Postingan

OPTIMISTIC PARENTING

*** “Bi, memangnya berkeluarga semenakutkan itu ya? Kok serem-serem yang dialami peserta?” tanya Si Teteh beberapa waktu lalu.  “Peserta apa, Teh?” Saya balik tanya.  “Itu, di acara kemarin. Aku kan ikut masuk karena dampingi umi. Ikut foto-foto. Jadinya ikut denger,” jawabnya.  Walaupun latar belakang dan tujuan acaranya sangat bagus, tapi rasanya memang ada yang mengganjal. Buktinya anak saya jadi punya kekhawatiran kalau nanti menikah akan mengalami hal yang sama. “Jangan-jangan suami Teteh ntar kayak gitu, Bi…?” katanya lagi.  Saya jadi merasa bersalah sudah memintanya ikut dampingi uminya. Walaupun kemudian bisa dijelaskan duduk persoalannya.  Semaraknya kajian dan seminar dengan tema-tema yang menyodorkan problem solving memang berhasil mendapat respon peserta yang tinggi. Majelis curhat diminati banyak orang. Tema selingkuh sepertinya yang paling menguras emosi. Potongan video curhat hilir mudik mampir di medsos. Karena fyp. Semakin ekstrim semakin viral....

TAX RATIO BUKAN KUTUKAN

Gambar
Sintang, awal Januari 2026 Pajak itu ibarat sayuran hijau di menu anak-anak. Semua tahu pentingnya, tapi jarang yang mau menyantapnya. Kalau saya menulis pajak, apakah ada yang membaca? Itulah yang membuat  sedikit ragu. Tetapi karena temanya bersinggungan dengan tax ratio yang stagnan selama dua dekade terakhir, rasanya saya harus menulisnya.  Anda tidak salah juga kalau mulai tertarik. Karena inilah salah satu pertanyaan terbesar para insan pajak, pengamat ekonomi, dan pengambil kebijakan. Tax Ratio kita seperti terkena kutukan. Terkunci di kisaran 10% saja.  Salah satu caranya, kita perlu menyelam ke dasar lumpur yang sunyi. Pada dinamika fiskus di garda depan yang tak terlihat dari permukaan tanah. Tak terpantau dari ketinggian Gedung Mar'i Muhammad di markas pusat, atau helicopter view para pimpinan.  Apalagi karena berbicara stagnasi, maka  harus menyingkap titik lemah, kebocoran atau sumbatannya. Inilah yang membuat buku ini berbeda. Di sini Anda akan dia...

CERITA TENTANG PEKERJAAN

Gambar
Hari pertama 2026. Sejenak jeda dari rutinitas. Memulainya dengan segelas Wedang Uwuh panas di café yang baru pertama kali dikunjungi. Di Sentul wilayah perbukitan. Tepatnya di Kopi Koneng, yang k alau jalan terus kita akan sampai ke Puncak.  Malam sebelumnya suasana pergantian tahun tidak terasa. Karena tengah terkantuk-kantuk digendong bis Damri. Menyusuri jalur trans Kalimantan rute Sintang - Pontianak. Persis 10 jam. Berangkat pukul lima sore, tiba di pool Damri sudah tahun baru. Suasana Subuh kota Pontianak terasa lengang, dingin dan basah. Rupanya pesta tahun baru hanya sampai tengah malam. Setelah itu ambyar diguyur hujan.  Dari pool Damri disambung mobil carteran. Bertiga sesama AR yang pulkam. Kang Nana dan Kang Meiqi yang urang Sukabumi. Mengejar jadwal pesawat pukul 06.20. Paling pagi rute Bandara Supadio-Soetta. Pukul delapan Super Air Jet pun mendarat.   Kali ini dijemput ramai-ramai ke bandara.  Biasanya berangkat sendiri. Pulang juga sendiri. Ini...

MATA RANTAI TERLEMAH

“The strength of a chain is measured by its weakest link.” — Thomas Reid *** Dalam sebuah organisasi, setiap fungsi adalah bagian dari sistem yang saling terhubung. Bagaikan rantai. Pun di DJP . Wabilkhusus Kantor Pelayanan Pajak . Ada fungsi pelayanan, edukasi, pengawasan, penegakan hukum, dan manajemen. Di sini berlaku hukum besi: kekuatan rantai tidak diukur dari bagian terkuatnya, melainkan dari mata rantai yang paling lemah. Maka, memahami di mana rantai terlemah adalah kunci membuat organisasi menjadi kuat. Data tahun 2024 menunjukkan, dari total 44.137 pegawai DJP, terdapat 11.076 AR ( Account Representative ), Pemeriksa berjumlah 5.574 orang, dan Penyuluh 2.255 orang. AR sendiri terbagi menjadi dua: AR Strategis sebanyak 2.336 orang dan AR Wilayah sebanyak 8.740 orang. Reformasi perpajakan yang dijalankan oleh DJP pada dasarnya upaya terus menerus untuk menguatkan seluruh mata rantai fungsi-fungsi di atas. Pertanyaannya: Masih adakah mata rantai yang lema...

LHPt ADALAH KOENTJI

Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" - t ulisan #3 ___________________________________________   “If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough.” — Albert Einstein   *** Dokumen ini adalah rutinitas para AR. Dari proses pengawasan Wajib Pajak, ada satu tahapan yang krusial : pembuatan dokumen Laporan Hasil Penelitian (LHPt). Ia bukan sekadar dokumen administratif, melainkan fondasi argumen, jembatan dialog, dan jangkar profesionalisme. Karena ketika LHPt kuat, proses berikutnya menjadi ringan. Ketika LHPt rapuh, seluruh tahapan setelahnya ikut goyah. Bila seluruh proses pengawasan diibaratkan terapi akupunktur, maka LHPt adalah titik tempat jarum ditusuk. Jarum yang tepat di titik ini akan mampu memulihkan keseluruhan sistem. “God is in the details.” — Ludwig Mies van der Rohe Fakta Keseharian Tapi, karena dipicu aturan main bernama "time manajemen", para AR jadi dikejar tenggat waktu. Tidak boleh melebihi rata-rata nasional. Karena akan berwar...

HEROISME

Bulan Agustus lalu, pada saat Forum Pengawasan, saya melaporkan progres satu Wajib Pajak (WP) besar dari Daftar Prioritas Pengawasan (DPP): “Izin lapor, Pak. WP yang kemarin jawab SP2DK sudah setor Rp1,5 miliar plus pembetulan SPT,” kata saya. “Wah, cepat sekali responsnya, mantap, Pak!” kata Pak Sen, Kepala Kantor. “Tapi dengan respon seperti itu potensi tambahannya bisa jadi jauh lebih besar. Data yang diminta apa sudah dikasih semua, Pak?” lanjutnya. “Sudah, Pak. Banyak sekali.” jawab saya. “Kalau gitu, jangan ditutup dulu. Kita analisis lagi yang dalam,” tegasnya. “Siap, Pak!” *** Arahan atasan adalah perintah yang tak boleh ditawar. Maka petualangan saya belum berakhir. Rekan-rekan saya ada yang berkomentar ramah. “Pak Sol, itu kerjaan satu tim pemeriksaan lho, apalagi tiga tahun pajak. Kalau dikerjain sendirian, DPP lain bisa-bisa kedodoran!” Saya hanya tersenyum kecut. “Ya bagaimana lagi. WP-nya sangat kooperatif. Semua data yang diminta diberikan lengkap. Mau tak mau harus di...

BUILD TRUST & BE A MENTOR

Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan"  Tulisan #4 ____ " Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results ." (Rita Mae Brown)  *** “Pak Sol, ini kan kantor pelayanan, kenapa ada target penerimaan? apakah berarti kami ini ditarget atau bagaimana?” tanya seorang Wajib Pajak. “Wah, pertanyaan filosofis ini. Sayapun kadang bertanya begitu, kenapa kantor pelayanan ada target penerimaan. Tapi kalau WP dapat SP2DK itu bukan kita mengejar atau mentarget. Tapi mengklarifikasi data.” Saya jawab normatif. Tentu sambil membela institusi.  Ketika sudah akrab, kadang terlontar isi kepala WP yang selama ini terpendam. Pertanyaan di atas, spontan terucap di tengah-tengah diskusi tentang property investasi di laporan keuangan WP.  Walaupun diskusi sudah lewat, tapi diksi “mentarget kami” itu terus teringat. Hingga jadilah tulisan ini. Memang selalu ada keraguan, apakah membangun kedekatan  akan membuat petugas pajak tidak bisa tegas ke WP? a...

