MANGGA PERTAMAX!


Tadinya mau saya beri judul “Mangga Pertama”. Hanya saja sepertinya kurang seksi ya. Judul menjadi kurang mengundang penasaran. Berhubung di media sosmed suka muncul kata “pertamax’ bagi yang berhasil posting komentar paling awal, maka saya beri judul “Mangga Pertamax”. Nah, kalau Anda membacanya karena baca judul itu , berarti pilihan saya betul, he he...

Memangnya ada apa dengan MANGGA?

Ya, saya hanya ingin berbagi kabar, Saudara-Saudara, bahwa pohon mangga di samping rumah saya sudah bisa berbuah! Jumlahnya sih tidak banyak, hanya 20 biji. Walaupun sudah habis dikonsumsi tapi saya punya sedikit cerita. Boleh, kan?

Berbuahnya mangga ini setelah penantian yang cukup panjang. Sejak 2006 saya tanam itu pohon. Sejak rumah masih berstatus “kontrakan”. Saya beli di tukang pohon keliling. Awal kenapa saya tanam pohon karena merasa lingkungan perumnas teramat gersang. Hanya sedikit pepohonan yang tumbuh. Saat saya tanya pada tetangga yang menebang pohon yang sudah besar, ia bilang “barala ku daun”. Artinya ia tidak mau sedikit kesusahan karena daun jatuh yang berserakan. Inginnya halaman dan jalan bersih tanpa sampah daun. Kalaupun perlu kesejukan, warga perumnas kini lebih memilih pasang AC.

Waktu berbuah pertama itu saya baru tahu kalau ini varietas mangga “Cengkir”. Cirinya, tidak ada rasa asam saat masih belum matang. Baru setelah matang rasanya akan jadi paduan antara asam dan manis yang agak tajam. Terasa segar dan semriwing. Kalau ibarat buah Nanas, itu seperti Nanas madu yang asal Subang. Saat matang, padauan rasa manis dan asamnya menyengat. Karena cocok buat rujakan, ibu-ibu tetangga sudah inisiatif bikin acara rujakan bersama.

Mangga ini juga mengingatkan saya pada pohon Mangga Cengkir depan mushola ponpes Al Makmur di kampung halaman di Kuningan. Waktu mangga itu berbuah, rasanya ingin sekali mencicipi. Karena rasanya yang enak itu. Karena selain Mangga Cengkir itu, referensi buah mangga yang sering dikonsumsi hanyalah mangga Limus, yang baunya menyengat dan getahnya bisa bikin kulit melepuh dan gosong! Untungnya Mang Haji Udin pengasuh pondok si empunya mangga baik hati. Setiap panen mangga, hampir seluruh penghuni sekitar pondok kebagian Mangga Cengkir itu. Sampai saya menjumpai varietas Mangga Manalagi dan Gedong dari Probolinggo yang rasanya nomor satu itu, saya anggap Mangga Cengkir inilah nomor satu rasanya. Paling enak!

Pohon mangga di samping rumah itu juga ada maksud lain. Saya tadinya hanya ingin ada yang hijau-hijau di sekitar rumah. Maka pohon kelapa depan rumah saya biarkan tumbuh tinggi sampai sekarang. Di Perumnas Karawang mungkin satu-satunya pohon kelapa yang dibiarkan tinggi melebihi tinggi rumah. Buah kelapanya yang warna gading tak henti berbuah. Sampai sering tidak sempat di konsumsi. Sebagian diminta tetangga. Sebagian sampai tua di pohon untuk jadi bibit. Ibu saya sudah membawanya ke kampung di Kuningan buat ditanam. Kelapa gading ini memang bagus warna buahnya.

Selain Mangga Cengkir dan Kelapa Gading, ada juga pohon Jambu Air pemberian Pak Mul mantan ketua RT. Juga ada pohon Mahoni yang saya bawa jauh-jauh dari Paiton, Jawa Timur saat mudik. Kalau ini pemberian dari mas Baihaqi, seorang saudara nyonya. Lainnya yang sudah tumbuh agak tinggi adalah bunga Bougenvile.

Sampai suatu malam beberapa waktu lalu, ada seorang Bapak ketok pintu :

“Bu, maaf ganggu, boleh minta buah mangganya? Satu saja”, pintanya.

“Oh, silakan saja, Pak. Memang kenapa malam-malam begini mintanya?” Nyonya yang ada di rumah bertanya.

“Istri saya lagi ngidam, Bu. Mintanya mangga lagi. Padahal ini sudah bukan musim mangga. Susah carinya. Kebetulan saya lewat tadi siang, saya lihat di pohon samping ada buahnya”. Katanya lagi.

“Oh begitu, silakan ambil saja Pak, adanya juga cuma beberapa biji. Baru pertama berbuah” Sambung Nyonya.

“Iya, Bu, nggak apa-apa... terima kasih” Si Bapak kemudian pamitan.

Alhamdulillah... menanam pohon ternyata banyak manfaatnya ya...

Yuuk... kita menanam pohon....!

Comments

Popular posts from this blog

HARU BIRU PUTIH BIRU

Dari Saung Sawah ke Gedung Megah

The People Who Shaped My Life #3 : KH Drs. URI MASHURI