Menahan Diri


 oleh : Ust Uri Mashuri



Tidak terasa waktu terus bergulir. Kini kita sampai pada bulan suci Ramadhan. Bulan penuh kasih-sayang, bulan penuh rahmat, bulan penuh ampunan, bulan sabar, dan juga bulan diturunkannya Al Qur’an.

Mari kita sambut kehadirannya. Kita gali dan kita  reguk hikmah yang tersimpul di dalamnya. Sebuah   pelatihan yang paripurna agar manusia menjadi  raja dalam dirinya, bebas dari pebudakan hawa nafsu, serta keinginan-keinginan yang tidak pantas yang akan menjatuhkan harkat martabat kemanusiaannya.

Ramadhan dengan shaumnya  mengisi jiwa dengan rahmat memberi kemerdekaan pada pola pikir serta memberi kedamaian pada hati. Shaum dilakukan  sebulan penuh dengan sepenuh ketulusan dan kebaikan. Insya  Allah, hasilnya adalah kualitas ketaqwaan  yang menjadi martabat termulia di sisi Allah.

Kepekaan sosial adalah salah satu  hikmah yang mesti tercapai dari ibadah shaum. Di samping itu, hikmah yang lainnya adalah tercapainya ketahanan jasmani, ketahanan rohani, serta ketahanan akhlak yang sangat diperlukan dalam meniti kehidupan yang berkualitas. Shaum mendidik kita agar senantiasa memiliki empati, yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang tidak punya. Salah satu contohnya adalah merasakan lapar serta dahaga.

Bukan Tujuan

Shaum sendiri bukan tujuan, tetapi hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan. Demikianlah seluruh ibadah mahdhoh dalam Islam bukan merupakan tujuan. Shalat dilaksanakan agar  seorang mukmin mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Zakat dilakukan agar manusia menjadi suci hati dan batinnya dari dominasi hartadan agar manusia mampu mengikis kesombongan, keserakahan, serta  iri dengki lantaran banyak harta. Haji pun memiliki target tertentu yang disebutkan dalam Al Qur’an  liyasyhadu manafi’a,  yaitu untuk mewujudkan  peluang-peluang yang tersaksikan pada saat menunaikan ibadah haji.

Pengertian taqwa sering kita dengar pada saat menyimak khotbah Jumat di masjid, yaitu melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Kita kadang-kadang sempit memaknai definisi tersebut. Kita mengira bahwa perintah Allah itu sebatas shalat, zakat, shaum , naik haji, dan semacamnya. Padahal, perintah Allah itu sangat luas pengertiannya, seperti kerja keras, disiplin, menuntut ilmu, professional, ramah pada lingkungan, menjaga kebersihan, hemat, berani, sabar, bertanggung jawab, dan sebagainya. Larangan Allah Juga tidak semata berzina, berbohong, mubadzir, merusak lingkungan, serakah, munafik, dan seterusnya. Bila  disimpulkan, jelas nampak bahwa perintah Allah itu bukan hanya bersifat syar’i, tetapi juga bersifat pasti, yaitu tetap tidak berubah (Sunatullah).

Demikian salah satu pendapat dari pakar ilmu Tafsir bernama Quraish Shihab. Hukum yang bersifat syar’i dampaknya jangka panjang, yaitu nanti di akhirat.  Bila pun ada di dunia, tidaklah terlalu tampak. Sementara itu, sunatullah dampaknya adalah jangka pendek, yaitu cepat terwujud di dunia ini. Orang-orang yang rajin beribadah sering kita saksikan hidupnya serba kekurangan. Adapun mereka yang jauh dari agama, sering kita saksikan hidupnya seperti tak berkekurangan. Itulah ujiannya untuk kita. Allah dengan sifat  Ar-Rahmannya tidak membedakan antara mereka yang kufur dengan mereka yang berserah diri.

Yang pertama, yaitu yang rajin ibadah namun kekurangan, sering melibatkan Allah, tetapi ilmu (sunatullahnya)  tidak dilibatkan. Sedangkan yang kedua, yaitu yang jauh dari agama, tetapi hidup tidak berkekurangan,  berhasil karena mereka senantiasa membaca peluang yang ada di sekitarnya sehingga dengan ilmunya mereka memanfaatkan peluang itu sesuai sunatullah dan terwujudlah kecukupan serta kebaikan dunia untuknya.

