Thursday, January 1, 2026

AYAH PULANG

 

“Ayah, Pulanglah!”

Begitu judul sebuah webinar yang penyelenggaranya Majelis Lukmanul Hakim (MLH), divisi dari Aqil Baligh Community (ABC). Komunitas parenting tempat saya berkiprah. 

“Pulangku berat di ongkos,” gumamku dalam hati. 

Walaupun maksud dari “pulang” di judul webinar itu artinya para ayah kembali hadir di jiwa anak. Mengaktifkan fungsi mendidik. Diawali dengan dirasakan kehadirannya, lalu menularkan nilai-nilai baik yang sudah jadi karakter. Melalui obrolan seru, cerita pengalaman, gesture tubuh, nasihat atau petuah, tatapan mata, juga contoh nyata. 

Kami menyebutnya “Menjadi ayah pendidik peradaban”. Mendidik anak sejatinya ‘hanyalah’ kumpulan aktivitas biasa dan tidak rumit. Bisa dilakukan semua ayah. Hanya saja karena bentuknya seperti kegiatan biasa, jadinya dianggap tidak penting. Padahal bagi anak, itu teramat penting. 

Bagiku makna “pulang” itu lebih terasa sebagai panggilan untuk hadir secara fisik. Karena panggilan tugas telah membuatku dipisahkan jarak. Sedangkan kehadiran fisik tak tergantikan. Dengan video call sekalipun. Maka menjadi teramat mahal satu hari di rumah. Teramat bernilai satu hari kebersamaan. Kalau antara Karawang-Bekasi adanya di puisi perjuangan, tapi jarak antara Karawang-Sintang, bukan sekedar puisi, tapi benar-benar perjuangan. Butuh, waktu, tenaga, pikiran. Juga ongkos yang mahal.

Sementara, di seberang nun jauh terpisah laut Jawa, nyonya sudah bolak balik nanya. “Bi, November bisa pulang tidak?” 

Masalahnya jatah cutiku tinggal dua hari. Kalau tidak diambil November ya Desember. 

Di bulan mana diambil, tetap saja ada satu bulan absen pulang. Artinya ada rentang dua bulan berpisah.

Tapi, Allah memang Maha Pembuat Kejutan. Salah satunya dengan rizki yang datang lewat jalan tak diduga, min haisu laa yahtasib.

“Pak Sol, kita baru dapat jadwal dari Pak Ketut. Kita ke Jakarta ya, bareng Pak ATM,” kata Pak Kepala Kantor. 

“Kapan, Pak?” tanya saya. 

“Jadwalnya hari Rabu. Nanti ST-nya Selasa - Jum'at ya. Tapi harus ada satu WP lagi,” pungkasnya. Singkat, padat dan to the point. Seperti biasanya. 

“Baik, Pak. Siap!” jawab saya. 

Respon tubuh langsung sat set didorong semangat nan tiba-tiba menyala. 

Tugas pengawasan memang kadang mengharuskan seperti itu. Kadang WP harus didatangi di tempat pengambilan keputusan. Demi pengamanan penerimaan negara. Apalagi nilainya besar. WP yang akan dikunjungi adalah WP industri Kelapa Sawit. Punya kebun dan pabrik. Serta lima koperasi plasma. Di Jakarta adalah kantor pusat grup. Jadinya sekali kunjungan ke satu lokasi bisa membahas 9 SP2Dk. Efektif dan efisien. Hitungan potensi tambahan sekitar 2,5M. Bila ditambah sanksi jadi 3M.

Kenapa bisa sampai empat hari kerja? Karena dua harinya habis di perjalanan. Dari Sintang ke Pontianak sekitar delapan jam sendiri. Dilanjut perjalanan udara. Di Jakarta, aku memilih menginapnya di Karawang. Negarapun bisa hemat. Tak perlu biaya hotel. Apalagi dari Karawang ke Jakarta sudah ada Woosh. 

Karena di rumah ada yang menunggu dengan harap. Jadinya di momen Hari Ayah tahun ini, aku bisa pulang yang sesungguhnya. 

Apalagi dapat ucapan romantis dari gadisku lewat story di Instagramnya. Semakin menyempurnakan makna Hari Ayah kali ini. 













No comments:

Post a Comment

BUKAN SEKADAR ANGKA

  “Pak, Sol. Kapan terbit SP2DK-nya? ini sudah mau masuk semester II”. “Bentar lagi, Pak. Masih banyak data belum tergarap” “Pak, SP2DK suda...