Monday, November 26, 2012

Quo Vadis Karawang?



Peta Karawang


Di mata kita seonggok kemasan kopi bekas adalah sampah tak berguna. Banyak diantaranya jadi polusi tanah karena tak bisa diurai oleh bakteri. Di mata seorang Mang Kido,  petugas kebersihan di kompleks perumahan saya,  sampah itu adalah lahan pencaharian buat menghidupi keluarga. Namun dimata seorang ysng kreatif,  plastik itu menjadi produk kerajinan yang indah. Bila diberi sentuhan enterpreneur, handycraft itu itu  menjadi komoditas yang diterima pasar. Dari sampah bisa juga memunculkan “bank sampah”. Menciptakan lapangan pekerjaan. Gagasan dan kreatifitas menjadikannya berbeda.

Saung bambu, di mata para petani hanyalah sekedar  tempat berteduh melepas penat setelah mencangkul sawah. Di mata seniman, saung bambu bisa menjadi sebuah bangunan nan eksotik. Di tangan enterpreneur, saung bambu menjadi ciri-khas  baru bisnis kuliner. Lihatlah Alam Sari, Lebak Sari Indah atau Cibiuk, dan Walahar di Karawang.  Lalu di mata seorang Lendo Novo, saung bambu adalah tempat paling nyaman buat belajar. Maka saung bambu menjadi ikon di hampir semua Sekolah Alam se- nusantara yang ia pelopori. Lagi, gagasan dan kreativitas membuat value sebuah benda menjadi berbeda.

Pernah dengar tentang Ubud? Keunikan Ubud mungkin hanya akan jadi sebuah tradisi budaya di Bali.  Tetapi dengan sentuhan kreatif a la  Hollywood,  ia jadi eksotika yang mendunia  dalam  film  Eat, Pray, and Love

Tetralogi laskar pelangi
Kalau belum puas, lihat gambar sampul empat buku di samping. Di tangan Andrea Hirata, sebuah sekolah nyaris roboh di Gantong, Belitong Timur dengan latar sejarah perusahaan timah dan kisah sepuluh anak miskin yang mengejar cita-cita menjadi cerita dahsyat tentang Laskar Pelangi. Kini Tetralogi Laskar Pelangi melanglang buana menaklukan pembaca mancanegara. Mengejar Nobel.

Terakhir, lihatlah lukisan masterpiece Monalisa karya Leonardo Da Vinci. Detailnya, komposisi warnanya, keseimbangannya, “kesan hidupnya” memang mengagumkan orang se-jagat. Sempurna.
Tapi semuanya tidak ada apa-apanya. Simak saja alam sekitar ciptaan Sang Maha Pencipta. Salah satunya diri kita. Kita adalah sebaik-baik ciptaan. Sebaik-baik kreasi. Dari Sang Kreator yang Maha Sempurna!

Apa kunci kualitas dan kesempurnaan itu?
Menurut para ahli tasauf, adanya alam ini karena adanya c i n t a.  Karena Allah Maha Rahman. Maka terjadilah alam. Juga karena kesungguhan. Tidak ada yang Allah ciptakan sia-sia. Salah satunya lagi karena tidak ada intervensi. Allah menciptakan alam ini sendirian. Jika ada tuhan lain selain Allah, maka kacaulah alam ini.  
Melukis Monalisa tentu Leonardo Da Vinci seorang diri. Akan aneh kalau ia dilukis bareng lainnya. Konflik dua jiwa akan menghasilkan karya dengan rasa yang berbeda. Tentu. Jiwa seseorang bisa dirasakan dari buah karyanya. Contoh lain, karakter tulisan seseorang bisa dirasakan oleh pembacanya. Ada rasa bahasa yang berbeda antara penulis satu dengan lainnya.

Alam ini dengan segala isinya disediakan Sang Khalik buat manusia. Mengamanahkannya sebagai rahmat bagi semesta. Rahmat itu artinya kasih sayang. Jadi, produk dari Wakil- Sang-Pencipta semestinya mencerminkan kasih sayang pula. Itulah karya yang benar, baik dan indah. Ketiga-tiganya harus terpenuhi.

Makna “benar” berarti  mencerminkan kesesuaian dengan nilai kejujuran, amanah, efisiensi, profesionalisme, tidak koruptif . Tak ada hukum yang dilanggar.  Adapun “baik”, artinya ada manfaat, ada kualitas kehidupan yang terangkat, tidak merugikan warga, tidak mendzalimi, juga tidak merusak moral. Sedangkan makna “indah”, adalah kesan artistik yang muncul. Ada kepuasaan saat memandang atau mendengarnya.

