LAIN RUMAH LAIN SEKOLAH

Calon Kolam Ikan


Hal yang harus difahami, bahwa sekolah dan rumah itu berbeda fungsi. Walau tujuan sama. Sekolah biasanya adalah tempat mengajarkan ilmu dan keterampilan sedangkan di rumah adalah tempat yang tepat untuk menumbuhkan karakter.   

Tentunya dua agenda besar ini memerlukan pendekatan yang berbeda. Menempatkan mindset sekolah di rumah adalah awal kekacauan. Karena menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. 

Kalau di sekolah anak biasa membaca, menghafal, dan berlatih dengan pola outside in (dari luar dimasukkan ke dalam) sedangkan di rumah adalah tentang menumbuhkan fitrah dengan pola Inside Out (mengeluarkan apa yang ada di dalam)

Saat stres melanda anak dan orang tua karena dikejar tugas harian dari sekolah, ini sebenarnya sinyal awal ketidakcocokan. Bukan sebuah ketidakmampuan mendidik. Karena pada dasarnya semua orang tua mampu mendidik.

Lalu, bagaimana memulainya?

Kenapa tidak mencoba saja seperti petugas di SPBU : mulai dari titik nol.  

Kalau kemudian menjumpai rasa bingung  "mau mengerjakan apa kita hari ini?" jangan dipandang sebuah kegagalan atau negatif. Justru ini awal dari sebuah proses kreatif. Kita sedang mengeluarkan apa yang ada di dalam diri kita. 

Pertanyaan di atas adalah awal dari membuat kurikulum mandiri berbasis keunikan setiap keluarga. Bisa diawali dari pertanyaan kepada setiap anak:
Kamu mau melakukan apa hari ini?
Kenapa begini?
Kenapa tidak begitu?
Bagaimana jika…?

Karena itu, jangan jadikan tugas sekolah sebagai referensi pertama untuk buat to do list. Karena kita sedang bicara proses kreatif.

Tidak masalah kalau merasa tidak jelas arah. Bingung. Biarkan saja. Jadikan itu langkah pertama untuk diperbaiki kemudian.

Misalnya ketika muncul isu kemandirian pangan dalam menghadapi krisis karena wabah.  Yang kemungkinan akan lama pulihnya. Maka pertanyaannya juga adalah : apa yang kita lakukan?

Dari situ mulailah berdiskusi. Mulailah mencari cara. Mulailah mendata potensi. Mulailah tanya sana tanya sini. 

Diantaranya muncullah kreatifitas menanam sayur di pot. Ada yang  pakai hidroponik vertical garden, polybag, paralon, botol aqua dll.

Ini sebuah contoh kreatifitas sederhana yang tidak boleh dianggap nihil tanpa nilai. Siapa tahu dari situ berlanjut menjadi sebuah proyek strategis. Lalu menjadi benteng ketahanan pangan di saat krisis.  Bahkan menjadi bisnis skala besar. Sekarang pun sudah ada berseliweran iklan bibit untuk paket menanam di pekarangan

Sahabat saya, Aris Widodo sudah mencobanya lebih detail, dan komprehensif. Melalui project Mini Family Farm, ia punya target menciptakan kemandirian pangan hingga mencapai kedaulatan keluarga. 




Ternak kambing, lele dan ayamnya sudah mulai jalan. Terintegrasi dengan bertanam aneka sayuran.  Ada sawi, kangkung, bayam, cabe, hingga pare. Untuk pakannya ia coba dengan budidaya magot sekaligus pemanfaatan limbah dapur. 

Project ini rencananya akan dikembangkan menjadi bagian dari program Homeschooling Komunitas dengan basis konsep Pendidikan Aqil Baligh. Agar anak mencapai kematangan mental dan kemandirian saat usia baligh.

Itulah contoh program pendidikan yang dirancang secara mandiri, inside out. Bukan yang ditentukan oleh pihak lain, ouside in. Dan ini relevan dengan tema mimpi saya tentang Sekolah Impian.

Semoga bermanfaat…

(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah