Thursday, May 2, 2013

Konsep Masyarakat Islam

Oleh : Ust Drs. Uri Mashuri



Pendahuluan

Kita banyak berbicara tentang masyarakat Islam. Bahkan dengan penuh keyakinan kita bercita-cita ingin membentuk masyarakat itu, Tapi sungguh tragis kadang-kadang kita tidak tahu seperti apa masyarakat dimaksud dan seperti apa wujud masyarakat Islam itu ?

          Melalui tulisan sederhana ini, diharapkan kita memperoleh gambaran tentang masyarakat yang kita dambakan.

Pengertian Masyarakat Islam

        Menurut Ralf Linton : “ Masyarakat adalah kelompok manusia yang tetap cukup lama hidup dan bekerja bersama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya dan berfikir mengenaidirinya sebagai kesatuan sosial, yang mempunyai batas-batas tertentu. “ Pada masyarakat, - kata Ralf Linton selanjutnya –ada semangat yang sama yang berfungsi menyatukan. Jadi yang dimaksud masyarakat Islam adalah masyarakat dengat semangat Islam  sebagai penyatunya. Masyarakat Islam mempunyai sebutan khusus yaitu “ ummat “,
         
          Ummat adalah kata yang sarat dengan semangat progresif serta menyandang pandangan yang dinamis, komited dan ideologis. Demikian Dr. Ali Syariati menjelaskan makna ummat. Kerangka dasar ummat adalah ekonomi – kemakmuran –karena miliki semangat kerja yang prima, yang tidak menghayati kehidupan duniawi,maka iapun tidak akan  menikmati kehidupan bathini. Ke arah sana langkah kita ayunkan mulai dari pembinaan diri, keluarga, masyarakat dan selanjutnya membentuk ummat yang kita idam-idamkan.



Wujud Masyarakat Islam

Kalau melihat pengertian masyarakat Islam di atas, ternyata masyarakat Islam bukan sekedar masyarakat orang-orang Islam. Tapi masyarakat dengan semangat Islam membentuk tatanan-tatanan yang bersumber dari hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tatanan-tatanan tersebut minimal bersendikan :

-          Tauhidullah
-          Ukhuwah Islamiyyah
-          Persamaan dan kesetiakawanan
-          Musyawarah dan Tasamuh
-          Jihad dan amal shaleh
-          Istiqamah


Tauhidullah

Tauhidullah artinya setiap individu yang merasa  menjadi anggota masyarakat Islam semestinya mendasarkan hidupnya pada perinsip tauhid – mengesakan Allah – Dan tercermin dalam seluruh segi kehidupannya. Katauhidan itu nampak pada :

  • Ibadah dan do’a, yaitu tidak adayang patut disembah dan tidak ada yang patut dimintai pertolongan kecuali Allah  - Al Fatihah 5. 
  • Tauhid dalam mencari nafkah dan berekonomi, yaitu keyakinan tidak ada Zat yang memberi rizki dan pemilik mutlak dari seluruh alam semesta kecuali Allah – Al Baqarah 204, An Nur 33
  • Tauhid dalam kegiatan dakwah dan pendidikan, yaitu keyakinan tidak adak ada  zat yang dapat memberi petunjuk kecuali Allah. – Al Qasas 56, An Nahl 37 .
  • Kegiatan berpolitik, yaitu suatu keyakinan tidak ada penguasa yang paling mutlak dan maha adil kecuali Allah, juga kekuasaan dan kemulyaan yang diperoleh semata-mata hanya datang dari Allah. Ali Imran 26, Yunus 65.
  •  Pelaksanaan hukum, yaitu keyakinan bahwa hukum yang mutlak benar dan adil adalah hukum yang datang dari Allah’ –Yusuf 40 dan 67
  • Sikap hidup secara keseluruhan, termasuk ucapan-ucapan sebagai ungkapan hati dalam menerima peristiwa sehari-hari. Tidak ada yang patut ditakuti kecuali Allah –At Taubah l8,Al Baqarah 150-,Tidak ada yang patut dicintai secara mutlak kecuali Allah – At Taubah. 24- ,Tidak ada yang dapat menghilangkan kemadharatan dan tidak ada yang dapat memberikan karunia kecuali Allah ,- Yunus 107, Ali Imran73-, Bahkan tidak ada yang dapat menghilangkan nyawa kecuali Allah – Ali Imran 145-.
  • Seorang anggota masyarakat Islam, akan senantiasa mengihlaskan seluruh hidupnya untuk beribadah kepadaNya serta tetap menjaga kesucian amaliahnya baik lahir maupun bathin. – Al An’am 162-163, Al Bayyinah 5-.

