Tuesday, March 19, 2013

Kenapa Kita Harus Menulis?



tampilan blog-nya Fathia


Anakku Fathia, kini sudah mulai eksis di dunia blogging. Jadi blogger junior. Nge-blog ini adalah aktivitas tulis menulis yang di unggah ke blog. Blog sendiri adalah ruang maya yang disediakan oleh provider blog. Seperti www.blogger.com. www.blogdetik.com, www.wordpress.com de el el. Ada juga komunitas penulis blog di kompasiana. Di situlah tulisan kita bisa dipajang untuk dibaca.

Salah satu kehebatan blog adalah bisa dibaca oleh orang se-dunia. Asal punya akses ke internet. Kelebihannya lagi adalah bisa diedit dan pembaca bisa memberi komentar. Sifatnya jadi interaktif. Dengan fasilitas blog lainnya, kita bahkan bisa melihat berapa jumlah pengunjung blog. Bisa melihat juga peringkat blog kita diantara blog-blog dan situs-situs di belantara internet. Dari sisi gaya hidup, praktis lebih mendukung go green karena tak butuh kertas (paperless) untuk menyebarluaskan tulisan kita.

Saat punya blog itu aktivitas yang paling penting menurut saya ada pada menulisnya.  Apapun profesi kita, menulis harus tetap mengiringi. Maka ada petani yang menulis, ada pedagang menulis. Ada ustadz menulis, ada pemimpin menulis. Ada anak SMP menulis, ada dosen yang menulis. Semuanya bermanfaat bila diawali niat baik. Maka tulisannya bisa menjadi wawasan dan ilmu bagi pembaca. Bisa menginspirasi pembaca untuk berbuat sesuatu.

Kenapa menulis? karena dengan pena Allah mengajarkan kita ilmu ( "Alladzi 'allama bil-qalam") ini ada surah yang turun pertama Al Qur'an, surah Al Alaq ayat 5. Setelah mengawalinya di ayat pertama dengan "Iqra!" atau "Bacalah!". Maka, dengan baca-tulis itu peradaban dibangun. Agama inipun memulai "hidupnya".  Membaca dan menulis juga harus imbang. Sebagaimana konsumsi dan ekskresi. Ada masukan harus ada pengeluaran. Seperti dua sayap untuk bisa terbang.
 
Bicara menulis, ia tidak sekedar mencatat. Kalau mencatat, ia hanyalah aktivitas mengikat informasi. Aktivitas pelengkap dari membaca. Tetapi di sini, menulis adalah mengeluarkan gagasan  secara tertulis.

Sayangnya, dalam pendidikan kita,  aktivitas menulis ini sebatas pada mencatat pelajaran. Bukan mengeluarkan gagasan. Makanya tidak seimbang antara membaca dan menulis ini. Lebih condong ke membacanya. Ibaratnya salah satu sayap belajar kita tidak sempurna. Maka pantas budaya belajar kita tak bisa terbang!

Maka jangan heran kalau kualitas belajar dan pendidikan di negeri ini masih saja terpuruk. Maka, untuk memperbaiki peradaban bangsa ini tak perlu jauh-jauh dulu bicara kurikulum atau sistem pendidikan yang rumit dan melibatkan banyak pihak dan kepentingan. Bicaralah yang dasar sekali. Sesuatu yang bisa merevolusi budaya belajar kita. Secara segera! Da, sekali lagi menulis adalah cara paling cepat merevolusi budaya belajar anak bangsa. 

Maka, mengasah kemampuan menulis menjadi penting dan mendesak, urgent! Karena ia bisa mewakili dan memicu serta memacu kemampuan nalar, daya analisis, daya kritis, kekayaan kosa-kata, juga kualitas pemahaman dan tingkat kepercayaan diri. 

Maka karenanya kumotivasi anakku agar berani menulis. Berani saja dulu. Ini terpenting sebelum lainnya. Sebelum memakai EYD dan sistematika tulisan. Berbeda dengan zaman orangtuanya dulu yang melulu dijejali pelajaran tata bahasa yang diiringi dengan test dan ujian. Maka yang ada adalah ketakutan salah dalam menulis. Takut tidak sesuai tata bahasa yang baik dan benar. Hasilnya? Menulis jadi pekerjaan menakutkan. Membuat karya tulis jadi seperti hantu. Menghadapi skripsi seperti menghadapi kiamat saja rasanya.

Hingga satu masa bertemu dengan orang-orang “gila” menulis. Artinya penulis tak terpenjara aturan menulis. Menulis saja. Titik! Maka, mulailah tulisanku lahir satu demi satu. Menghiasi Facebook dan blog. Hingga punya website sendiri. Begitu juga anakku. Mulai ngeblog. 

Maka dengan alasan itulah lahir rumah bagi tulisan-tulisan kami di dunia maya ada www.fathiya.blogdetik.com, www.olich.blogdetik.com, dan akhirnya saya mencoba punya domain sendiri di www.solihudin.com.

Fathia dan saya sendiri beberapa kali masuk headline di blogdetik.com dan masuk blog pilihan di news.detik.com. Dibaca ratusan hingga ribuan orang dari mana-mana hingga negara seberang. Terakhir yang paling  WOW adalah saat tulisan Fathia yang berjudul "ketika remaja Indonesia berbicara politik" di-share oleh di situs PKSPiyungan.org kemudian dengan efek viral internet wabil-khusus sosial media macam Facebook dan Twitter, menyebar ke mana-mana dan dibaca entah berapa ribu pembaca di seantero jagat. Menurut sebagian besar pembacanya, tulisan Fathia yang khas abege namun berani menulis tema poltitik katanya sangat  inspiratif. Alhamdulillah.

Maka makin semangatlah ia menulis. Semakin mengalir. Temapun semakin beragam. Semakin kritis. Dari sisi waktu, aku dan anakku hanya berselisih kira-kira satu tahun saja dalam mulai menulis. Aku yakin, ia akan jauh lebih baik lagi dalam menulis. Karena terasah lebih awal. 

Dengan perjalanan menulis seperti di atas, mudah-mudahan Fathia bisa terus istiqamah menulis. Sebagai abinya, tentu harus berupaya jadi contoh yang baik. Allahumma yassirna fi umrina...aamiiin.


Karawang, 20 Maret 2013





No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...