Lalu apa hubungan semuanya  dengan tema Karawang??


Inilah Karawang!

Saat menjejak kaki pertama kali di Kota Karawang, tahun 2006 lalu,  gambaran Karawang yang hijau dan pesawahan ternyata tidak terlihat,  yang ada justru jalanan berlubang di sani-sini dan “bergoyang” karena kerusakan yang parah. Bagi seorang pegawai kantor pajak seperti saya, lidah pasti akan kelu kalau harus bicara pajak dalam suasana seperti itu. Karena hanya menghasilkan ironi : dana pajak ke mana saja?

Waktu itu sempat terheran-heran karena rusaknya jalan sampai jauh hingga ke pelosok. Di berbagai kota yang sempat saya singgahi, tidak ada yang separah ini. Di Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Kuningan jalanan ke pelosok sudah mulus dengan lapisan aspal hotmix. Waktu itu memang masih era awal Bupati Dadang "Hotmix" Mukhtar. Kondisi Karawang  di atas adalah “hasil karya” eks bupati Ahmad Dadang (alm). Melihat jalanan di Karawang (bahkan hingga tulisan ini dibuat) saya seperti melihat lukisan anak yang sedang belajar melukis yang bahkan membuat lingakaranpun belum bulat. 
Bila saya bandingkan dengan kota-kota yang pernah saya singgahi dan bermukim di sana, kondisi di atas sungguh sebuah ironi.Di Jember, Jawa Timur,  misalnya, jalan akses menuju kawasan wisata Bukit Krembangan yang berada di puncak bukit di utara Jember  amatlah mulus. Sepanjang jalan menuju Pantai Watu Ulo dan Tanjung Papuma di wilayah Laut Selatan Jember juga sangat terawat. Sedangkan di Probolinggo, tetangga kotanya,  eksotisme Gunung Bromo dipadu kekhasan budaya Suku Tengger telah lama  menjadi magnet wisata dunia. Potensi ini sejak lama sudah dikelola dengan baik oleh pemerintah setempat. Jalanan muluspun selalu siap menuju lokasi.  

Bukit Krembangan-Jember. 
Sumber: Internet







Juga di Kuningan, Jawa Barat,   jalan menuju ke salah satu kawasan wisata sekaligus bumi perkemahan yang berada di Palutungan, Cisantana  cukup bagus. Mobil sedanpun bisa sampai ke lokasi yang berada di lereng Gunung Ciremai itu untuk kemudian bisa  menikmati indahnya Curug Putri yang hanya berjarak 200 saja dari tempat parkir.

Di semua tempat itu saya bisa merasakan adanya kepedulian,  komitmen, kesungguhan, cinta, dan kreativitas. Dalam tataran akademis, ini termasuk fenomena budaya.  

Nah, Dengan APBD 2 Triliun, Karawang bisa apa?

Hm, saya yakin di tangan pemimpin yang “berbudaya”, Karawang adalah sebuah  keindahan. Menjadi mahakarya. Bagaimana tidak? Perpaduan antara alam gunung dan pantai, aliran sungai Citarum, nilai sejarah, luas lahan agraris, kekayaan budaya, sumber daya yang melimpah dan dipadu dinamika kawasan industri lebih dari cukup untuk menciptakan surga bagi warganya.

Candi Jiwa-Batujaya
Sayang sekali ternyata, jangankan menciptakan suatu produk budaya baru, atau menciptakan terobosan baru yang bisa jadi fenomena. Sesuatu yang sudah jadi produk budaya pun belum belum terkelola dengan baik.
Bagaimana wisatawan mau ke Candi Jiwa kalau jalanan mirip lintasan off-road?
Bagaimana Monumen Kebulatan Tekad di Rengas Dengklok mau dibanjiri wisatawan kalau di dekat sana ada pasar dengan kesemrawutan stadium berat?
Bagaimana mau ke Monumen Rawa Gede mengenang Tragedi “Karawang Bekasi”  kalau jalan akses ke Kecamatan Rawamerta membuat kendaraan bergoyang hebat sepanjang perjalanan?
Bagaimana membuat Loji jadi pesaing pesona Puncak kalau jalanan menuju ke sana membuat pegal sekujur badan dan putus asa.