Ukhuwah Islamiyyah

          Dengan sendi Tauhidullah, anggota-anggota masyarakat Islam berpandanganhidup yang sama, sehingga terjelmalah pertautan hati satu sama lain yang melahirkan ikatan persaudaraan di atas budi pekerti – akhlak – yang mulia. Terkikis penyakit egoisme, individualisme serta meterialisme yang hanya mementingkan diri sendiri, Firman Allah menegaskan dalam Al Qur’an : “ Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara “. – Al Hujurat 10 -. “ Dan Allah mepersatupadukan di antara hati mereka, yang andai kata engkau belanjakan seluruh isi bumi tidaklah engkau mampu mempersatukan di antara mereka. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Bijaksana “ – Al Anfal 63-

          Lebih jauh Islam mengajarkan, berbeda bangsa, berbeda kulit, berbeda bahasa dan berbeda budaya diupayakan untuk saling mengenal dan memperkaya batin masing-masing. Ibadah-ibadah khusus dalam Islam, bila kita simak secara teliti ternyata ujungnya adalah kebaikan bermasyarakat.

 
Persamaan dan Kesetiakawanan                    

            Bila hidup menyadari sebagai hamba Allah,maka hanya Allahlah Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia, dirinya hanya sebagai hamba, tidak akan terbetik dari hatinya perasaan lebih mulia dari sesamanya. Perasaan ini  kan menumbuhkan persamaan dan kebersamaan, menumbuhkan kesetiakawanan yang bersumber dari kedalaman lubuk hati yang diteduhi iman. Cintanya kepada sesama manusia merupakan wujud kecintaan pada Allah, yang didorong oleh sabda Nabi :” Sayangi apa\apa yang ada di bumi, engkau akan disayangi oleh yang menaungi di langit “ Hadits.

          Perbedaan-perbedaan yang tampak, akan dijadikan sarana untuk saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan, bukan untuk saling menghancurkan.

Musyawarah dan Tasamuh                           

          Apabila persamaan dan persaudaraan  yang berdasar keimanan telah tumbuh dengan subur, maka segala usaha serta tindakan-tindakan dalam masyarakat senantiasa akan dilihat dari segi kepentingan umum dan untuk kepentingan bersama. Berbagai pendapat mungkin terjadi, bahkan pasti terjadi, tetapi semua itu tidak akan menimbulkan konflik yang akan menjadi gangguan ketentraman bersama. Musyawarah menjadi tradisinya,saling menghormati menjadi hiasan pergaulannya, Firman Allah dalam Al Qur’an : “Mereka menyambut ajaran yang datang dari  Tuhannya, mendirikan shalat, musyawarah dalam urusan-urusannya, dan mereka menginfakkan sebahagian dari rizkinya. “- Asy Syura 38-

          Seorang mukmin tidak bakalan merasa benar sendiri, ia menyadari bahwa dirinya tidak mungkin sempurna, ia akan senantiasa mencari kebenaran serta mempertimbangkan nasihat dan pendapat orang lain.

Jihad dan Amal Shaleh      

          Jihad mengandung arti bekerja dengan kesungguhan hati, berusaha mencapai hasil yang sebaik-baiknya. Itulah jihad, yang merupakan karakter seorang mukmin. Ia terus bekerja  dan berusaha menciptakan kesejahteraan untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya serta bangsa dan negaranya sebagai wujud amal shalehnya. Tepatlah ungkapan Nabi bahwa Mukmin itu seperti lebah, energik, disiplin, memberi manfaat dan tidak merusak lingkungan.


 Istiqomah                               

         Istiqamah, artinya lurus terus, maksudnya setiap muslim akan tetap memegang dan memperjuangkan kebenaran yang datang dari Allah. Ia tidak akan meleleh karena panas, tidak akan beku karena dingin, tidak akan lapuk karena hujan dan tak akan lekang di terik sinar matahari.

“ Katakan aku beriman kepada Allah, kemudian luruslah senantiasa “ demikian jawab Nabi  kepada sahabatnya yang menimta nasihat. Jiwa orang yang istiqomah akan senantiasa  tenang, tidak ragu, tidak gentar apalagi takut menghadapi berbagai tantangan – Fushilat 31,32 –

Keteguhan hati serta kepercayaan diri yang mantap merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam mengayuh serta meniti hidup yang penuh rintangan.

Insya Allah masyarakat yang bersendikan enam pokok tersebut. Akan mewujudkan masyarakat – maaf meminjam istilah – yang makmur dalam keadilan yang adil dalam kemakmuran. Serta rahmah, berkah dan keridlaan Allah senantiasa tercurah di atasnya,

Terhadap mereka yang berlainan keyakinan, Islampun melalui Nabinya memberi teladan yang baik. Islam dapat hidup berdampingan dengan damai bersama siapa saja asal mereka tidak beritikad jelek. Sebagai khalifah di muka bumi Islampun mengamanatkan agar kita mampu menciptakan surga yang dahulu ditinggalkan Adam dan Hawa di dunia ini, untuk selanjutnya menggapai surga yang dijanjikan Allah di Akhirat nanti.
              

Wallahu a’lam
Kuningan, 2006

                                                              

1 comment:

  1. terima kasih ust. ini menambah pengetahuan saya. jazakallohu khoeron katsiron

    ReplyDelete

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...