Tuesday, November 6, 2012

Belajar Dengan Mengajar dan Menulis


Beberapa bulan terakhir ini anak-anak, baik dari yang paling besar sampe si bontot suka bertanya kalau mau berangkat ngantor : "Bi, nanti pulang malam nggak?". Sebelumnya memang nggak pernah ada pertanyaan seperti itu. Walaupun ada kegiatan malam, biasanya pulang dulu ke rumah. Ketemu dan ber- haha-hihi dulu bareng kurcaci-kurcaci yang full heboh itu. Baru berangkat lagi.

Munculnya pertanyaan karena saya sedang ada job baru: mengajar Brevet Pajak di PPDC, Jababeka. Karena tempat di Cikarang otomatis tidak pulang dulu setelah jam kantor. Tanggung, toh hanya menunggu 1,5 jam untuk istirahat, sholat Maghrib dan dinner, ups.. makan malam maksudnya. :)

Hmm mengapa mengajar?

Disamping ada imbalan materi, mengajar adalah aktivitas intelektual yang menyehatkan otak dan memperdalam pemahaman. Karena dengan mengajar kita dipaksa untuk belajar lagi. Muter otak lagi. Kecuali kalau ingin dipermalukan di depan kelas, ya nggak harus belajar, he he. Ya...bahkan kalau perlu begadang. Ada semacam dorongan amat kuat untuk melek dan memelototi bahan yang akan diajarkan. Walaupun mata sampe perih sekalipun. Sesuatu yang sulit dilakukan kalau hanya untuk belajar biasa, yang seringkali terserang penyakit akut, berupa rasa kantuk hebat yg tiba-tiba menyerang begitu durasi baca melewati 15-20 menit.

Mengajar memang mengharuskan siap ditanya, maka analisis harus dipertajam. Ada contoh-contoh kasus yang harus dipecahkan. Hal ini mengharuskan kita punya akses ke bahan bacaan. Sekarang sebenarnya relatif lebih mudah, karena Mbah Google yang baik hati dan sabar siap melayani kita cari info yang diperlukan. Kalau dulu kita harus berburu buku ke perpustakaan untuk itu. Pernah waktu kuliah dulu, saya harus hunting naik bus kota dari Jurangmangu ke Deptan di Ragunan dan Perpustakaan Nasional di Salemba hanya untuk cari data dan referensi. Sekarang mah cukup buka laptop. Bahkan dari hape juga bisa.

Filosofi mengajar adalah memberi untuk menerima. Seperti shadaqah. Semakin memberi maka semakin banyak yang didapat. Semakin sering menyampaikan ilmu, semakin dalam, tinggi dan luas ilmu yang kita kuasai.

Berangkat dari makna itulah mengapa saya bersedia jadi mentor beberapa brother dalam belajar agama. Walaupun latar belakang saya bukan agama. Karena dengan menyediakan waktu menyampaikan materi mentoring agama Islam, sebenarnya kita sedang mewajibkan diri untuk belajar dan memperkuat karakter keIslaman. Sebagai bentuk ikhtiar. Itu juga upaya saya untuk tetap berada dalam lingkaran spiritual. Sebagai orang tua dengan seabreg amanah, kadang untuk menutupi kejenuhan setelah rutinitas kerja, kita hanya menutupinya dengan vacancy yang hal-hal yang sifatnya hiburan. Nah, dengan mengalihkan sebagian waktu untuk kegiatan mengajar atau mentoring, saya jadi punya waktu yang produktif. 

Terakhir, kalau ingin sempurna dalam membagi ilmu, tambahkan lagi satu aktifitas : menulis. Ngeblog adalah salah satu upaya untuk mempertahankan dan menyalurkan aktivitas menulis. Alhamdulillah sudah cukup banyak tulisan yang saya buat, walaupun kata teman saya di PNBB (grup penulis di Facebook) masih relatif sedikit. Temanya memang kebanyakan catatan peristiwa dan renungan.

Menulis ini ternyata menjadi wisata otak, dimana kita bisa berselancar di antara miliaran data yang terekam di otak, kemudian menari dan berdansa bersama menghasilkan koreografi tulisan. Seperti olah fisik koreografi, semakin lama skill menulis kita akan semakin asyik dan trampil.

Nah, bagi para pembaca yang sudah merasa jadi ortu. Semoga tetap semangat belajar!

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...