Pengendalian yang Sempurna

Ada kelemahan pada jiwa manusia, yaitu mudah terpengaruh. Padahal, syarat untuk menggapai cita-cita yang luhur memerlukan tekad yang bulat, yang bersumber dari jiwa yang kuat. Kesadaran dan ketenanganlah yang akan menghantarkannya. Kebutuhan manusia yang paling dasar adalah makan, minum, dan penyaluran syahwat. Dengan shaumlah ketiga unsur dominan itu dikendalikan. Terciptalah kesadaran yang tinggi serta ketenangan jiwa yang mendalam. Rayuan, rintangan, hambatan, serta berbagai godaan dapat ditepis dengan kemampuan menahan diri dari latihan shaum yang diprogram langsung oleh Yang Maha Bijaksana.

Menahan diri dari makan, minum, merokok, dan bercampur suami istri merupakan shaum yang standar dilaksanakan oleh mereka yang menganggapnya semata-mata hanya melaksanakan kewajiban. Bila dilanjutkan dengan memelihara panca indra, mengendalikan pikiran dan perasaan agar senantiasa tetap dalam bimbingan iman merupakan ibadah shaum untuk mereka yang melaksanakannya  dengan  Iimanan wah tisaaban –penuh kebaikan dan perhitungan. Bagi mereka itu, mereka mendapat ampunan  dosa.

Tidak mengherankan latihan menahan diri sangat diperlukan oleh semua kalangan, baik itu perorangan, kelompok, atau masyarakat. Al Qur’an sendiri menyebutnya dengan istilah “diwajibkan atas dirimu”. Manusialah yang memerlukan, sedangkan Allah sama sekali tidak berkepentingan. Sejak dahulu manusia telah menjalani puasa yang tentunya dengan cara yang berbeda serta niat yang berbeda pula. Sekarang pun  puasa dipakai untuk melangsingkan tubuh, pengobatan, dan juga kegiatan politik, yaitu untuk memprotes kebijaksanaan yang ditetapkan dengan cara mogok makan.

Sinyalemen Nabi tentang akhir zaman bila hidup sudah jauh dari kendali iman digambarkan oleh beliau : “Akan datang suatu zaman kepada manusia, yang mereka kejar hanyalah isi perut, kemuliaan yang mereka yakini adalah barang-barang mewah, arah hidupnya adalah wanita  ( syahwat ) dan keyakinan agamanya adalah uang”.  Tidak susah rasanya jika zaman kini dicari contoh-contohnya yang sesuai dengan sinyalemen Nabi. Bahkan, zaman kini telah menjadi fenomena tersendiri yang dapat kita rasakan di tengah-tengah kita bergaul dalam kehidupan sehari-hari.

Apa jadinya bila bangsa sudah kehilangan idealisme? Tidak terpikirkan lagi halal dan haram. kemewahan dunia menjadi tujuan hidup karena merasa itulah kemuliaan yang hakiki. Menebar dan mengumbar yang beraroma syahwat, itulah yang sering kita jumpai di media massa baik cetak maupun elektronik. Kemudian, uang menjadi segala-galanya karena mereka beranggapan semuanya bisa dibeli dengan uang –termasuk gelar, pangkat, dan jabatan. Kalau itu terjadi bagaimana nasib bangsa dan negara? Apa jadinya dengan generasi penerus bila contoh yang mereka lihat sehari-hari adalah contoh yang tidak pantas dijadikan anutan yang baik?

Ramadhan berarti mengasah atau membakar. Kita mengharap yang terasah selama bulan Ramadhan adalah hati nurani, kepekaan sosial, santun bermasyarakat, serta kebersamaan  dalam menggapai cita-cita bersama. 

Seperti yang ditekadkan kita semua, shaum kita juga mampu membakar bibit-bibit dosa yang paling banyak membuat masalah bagi manusia, yaitu kesombongan, keserakahan, dan iri dengki. Utamanya, dosa  yang telah kita lakukan yang kadang-kadang tidak kita sadari.

Shaum adalah ibadah yang istimewa. Tidak seorang pun ada yang tahu  dengan pasti, apakah ia shaum atau tidak. Hanya dirinya dengan Allahlah yang tahu. Pelakunya adalah mereka yang jujur terhadap dirinya, jujur terhadap Allah, dan tentunya  akan jujur pula terhadap orang lain. Tidak ada keretakan apalagi jurang pemisah antara kata dan laku karena shaum merupakan ibadah dalam berperilaku.

Selamat melaksanakan ibadah shaum, mudah-mudahan tergapai ketaqwaan serta ampunan dari Allah SWT.


Wallahua’lam                                                         
Kuningan akhir Sya’ban l426 H

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah