Sunday, May 5, 2013

Mutiara Peringatan Maulid Nabi



Oleh : Ust Uri Mashuri


Rabiul Awwal

Nabi lahir, Nabi hijrah, dan juga Nabi wafat jatuh pada bulan yang sama, tanggal yang  sama, bahkan hari yang sama, yaitu 12 Rabiul Awwal, hari Senin. Tentunya, tahunnya yang berbeda. Begitu istimewa bulan Rabiul Awwal bagi umat Muslimim. Hampir sepanjang bulan  itu dimanfaatkan untuk memperingati kelahiran Nabi  yang sangat dirinduinya. Berbagai ekpresi kecintaan dituangkan dalam berbagai kegiatan, mulai dari membaca shalawat,  syair-syair pujian terhadap Nabi, ceramah, shadaqah, pesta kesenian  Islami, dan berbagai seremonial lainnya. Semuanya dilakukan  dengan semangat kecintaan pada Nabi junjunan. Nyaris tak ada yang memperingati wafat beliau.

Peristiwa hijrah pun tak diperingati di bulan Rabiul Awwal. Kaum Muslimin mengambilnya di bulan Muharram, awal bulan perhitungan tahun Hijriyah setelah khalifah Umar bin Khathab menetakan perhitungan tahun untuk umat Islam bertitik tolak dari peristiwa hijrah  Nabi.

Latar Belakang Peringatan Maulid Nabi

Di  zaman Nabi tidak ada peringatan maulid. Tidak mungkin Nabi memperingati ulang tahunnya. Di jaman Khulafaur Rasyidin juga takada peringatan  maulid. Di jaman Tabiin pun  maulid Nabi takdiperingati orang. Menurut catatan sejarah, peringatan  maulid baru diadakan  di jaman Shalahudin Al Ayubi, seorang  Sultan Mesir  yang hidup antara tahun 1137 –1193 Masehi. Seorang Sultan  yang  dikenal   sebagai panglima perang yang gagah berani, tapi sangat bijak dan murah hati. Seorang budayawan yang ahli dan luas ilmu agamanya.  

Beliau sangat prihatin atas kesadaran agama di kalangan rakyatnya. Semangat jihad lemah sedang wilayah kaum  muslimin banyak  yang dikuasai kaum salib. Beliau minta masukan dari para pembantunya, kiranya ikhtiar apa yang dapat membangkitkan semangat keagamaan di kalangan ummat Islam. Salah satu gagasan yang disampaikan pada beliau adalah  peringatan maulid dengan sasaran utama :

1         Membangkitkan kerinduan pada Nabi dengan cara menggali tarikh Nabi,  serta menyebarluskanya dalam bentuk yang disukai masyarakat, yaitu dalam bentuk puisi.
2         Memurnikan kembali ajaran Islam yang sudah terkontaminasi adat istiadat  serta keyakinan setempat berupa tahayul, khurafat, serta bid’ah.
3         Membina generasi muda agar mencintai agama dalam kehidupan  sehari-hari.

Rupanya target itu tercapai, ternyata dengan peringatan  maulid semangat  keagamaan umat Islam berkobar. Terbukti pendudukan oleh kaum Salib bisa dibebaskan.

Bagi kita sekarang, tentunya, peringatan  maulid lebih bermanfaat bila tujuan serta caranya merujuk pada niat awal yang dipancangkan oleh Sultan Shalahudin Al Ayubi, bukan semata-mata Seremonial. Kita tidak menafikan manfaat seremonial, hanya kita ingin lebih membawa manfaat bagi umat agar dana, tenaga, serta pikiran  lebih berdaya guna dan berhasil guna.

Kunci  Sukses Nabi

Ada  sekelompok orang yang mengharamkan peringatan maulid Nabi. Bid’ah hukumnya, kata mereka,  di zaman Nabi tidak ada peringatan  maulid.

Bagi kita,  peringatan maulid bukan merupakan ritual. Tentunya, boleh-boleh saja asal  bermanfaat dan tidak mubazir. Kita hanya mengambil momentum untuk kegiatan dakwah dan kegiatan sosial keagamaan. Bila banyak membawa manfaat tidak ada salahnya kita laksanakan; bila banyak mubazirnya, tentunya lebih baik kita tinggalkan.

Dalam peringatan maulid, kita dapat mengungkap tarikh kehidupan Nabi yang penuh  suri tauladan, kesederhanaan, kebijakan, kesabaran, keberanian, kesantunan, dan semua karakter yang baik diungkap untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai sosok Nabi agar generasi muda tidak mengidolakan sosok yang takpantas jadi idola.

Nabi adalah seorang yang umi. Seorang yang tidak bisa tulis-baca. Beliau cerdas atas bimbingan dari Allah. Namun, tuduhan akan dilontarkan oleh  nonmuslim bila Nabi bisa tulis baca. Mereka akan mengira Nabi menjiplak ajaran-ajaran mereka dari naskah-naskah kuno yang mereka miliki. 

Michael H.Hart menempatkan Nabi kita di urutan teratas dari daftar seratus tokoh dunia yang berpengaruh. Alasannya, Beliau memiliki pengaruh pribadi yang lebih besar di banding tokoh lain.

Karakter yang dimiliki Nabi adalah karakter yang sempurna. Hal ini diakui oleh Allah sebagai seorang yang memiliki akhlak yang mulia. Karakter inilah yang memesona umatnya sehingga tertarik untuk mengikuti ajarannya dan selanjutnya berjuang untuk menyebarluaskannya. Para ulama menyebutkan kunci sukses Nabi  karena  sikapnya, antara lain

1         Jiwanya yang suci dan murni, jauh dari arogan, iri dengki, dan serakah.
2         Tidak senang hidup berfoya-foya, sederhana dalam segala hal
3         Perilakunya sopan dan santun, menghadapi siapa pun beliau menjaga keramahan dan tidak membedakan siapa pun yang dihadapi.
4         Tidak pendendam/pemaaf termasuk kepada musuhnya dan kepada orang-orang yang telah mendhaliminya.
5         Beliau tidak pernah melupakan jasa orang lain, tapi  beliau suka melupakan jasa kepada orang lain 
Dengan karakter seperti itu Nabi melaksanakan misinya sebagai rahmatan lil a’lamiin, dengan sasaran pokok :
6         Memberantas berbagai kemusyrikan yang membelenggu jiwa manusia, dan menggantinya dengan ketauhidan yang penuh dengan pencerahan.
7         Melenyapkan  kesempitan pandangan dengan mengajarkan persamaan, persaudaraan, kebebasan, serta toleransi yang luas dalam  bermasyarakat.
8         Menghilangkan  keangkuhan rasial, beliau mengajarkan turunan mana pun dan siapa pun  dari etnis mana pun sama di sisi Allah, yang membedakannya adalah prestasi diri yaitu ketakwaan.
9         Melindungi kemerdekaan beragama, terkenal prinsip dalam Islam yaitu tidak ada paksaan dalam agama serta toleransi yang luas dengan prinsip bagimu agamamu dan bagiku agamaku.
10     Menegakkan keadilan, dan
11     Mengangkat derajat kaum wanita

Itulah essensi peringatan maulid Nabi yang dapat menjadi bahan  bagi kita agar jangan sampai peringatan maulid menjadi  mulutan  semata.


                                                                 Wallahu a’ lam  
                                                                Kuningan, April 2006

No comments:

Post a Comment

KELUARGA : DARI KETAHANAN MENUJU PERADABAN

  Mengapa pembicaraan publik tentang wacana keluarga selalu bernuansa pesimis dan defensif, sehingga istilah yang muncul adalah 'ketahan...