Saturday, May 2, 2020

MENIKMATI PANDEMI

Ilustrasi : sumber dari internet



Menarik sekali, tentang beragam sikap dalam menyikapi wabah pandemi.


Ada yang memilih positif thinking. Katanya untuk meningkatkan kadar imunitas. Dengan apa? Menghadirkan suasana jiwa yang normal sebagaimana sebelum wabah. Ini dianggap akan menghadirkan suasana hati positif. Lalu menaikkan imunitas. Alih-alih menghadirkan suasana waswas. Paranoid. Penuh kekhawatiran. 


Itu yang saya jumpai saat dialog dengan pemuda komplek. Kenapa mereka tetap nongkrong di kafe langganan? “Di rumah stress, Pak” katanya. “Daripada stress dan imunitas menurun, mending nongkrong, Pak”. 

Ekspresi lainnya dengan tetap mendatangi tempat ibadah umum. “Kan di sini tempatnya mengingat Tuhan, Bang. Hati biar tenang. Di sini juga tempat minta tolong ke Sang Pencipta virusnya. Insya Allah kita ditolong,” kata mereka. 

Kedua, Di seberangnya ada yang menyikapi dengan ekstra kehati-hatian. Mengurung diri dan keluarga di rumah. Totally lockdown. Tidak ke kantor, ke pasar dan ke tempat ibadah. 

Lalu muncul fenomena. Ada yang awalnya hendak total di rumah. Lalu ada yang menyerah. Di rumah ternyata hanya sebentar saja enaknya. Selebihnya bosan. Lama-lama stress. 

Khususnya di bulan ramadhan ini. Ada yang menyerah kalah. Kala mendadak harus jadi imam sholat tarawih. Ketika bacaan masih jauh dari standar. Bingung. Akhirnya pada balik lagi ke masjid.

Saya ingin mengulas yang memilih untuk bersikap ramah terhadap pandemi. Mereka yang memandang bahwa pandemik ini bisa "dinikmati"

Mereka ini memilih menyikapi pandemi secara penuh penghayatan. Menganggap ini momentum langka. Meyakini sebagai kehendak-Nya yang pasti ada maksud. Bukan kebetulan dan tanpa makna.

Mereka memilih menikmati. Dengan antusias. Dengan coba menggali makna. Diantaranya, mereka melihat ini waktunya merekonstruksi cara pandang tentang banyak hal. 

Misalnya tentang pendidikan. Inilah saatnya mengaktivasi pendidikan di keluarga. Bahwa pendidikan karakter adalah di rumah tempatnya. Bahwa ada kegiatan edukatif bisa dirancang dari rumah. Inilah saat semua anggota keluarga berkolaborasi. Saling mendukung proses pembelajaran.

Tentang ekonomi. Inilah saatnya membangun fondasi ekonomi dari rumah. Menjadi tempat berlangsung aktivitas produktif. Apalagi sudah ada peringatan dari FAO, akan ada krisis pangan global.

Di antaranya ada yang memulai urban farming. Terutama di perkotaan dengan lahan sempit. Mulai menanam sayuran dan buah dalam pot. Beternak ikan dalam ember. Ada juga yang mulai ternak unggas, dan kambing. Lalu mulai “bermain-main” dengan sampah. Mengolah sampah organik jadi pupuk. Mengembangbiakan magot atau cacing untuk pakan ternak. Dll.

 Sepintas ini seperti orang yang takut kelaparan. “Tenang saja, Bro. Sebentar lagi normal koq. Khawatir amat kayak mau kiamat?” Nyinyiran model begini yang harus mereka abaikan.

Apalagi internet semakin membuat dua ekonomi dan pendidikan memasuki era baru. Ketika bahan belajar melimpah ruah. Mulai bahan ajar akademik hingga tutorial urban farming. Lalu terakhir, media sosial semakin menjadi saluran pemasaran efektif. 

Saya melihat, pilihan untuk menikmati pandemi ini menarik. Karena tak ada yang jelek dengan urban farming, misalnya. Ke depan ini sangat bagus untuk gaya hidup baru yang hijau dan ramah lingkungan. Di mana kebutuhan dasar kita bisa dipenuhi dari halaman rumah sendiri. Sekaligus ini akan menghasilkan lingkungan lebih sehat. 

Pun, bisa jadi model pendidikan masa depan justru mengembalikan anak kembali ke rumah. Kembali mengakar di keluarga dan masyarakatnya. Setelah selama ini tercerabut maksimal karena terlalu lama berada di sekolah.

Terakhir, hubungan anggota keluarga seperti dipaksa untuk dibuat erat. Lalu bermakna. Lalu produktif.

Kalau seperti ini yang terjadi, maka satu hikmah pandemi lainnya adalah setiap keluarga punya misi keluarga. Punya peran kontributif untuk masyarakat, lingkungan dan peradaban.

Jadi, menikmati pandemi. Siapa takut?

NB: 

Menikmati pandemi ini bukan dengan memanfaatkan pandemi dengan mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Semisal menimbun masker untuk dijual saat langka. 

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...