Sunday, May 5, 2013

Pergeseran Waktu, Kematangan Pribadi dan Hidup Yang Bijak


Oleh : Ust Uri Mashuri




“ Demi  masa, sesungguhnya manusia senantiasa dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh serta mereka saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran “  Al-Qur’an    Al Ashr.

          Hidup yang kita jalani ini, bukan hasil permohonan kita. Hidup merupakan  anugrah  Allah kepada kita. Kita menikmatinya dan kita mensyukurinya. Bila Allah tidak  menghendakiNya kita tidak berarti apa-apa, kita bukan apa-apa karena memang kita tidak  ada.

          Anugrah itu sedang kita nikmati, kita syukuri kita masih diberi kesempatan untuk mengirup udara  kehidupan, entah itu berlangsung sampai kapan hanya Allah yang tahu. Kewajiban kita adalah mengisi amanat hidup itu dengan baik, penuh makna memberi manfaat pada diri, keluarga dan juga masyarakat sebagai bekal pulang nanti ke kampung akhirat menyongsong kehidupan kedua yang abadi. Nabi menjelaskan kehidupan di kampung akhirat dibandingkan seperti jari yang dicelupkan ke  permukaan lautan, yang menetes di ujung jari adalah kehidupan di dunia sedang yang tinggal adalah kehidupan di akhirat .Subhanallah betapa kita sulit membandingkannya.

Pergeseran Waktu

          Waktu terus bergeser seiring dengan pertambahan usia kita, hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, kita senantiasa berubah tapi kadang-kadang kita tidak menyadari. Kita selalu disibukkan oleh urusan dunia kita. Begitu kita menyadari ternyata kita sudah tidak bisa dikategorikan muda. Kita  semua adalah pemimpin dan akan ditanya serta dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinan kita.
Salah satu yang akan dipertanggungjawabkan adalah waktu yang diberikan kepada kita. Andrew S Grove  menyatakan  tugas pemimpin atau manajer senantiasa bersangkut paut tentang pengalokasian sumber daya :  manusia , dana dan modal, tapi  sumber daya yang paling penting, yang kita alokasikan dari saat ke saat adalah bagaimana kita mengatur waktu, sebab menurut dia aspek yang paling penting dalam menjalankan peran sebagai  manajer dan pimpinan. Sukses tidaknya usaha kita banyak ditentukan oleh efektifnya kita menggunakan waktu.

Kita mengenal dua istilah berkaitan dengan waktu yang dijatahkan kepada manusia,  ada yang disebut usia dan ada yang disebut umur. Usia adalah jatah waktu yang diberikan Allah kepada manusia, sedang umur berkaitan dengan dampak penggunaan waktu untuk peningkatan kwalitas  kehidupan manusia. Itulah makna yang terkandung dalam surat Al Ashr yang  dikutip di awal tulisan ini. Yang beruntung adalah yang mengisi kehidupan ini dengan iman, amal shaleh, saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran.


Kedewasaan Pribadi

          Dewasa biasanya  diartikan  telah sampai umur yang dianggap bertanggungjawab terhadap perbuatannya, ia dianggap telah mampu membedakan antara baik dan buruk, benar dan salah, ia dianggap telah matang berpikir karena  akalnya telah dapat mempertimbangkan kemanfaatan serta kemadharatan. Itulah manusia dewasa.

          Beberapa waktu yang lalu, saat KH. Abdurahman Wahid menjadi presiden belaiu sempat memberi julukan kepada lembaga DPR sebagai Taman Kanak-Kanak karena tidak menggambarkan kedewasaan. Dan Taufik Kiemas suami mantan Prisiden Megawati pernah  menyebut SBY jendral yang kekanak-kanakan, sebutan itu justru membawa hikmah karena sejak itu popularitas SBY meningkat. Terlepas tepat tidaknya benar tidaknya. Tapi istilah kekanak-kanakan adalah  ungkapan  bila perilaku seseorang atau sekelompok orang  tidak sesuai tingkat usianya.

          Kedewasaan identik dengan kematangan. Kematangan adalah kondisi yang didambakan, sebab kematangan bisa menaikkan prestise, nilai dan pesona pribadi di mata masyarakat, juga merupakan unsur yang penting dalam menciptakan hidup yang tentram , konstan dan sejahtera.