Monumen Rawa Gede
Padahal Karawang menikmati berkah  ekonomi  relatif tanpa perlu  terlalu memeras otak dan berfikir sampai kening berkerut-kerut.  Letak geografis Karawang yang dekat dengan pusat ekonomi, Ibukota Jakarta, menjadikannya lokasi strategis bagi perusahaan yang berinvestasi. Pilihan setelah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi yang semakin padat saja.

Curug Cigeuntis
Karawang juga kebanjiran pendatang baru dengan kualifikasi bagus : kelas menengah. Mereka karyawan pabrik yang bekerja di perusahaan yang tersebar di kawasan industri KIIC, KIM, KIKC, Surya Cipta atau Indotaisei. Mereka adalah konsumen potensial. Ekonomi mereka juga tidak membuat repot pemerintah. Mereka datang sebagai tenaga trampil dan berpenghasilan yang konsumsinya sebagian besar akan dihabiskan di Karawang. 

Kawasan Industri KIIC
Multiplier effectnya sudah mulai terlihat. Lihat saja ada perumahan yang menjamur, semua sold out! terjual habis!. Juga rumah makan yang cepat bermunculan. Ruko-ruko barupun seperti berlomba berdiri. Berkejaran dengan waktu. Mall besar tak ketinggalan mengikuti. Kabarnya, Karawang sedang disiapkan menjadi kawasan aetropolis baru untuk menunjang fasilitas bandara internasional penunjang Bandara Soekarno Hatta yang semakin santer terdengar.

Pengaruh fiskal langsung adalah dompet Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tebal.  APBD Karawang bahkan lebih besar dari Provinsi Nusa Tenggara Barat,  Nusa Tenggara Timur, Bengkulu, Bangka-Beliting. Karawang sudah sejajar dengan APBD kota besar lain seperti Kabupaten Bandung  dan Kabupaten Bekasi.

Hanya saja, kalau tidak cermat, sebuah arus deras hanya akan jadi bencana: banjir atau tsunami. Efek dari industrialisasi sudah mulai terasa. Tanpa konsep pembangunan berwawasan lingkungan yang baik, munculnya kawasan industri, perumahan dan sentra komersial baru hanya menghasilkan kegersangan. Buktinya sudah mulai terasa, Karawang-kota kini dominan panas, kering dan berdebu.Sungai Citarum tak lagi bersahabat dengan biota air. Tercemar limbah industri di sepanjang alirannya.

Pembangunan adalah sebagaimana karya seni yang harus berangkat dari rasa jiwa yang indah, yang dipadu kreativitas. Sedangkan jiwa yang indah tak akan muncul dalam suasana marah nan kacau serta niat yang buruk. Seperti itulah sebuah daerah akan terbangun. Ia akan jadi kota yang indah, manakala "dilukis" oleh pemimpin yang bersih dan indah jiwanya, serta penuh kreativitas pikirannya. Ia memimpin  berangkat dari komitmen untuk mengabdi kepada rakyat dan Tuhannya.  Bukan datang dari jiwa yang kotor yang lebih mementingkan diri  sendiri dan kelompoknya

Satu hal lain: tidak boleh ada intervensi dan benturan kepentingan. Harus saling percaya. Antara eksekutif dan legislatif harus saling menghormati posisinya. Salah satu contoh kecil, akibat masih adanya intervensi legislatif pada eksekutif melalui program dana aspirasi dengan alasan hak budgeting, membuat  banyak ruas jalan di Karawang belang-bentong. Sepotong dicor, sepotong diaspal. Sisanya masih garinjul. Lihat saja jalan di pasar blok R  dan jalan Blok X Perumnas. Jalan cor di situ cuma 50 meter saja.
Koq bisa? Karena di situ ada posisi legislatif yang off-side. Ikut campur urusan eksekutif dalam hal teknis. Berupa penentuan lokasi dan penerima manfaat/proyek yang berasal dari dana APBD. Termasuk sebagian proyek infrastruktur. Saya yakin dalam situasi begini, fungsi pengawasan DPDRD tidak akan berjalan. Bagaimana mau diawasi, sedangkan yang diawasi adalah program dan proyek usulan sendiri. Ini namanya DPRD mengalami disfungsi.
Maka jangan terlalu berharap hasil "lukisan" Sang Bupati Karawang akan bisa seindah lukisan Monalisa.

Wallahu ‘alam.






No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...