SILO

  Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan" ,  Tulisan #5 ___________________________________________ " The whole is greater than the sum of its parts .” — Aristotle *** Kamis sore awal Desember 2025, saya dipanggil mendadak. Diminta berkumpul di ruang rapat kecil di samping ruang Kepala Kantor. Letaknya di lantai 2. Kalau dipanggil mendadak begitu suka deg-degan. Ada salah apa saya?  Di ruangan sudah hadir Kepala Kantor, Kepala Seksi dan seorang AR – kawan saya. Di layar proyektor terpampang laporan keuangan salah satu Wajib Pajak.  Rupanya saya diminta memberi pandangan. Ikut berdiskusi. Mungkin, karena baru  menyelesaikan pengawasan Wajib Pajak dengan jenis usaha yang serupa, bahkan menggunakan konsultan yang sama. Hanya berbeda lokasi dan skala. Diskusi pun berjalan sebagaimana mestinya. Membahas laporan keuangan. Menelusuri di mana poin yang harus diklarifikasi. Di muaranya dihitung berapa potensi koreksi.  Dinamika di atas intensitasnya jauh meningkat ta...

BUKAN SEKADAR ANGKA

Gambar
  Serial  "Tax Ratio Bukan Kutukan"  Tulisan #6 ___________________________________________ Teringat saat awal bertugas di Sintang. Awal 2024 lalu. Sebagaimana normalnya di tempat baru, saya harus banyak melakukan " say hello " ke wajib pajak.  Pada satu obrolan perkenalan, saya pasang mode lepas. Saya biasa tertawa terbahak. Orang menyebutnya tertawa karir. Rupanya wajib pajak merasa senang. Karena bisa ikut tertawa lepas juga. Dari situlah mulai terjalin komunikasi yang terbuka. Belakangan,  ketika wajib pajak ini harus membayar kekurangan pajak setelah dikirim SP2DK, ternyata tetap bisa tertawa. Asal argumennya valid. Artinya keakraban tidak mengurangi profesionalisme.  Pada kesempatan lain ketika melakukan kunjungan ke wajib pajak di daerah Kabupaten Melawi. Menjelang akhir tahun 2024.  Ada insiden kecil. Dipicu komunikasi rekan yang menurut mereka kurang tepat. Rupanya ada diantara yang hadir tersinggung. Rupanya ia  seorang Panglima Bur...

MUTASI YANG HUMANIS

Tahun 2026 adalah tahun ke lima bertugas di Kalimantan. Sebelumnya sebelas tahun merasakan jadi warga Jawa Timur. Di tiga kabupaten berbeda : Probolinggo, Jember dan Lumajang. Selama enam belas tahun berikutnya kembali menjadi warga Jawa Barat, berkhidmat di beberapa kantor pelayanan pajak antara Karawang dan Bekasi. Jadinya mirip puisi Chairil Anwar.  Di kalangan Account Representative (AR), mutasi telah menjadi bagian penting dari perjalanan pengabdian. Ia membawa peluang baru untuk berkembang, belajar, dan memberikan kontribusi yang lebih luas di berbagai penjuru Indonesia.  Pimpinan sering menyampaikan bahwa penempatan yang dekat dengan kampung halaman bisa menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi. Sementara itu, kesempatan bertugas di berbagai wilayah—termasuk luar Jawa—membuka pintu untuk pengalaman berharga yang memperkaya wawasan dan jiwa pengabdian. Secara normatif mutasi selalu ditujukan untuk kebaikan organisasi dan pegawai.  Pengalaman saya pribadi, mutasi meman...