Robert J. Lumsden, pengarang buku Twenty-three Steps To Success and Achievement menyebutkan untuk mendapatkan kematangan  hendaknya diperhatikan langkah- langkah berikut :

-          Menjauhi prasangka
Sebaiknya kita menunda penilaian atau pengambilan keputusan sampai semua fakta kita ketahui, hal ini dilakukan agar kita tidak salah menilai atau kita jatuh pada fitnah atau gossip yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam Al Qur’an dijelaskan : “ Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa  suatu berita, maka periksalah  dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu “ Al Hujurat 6.

-          Menghindari tahayul
Seorang yang matang pribadinya, ia tidak punya waktu untuk mempercayai tahayul. Pengetahuan dan pemikiran yang waras akan membebaskan dirinya dari rasa takut dan pembatasan yang ditimbulkan tahayul. Kita merasa prihatin kecendrungan bangsa Indonesia kepada hal-hal yang gaib yang tidak berdasar dan tidak masuk di akal sehat menjadi kegemaran, tayangan televisi yang berbau mistik marak dan menempati ratting yang tinggi.

-          Menyadari ketidaktahuan
Kematangan pribadi akan membuka kesadaran bahwa dirinya tidak banyak mengetahui, ia akan berusaha keras untuk menambah dan memperluas ilmunya, sedang orang orang yang tidak matang pribadinya ia akan merasa berilmu banyak. Pribahasa Indonesia mengatakan  ‘ Tong kosong nyaring bunyinya “, gambaran orang yang menunjukkan ketidakdewasaan.

-          Mengikis setiap ketakutan
Ia akan berusaha mengerti kenapa ia takut. Kemudian ia mengikisnya dengan mengubah perilaku sehingga dapat menghilangkan ketakutan. Ia akan menyebarkan kasih-sayang sesamanya dalam rangka menghalau takutnya.

-          Toleransi
Orang yang matang pribadinya, ia takkan mengklaim untuk memonopoli kebenaran, ia menyadari keterbatasannya. Ia akan menerima sesamanya apa adanya.

-          Perhatian
Pribadi yang baik, adalah pribadi yang tidak hanya asyik dengan dirinya, tanpa menghiraukan kenyamanan dan perasaan orang lain, secara imajinatif ia menempatkan dirinya di tempat orang lain.

-          Bersikap Obyektif
Kematangan  pribadi membuat orang memandang sesuatu tanpa memihak, apa adanya jujur, serta menjauhi  pandangan  dengan sudut pandang kepentingan dirinya.

-          Konstan
Ia  memiliki ketangguhan sanggup menguasai suasana hatinya, ia mempunyi daya tahan yang kuat.

-          Riang dan tidak memelihara emosi yang negatif
Ia menyadari betul bahwa memelihara emosi yang negatif akan menghalangi munculnya kegembiraan dan keriangan yang berari ia merusak hidupnya sendiri. Orang akan menjauh bila kita memelihara  emosi yang negative

Dari kutipan di atas kita dapat mengukur sejauh mana kedewasaan kita, belum tentu  yang berusia lanjut  memiliki sifat-sifat kematangan, kita dapat menyimpulkan  bahwa bertambahnya usia tidak identik dengan bertambahnya kedewasaan. Apalagi bila kedewasaan dihubungkan dengan kebijaksanaan
    
Selanjutnya  Robert J. Lumsden menyebutkan ciri-ciri  mereka yang bijaksana :

-          Senantiasa membuat orang lain lebih santai dan  lebih dihargai
-          Berusaha membuat orang lain merasa penting
-          Tidak pelit memuji orang
-          Menaruh hormat dan senantiasa sopan, memandang orang dengan kacamata sesama manusia
-          Menghormati apa yang dihormati orang lain misalnya : agama,keyakinan,  politik serta kepahlawanan.
 -        Meminta maaf atas gangguan yang dilakukan
-          Menghormati kesepakatan.
-          Tidak memonopoli percakapan.

Adapun cara belajar mendewasakan dan membijakkan diri ia menyebutkan
-          Hindari membuat orang lain nampak kecil
-          Hindari melanggar hak orang lain
-          Hindari meninggikan diri sendiri dan
-          Jangan  mengajarkan kepada orang lain tentang pekerjaannya.



Wallahu a’lam                                                 

Kuningan, 2006


No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...