Sunday, May 5, 2013

Kesehatan Sosial



Oleh : Ust Uri Mashuri
        
Perumpamaan kaum mukmin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan, dan kesetiakawanan sama seperti satu tubuh yang bila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit maka seluruh anggota yang lainnya menunjukan simpatinya dengan berjaga semalaman dan menanggung panas karena demam. (H.R Bukhori dan Muslim).
        
Banyak umat Islam yang keliru memahami persoalan ibadah. Kita mengira bahwa ibadah hanya dipahami dengan batasan yang sempit, yaitu ritual semata. Dengan kata lain, hanya ibadah mahdhoh. Orang disebut shaleh bila kelihatan “khusuk dalam shalatnya, sering pergi haji atau umrah, berpakaian serba putih, serta tasbih terlihat berputar di antara jari-jarinya”, sementara di sekelilingnya tak sedikit saudara sesamanya yang bergizi buruk, tak mampu membayar SPP anaknya, atau membiarkan anggota lainnya menderita sakit lantaran takada uang untuk berobat.
Kesetiakawanan dan cinta kasih banyak dicontohkan Nabi dan para sahabat. Perhatian yang penuh serta kepedulian kepada kaum dhuafa membuat agama Islam disebut Liberating Force kekuatan pembebas dari kedhuafaan. Dibangkitkan oleh Islam semangat kebersamaan yang penuh kasih sayang maka dibangunlah jembatan rasa dan hati yang menghubungkan satu dengan yang lain dengan pondasi keikhlasan. Semangat inilah yang pada awal perkembangan Islam menjadi kunci penentu kemajuan peradaban manusia.

Masyarakat Marhamah
Tentunya, jadi dambaan kita semua tinggal di lingkungan yang nyaman dan menyenangkan. Warga Kuningan menggambarkannya dengan motto ASRI (aman, sehat, rindang, indah). Empat kata yang apabila terwujud akan menjadikan Kuningan sebagai tempat tinggal yang sangat ideal. Islam dengan konsep dasar keseimbangan dan integral menjadikan manusia bukan hanya menjadi seonggok daging dan tulang tapi juga mahluk yang memiliki dimensi rohani sehingga dalam perjalanan hidupnya tidak berhenti pada persoalan materi dan ekonomi semata, tapi juga mementingkan nilai-nilai luhur yang immaterial. Jadilah dia memiliki nilai mahluk yang memiliki nilai perikemanusiaan dan menjadikan kehidupan sosialnya menjadi kehidupan yang penuh keadilan. 

Asas keadilan yang diyakini dan diupayakan perwujudannya bertumpu pada tiga prinsip:
9         Kebebasan jiwa yang mutlak
10     Persamaan kemanusiaan yang sempurna
11     Jaminan sosial yang kuat

Kebebasan Jiwa yang Mutlak  

Tauhid –mengesakan Allah– merupakan doktrin pembebas dari belenggu yang membelit manusia. Penyerahan yang mutlak kepada zat Yang Mahakuat dan Mahabijaksana menjadikan manusia terbebas dari kekhawatiran dan ketakutan dalam menjalani kehidupan. Keyakinannya tentang Allah Maha Pengatur, Maha Pemelihara, serta Maha Pembagi rezeki, membuat tiap diri muslim merasa tenteram dalam menjalani kehidupan. Ia senantiasa merasa ada yang menjaga, mengatur serta memelihara kehidupanya dengan penuh kesadaran dilandasi jiwa yang bebas tanpa keterpaksaan. Ia jalani hidup sesuai dengan kehendak Penciptanya.
Muslim akan merasa tenteram manghadapi kenyataan yang tidak bisa ia ubah, tapi ia pun memiliki keberanian akibat kebebasan jiwa yang mutlak untuk mengubah apa yang dapat ia ubah.


Persamaan kamanusiaan yang sempurna

Islam menjelaskan kepada kita tentang asal usul kejadian manusia dari jenis yang satu, sumbernya satu, harkat dan martabat kemanusiaannya sama tidak ada perbedaan. Yang membedakannya hanya amal shaleh dan taqwanya. Dengan jiwa bebas dan bersih kita menerima kebenaran ini. Hati kita damai menerima kebenaran ini karena sesuai dengan fitrah. Kita tidak akan merasa kecil bila berhadapan dengan mereka yang lebih dari kita dan kita pun tidak akan merasa besar bila berhadapan dengan mereka yang tidak seberuntung kita. Benang merah dari persamaan membuat kita satu dengan yang lain merasa bersaudara, sederajat, dan semartabat karena sama-sama menjadi hamba Allah yang saling menyadari. Kebutuhan hidup kita tidak bisa dipenuhi sendiri, mesti memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya. Inilah dorongan untuk saling menolong antarsesama. Gemerlap harta, gemerincing perhiasan, dan onggokan pangkat takakan menyilaukan mata untuk menghalangi dalam melihat hakikat kesamaan kamanusiaan. Itulah kesamaan yang sempurna.


Jaminan Sosial yang Kuat

Islam mengajarkan kebebasan dalam bentuknya yang sempurna dan persamaan kemanusiaan dengan artian yang paling dalam. Kebebasan dan persamaan yang dimiliki manusia tidak dibiarkan begitu saja sehingga diekspresikan dengan penuh keliaran. Islam mengajarkan norma baik dan buruk, mulia terpuji, dan hina nestapa. Digariskan pula kaidah-kaidah yang penuh kebajikan sehingga kehidupan bermasyarakat menjadi kehidupan yang penuh rahmat. Itulah jaminan sosial yang kuat.
Diri pribadi harus mampu menjamin dirinya sendiri agar tidak mengikuti hawa nafsu sehingga terhindar dari kehancuran. Keluarga sebagai lembaga yang utama harus mampu menciptakan suasana yang membuat seluruh anggota keluarga merasa nyaman di dalamnya.


Masyarakat yang dikehendaki agama adalah masyarakat yang marhamah yang di dalamnya terbina suasana kebersamaan, persatuan, persaudaraan, serta siap untuk menolong satu dengan yang lain dalam menghadapi barbagai kesulitan.


Muamalah

Ibadah mahdhoh, orang menyebutnya sebagai hubungan vertikal menusia dengan sang Khalik. Itulah yang disebut dengan hablum minallah, sedangkan muamalah disebut sebagai hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Itulah yang disebut hablum minannas.
Manusia digambarkan oleh Al Quran sebagai mahluk yang seimbang antara hablum minallah dengan hablum minannas. Kehinaan, kejatuhan, serta kehancuran adalah akibat rusaknya hubungan tersebut.
Perbandingan antara ibadah dan muamalah dalam Al Quran, kata seorang ulama, kurang lebih satu berbanding seratus. Praktik muamalah lebih banyak dan lebih sering disebut dalam Al Quran. Tentunya, praktik tersebut sebagai implementasi insan yang menjadikan  Al Quran sebagai pedoman hidup.
Kiranya sudah selayaknya di samping ibadah mahdhoh yang kita lakukan, kita tingkatkan pula muamalah yang hakikatnya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah. Itulah ibadah di tengah masyarakat yang dinamakan keshalehan sosial yang menjadi kewajiban kita sebagai seorang muslim.


Wallahu a’lam
Kuningan, Juni 2005

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...