amal saleh serta pemusatan orientasi hidup hanya kepada-Nya. Hal ini akan mendorong umat Islam mewujudkan keimanannya dalam bentuk yang konkret di tengah-tengah kehidupan.
Keinsafan dan kesadaran akan kemahahadiran Tuhan dalam hidup seorang muslim membuat hidupnya takkan terlepas dari kehidupan bermoral. Ia akan senantiasa menjaga pikir ucapan dan perbuatan, termasuk di dalamnya niat dan sikapnya agar tetap tidak ke luar dari garis yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya –dzikir. Itulah lingkaran penuh (full circle), yaitu kesadaran akan asal dan tujuan hidup –istirja.

Kesadaran itu membuat seorang muslim tidak mudah terguncang dalam kehidupan. Ia merasa aman dan terlindungi Sang Maha Benar. Ia  terbebas dari takut dan khawatir. Dirinya menjadi dewasa karena keyakinannya yang membuat dirinya sabar, tawakal, dan tidak berpandangan pendek atau tidak gampang terjebak kemilau duniawi.

Ia akan berhitung cermat untuk mempersiapkan kehidupan masa depannya, baik dunia maupun akhirat -taqwa. Ia tidak pernah berharap tanpa hak –qana’ah, tetapi puas secara positif –syukur. Ia menjalani hidup dengan penuh optimisme –raja, dan waspada akan kehancuran martabatnya sebagai manusia –khauf. Ia tidak melihat musibah sebagai hukuman untuk dirinya, tetapi musibah dipandang sebagai ujian peningkatan iman, pengurangan dosa, atau peringatan atas kelalaian. Kalah dan menang merupakan sesuatu yang digilirkan di antara manusia.

Kini dan Masa Depan

Ada dua karakter ketentuan dalam Al Qur’an, yaitu pokok-pokok peraturan dan peraturan. Yang pertama memberi kesempatan pada manusia untuk mengembangkannya karena ketentuannya hanya dalam garis-garis pokoknya saja. Sedangkan yang kedua, sangat ketat, yakni tidak memberi kesempatan pada manusia untuk ikut campur di dalamnya karena ketentuan itu tidak terikat oleh kondisi dan situasi.

Dengan dua ketentuan tadi, seorang muslim akan tetap dalam garis yang lurus tanpa terkekang kreativitasnya. Ia akan mampu bergerak mengikuti kemajuan zaman tanpa harus kehilangan jati dirinya. Ia membekali dirinya dengan senantiasa mengaktualisasikan pribadinya dalam sosok senantiasa meningkatkan kualitas seluruh segi kehidupannya. Pendidikan yang ditempuh sepanjang hidupnya senantiasa diarahkan untuk membersihkan jiwa, mengembangkan kecerdasan, dan membina watak.

Kebersihan jiwa adalah pendidikan harga diri pribadi sebagai manusia merdeka. Hanya Allah tempat memperhambakan dirinya. Allah satu-satunya sumber otoritas yang serba mutlak. Allah tidak bisa diketahui. Allah hanya bisa didekati dengan menggunakan shirathal mustaqin.

Mengembangkan kecerdasan merupakan porsi yang dipentingkan. Sebagai khalifah di muka bumi yang diberi wewenang memakmurkan dan mengolah kekayaan alam, mengembangkan kecerdasan merupakan hal yang tidak bisa ditinggalkan, apalagi kalau kita menyadari bahwa Allah tidak menyediakan barang jadi seluruhnya untuk manusia.

Membina watak, membina akhlak, atau membina karakter adalah tujuan akhir dari risalah yang disampaikan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Berpegang dari pesan abadi agama Islam, kita mampu menapaki kekinian dan mempersiapkan masa depan dengan sosok pribadi yang “mulia di sisi Allah dan terhormat di sisi manusia”. Pesan itu antara lain:

1         Mengatur hubungan antarmanusia
2         Peringatan jangan merusak di muka bumi (Ali Imran 112)
3         Kehormatan dari Allah bagi yang berilmu, beriman, dan beramal shaleh (Al Mujadalah 11)
4         Mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat (Al Qasas 77)
5         Kesempitan dada bagi yang mengingkari ketentuan Allah (Thaha 124)
6         Dunia akan diwarisi orang-orang yang shaleh (Al Anbiya 105)
7         Ummat yang berkesinambungan (Al Baqarah 143)

Selanjutnya Dr. Hamudah Abdalati menggariskan prinsip-prinsip Etika sebagai berikut;
  1. Allah adalah pencipta dan sumber segala kebenaran, kebaikan, dan keindahan
  2. Manusia bertanggung jawab dan memuji kepada Penciptanya
  3. Dengan kasih sayang-Nya, Allah tidak membebani manusia dengan sesuatu atau memberikan tanggung jawab di luar batas kemampuan. Namun, Allah juga tidak melarang manusia untuk menikmati kebaikan hidup
  4. Etika Islam itu sederhana, praktis, dan seimbang
  5. Pada dasarnya, semua dibolehkan dalam Islam, kecuali yang diperintahkan dan yang diharamkan sedangkan perintah dan larangan jumlahnya sangat sedikit bila dibanding dengan yang dibolehkan
  6. Pertanggungjawaban terakhir ialah pada Allah, sedangkan kesenangan dan kenikmatan adalah hasil tertinggi yang diberikan Allah atas jerih payah manusia

Prinsip itu mencakup banyak hal, yaitu hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan dirinya, dan hubungan manusia dengan lingkungannya.

                                                   ***

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Hari Pertama Di Sekolah Alam

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah