Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

BUKAN SEKADAR ANGKA

Gambar
  “Pak, Sol. Kapan terbit SP2DK-nya? ini sudah mau masuk semester II”. “Paling cepat sepekan lagi, Pak. Masih ada data belum dianalisis.” “Pak, Sol. SP2DK sudah lewat 90 hari, belum LHP2DK. Time Manajemen-nya nggak dapat.” “Ini WP besar, Pak.  WP minta waktu tambahan. Kompleks permasalahanya. Apalagi sambil menggarap yang lain. Belum lagi mengatur jadwal pembahasan yang ribet.”  “Pak, Sol Kapan WP-nya setor?” “Tanggal 5 Desember, Pak. Memang kenapa, Pak?” “Kalau lewat tanggal 5, akan dinaikkan ke Pemeriksaan”. *** Kenapa harus segera terbit SP2DK?  Karena ada ukuran kuantitas dan time manajemen, kalau lewat dari rata-rata nasional, poin berkurang. Akan dianggap lambat kerjanya. “AR yang lain bisa cepat, kenapa Kamu lambat?” Kenapa 90 hari harus LHP2DK?  Ini standarnya. Dipukul rata. Walaupun WP yang kompleks tentu akan lebih membutuhkan waktu.  Kenapa ditanya kapan setor? Karena kualitas dihitung dari realisasi. Jika nol, sedalam apapun analisis, akan dinil...

KEMBALI KE NOL

  “ We cannot solve our problems with the same thinking we used when we created them .” — Albert Einstein *** “Kira-kira endingnya bagaimana, Pak Sol?” tanya Pak Kepala Kantor. Pada kesempatan bedah LHPt.  “Saya tidak bisa memastikan Pak. Apakah WP akan membayar sesuai hitungan kita, atau lanjut ke pemeriksaan. Tapi setidaknya saya sudah mewariskan LHPt komprehensif yang lebih ‘bercerita’. Sehingga AR berikutnya tidak memulai dari nol seperti saya, “jawab saya apa adanya.  “Bagaimana bisa memulai dari nol, Pak?” tanya beliau lagi.  “Karena file pengawasan masih berbentuk excel yang konstruk-nya belum terlihat. Analisis WP grup belum ada. Analisis transfer pricing belum ada juga. Baru ada selisih equalisasi. Makanya saya susun menjadi seperti skripsi. Agar gagasannya mengalir. Bentuk file-nya pdf. Bukan excel.” Saya coba jelaskan lebih lanjut.  “Kalau dari mirroring Laporan Hasil Pemeriksaan bukannya sudah lengkap?” kali ini pertanyaan dari Kasie.  “Secara t...

BUILD TRUST & BE A MENTOR

" Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results ." (Rita Mae Brown)  *** “Pak Sol, ini kan kantor pelayanan, kenapa ada target penerimaan? apakah berarti kami ini ditarget atau bagaimana?” tanya seorang Wajib Pajak. “Wah, pertanyaan filosofis ini, beurat euy… Sayapun kadang bertanya begitu, kenapa kantor pelayanan ada target penerimaan. Tapi kalau WP dapat SP2DK itu bukan kita mengejar atau mentarget. Tapi mengklarifikasi data.” Saya jawab normatif. Tentu sambil membela institusi.  Begitulah, ketika sudah akrab, kadang terlontar isi kepala WP yang selama ini terpendam. Pertanyaan di atas, spontan terucap di tengah-tengah diskusi tentang property investasi di laporan keuangan WP.  Walaupun diskusi sudah lewat, tapi diksi “mentarget kami” itu terus teringat. Hingga jadilah tulisan ini. Memang selalu ada keraguan, apakah membangun kedekatan komunikasi akan membuat petugas pajak tidak bisa tegas ke WP? atau apakah WP tulus ketika memban...

HEROISME

“Pak, WP sudah setor 1,5 Miliar. Juga sudah lapor pembetulan. Tinggal di-input,” ungkap saya di satu kesempatan Forum Pengawasan. Ini terkait progres penyelesaian DPP. “Tapi, Pak Sol. Kalau respon WP seperti itu justru menandakan yang disembunyikan bisa jadi lebih besar. Apa WP ngasih data yang diminta, nggak?” tanya Pak Sen, Kepala Kantor. “Ngasih, Pak. Banyak sekali.” jawab saya. “Kalau begitu jangan di closed dulu. Kita pelajari dulu datanya. Kita analisis lagi.” Lanjutnya. “Siap, Pak. Saya follow up.” Saya harus mengikuti arahan. Walaupun saya harus kehilangan poin “time manajemen”. Tampilan di push rank jadinya belum bisa membaik. Masih terpuruk di dasar jurang. Nomor buncit di KPP. Nomor dua dari bawah se-Kanwil.  Dialog di atas terjadi di bulan Agustus. Sempat dikomentari kawan : “Pak Sol, itu pekerjaan satu tim di pemeriksaan lho. Apalagi tiga tahun pajak. Ini dikerjakan sendiri. Kerja pemeriksa tapi tukin AR.” Guyon seorang kawan. Kalau lemah iman, sungguh bisikan yang bi...

REWARD DAN PUNISHMENT ITU BERNAMA MUTASI

  Kalau mutasi dijadikan hukuman, sama saja menganggap jauh dari Jawa adalah kutukan.  *** Mutasi di kalangan Account Representatif rupanya tak sekedar tour of duty . Sudah ditambahkan fungsi sebagai reward dan punishment. Pihak pimpinan berulangkali menyampaikan kalau jauh dari homebase adalah sebentuk punishment. Mendekati home base adalah reward.  Kalau di pihak bawahan, ya hanya bisa pasrah. Walaupun bertanya-tanya : kalau sebagai hukuman, mestinya harus jelas statusnya. Apakah berat, sedang atau ringan? Untuk sampai pada vonis juga ada prosesnya. Ada konfirmasi dan pembahasan. Tidak sepihak.  Pada mutasi regional jelas terbaca. Mana yang terkena punishment, dan mana yang dapat reward. Hanya saja prestasi dan kesalahannya tidak jelas. Karena tidak pernah ada konfirmasi. Atas kesalahan apa sehingga dimutasi jauh dari home base. Misalnya saya sendiri sampai terlempar ke pedalaman Kalimantan .  “Wah,repot juga kalau harus dikonfirmasi ke setiap pegawai.” Begi...

HADIAH MUTASI

  *** Nasi sudah jadi bubur. Takdir sudah berjalan. Waktu tidak bisa diputar ulang. Posisi sudah di Kalimantan . Bahkan sekarang sudah di pedalamannya. Ada perasaan terjebak. Ketika ditempatkan di daerah remote, aturan kepegawaian mematok minimal lima tahun. Ada rasa iri dengan yang masih di pulau Jawa.  Tapi, saya harus tetap waras. Harus menyelamatkan diri saya, mental saya, pikiran saya. Jadinya saya rubah sekalian. Mutasi ke Sintang  adalah hadiah . Seperti bunyi hadits " Anna 'inda zhanni ''abdi bii " : Aku sebagaimana prasangka hambaKu padaKu. Atau filosof Marcus Aurelius :  “ The happiness of your life depends upon the quality of your thoughts .” Bahagia atau tidaknya sebuah penugasan, sering kali ditentukan bukan oleh tempatnya, melainkan oleh makna yang kita lekatkan padanya. Kalaulah ada ketidakadilan, biarkan itu urusan mereka dengan Yang Maha Adil K etika Pikiran saya setting ulang. Benar saja. Rupanya ada banyak hadiah yang Allah berikan. Berupa ...

SILO

  " The whole is greater than the sum of its parts .” — Aristotle *** Kamis sore awal Desember 2025, saya dipanggil mendadak. Diminta berkumpul di ruang rapat kecil di samping ruang Kepala Kantor. Letaknya di lantai 2. Kalau dipanggil mendadak begitu suka deg-degan. Ada salah apa saya?  Di ruangan sudah hadir Kepala Kantor, Kepala Seksi dan seorang AR – kawan saya. Di layar proyektor terpampang laporan keuangan salah satu Wajib Pajak.  Rupanya saya diminta memberi pandangan. Ikut berdiskusi. Mungkin, karena baru  menyelesaikan pengawasan Wajib Pajak dengan jenis usaha yang serupa, bahkan menggunakan konsultan yang sama. Hanya berbeda lokasi dan skala. Diskusi pun berjalan sebagaimana mestinya. Membahas laporan keuangan. Menelusuri di mana poin yang harus diklarifikasi. Di muaranya dihitung berapa potensi koreksi.  Dinamika di atas intensitasnya jauh meningkat tahun ini. Menjadi ruang berbagi pengetahuan. Pengalaman satu AR akan mempercepat pemahaman AR yang lain...

AYAH PULANG

Gambar
  “Ayah, Pulanglah!” Begitu judul sebuah webinar yang penyelenggaranya Majelis Lukmanul Hakim (MLH), divisi dari Aqil Baligh Community (ABC). Komunitas parenting tempat saya berkiprah.  “Pulangku berat di ongkos,” gumamku dalam hati.  Walaupun maksud dari “pulang” di judul webinar itu artinya para ayah kembali hadir di jiwa anak. Mengaktifkan fungsi mendidik. Diawali dengan dirasakan kehadirannya, lalu menularkan nilai-nilai baik yang sudah jadi karakter. Melalui obrolan seru, cerita pengalaman, gesture tubuh, nasihat atau petuah, tatapan mata, juga contoh nyata.  Kami menyebutnya “Menjadi ayah pendidik peradaban”. Mendidik anak sejatinya ‘hanyalah’ kumpulan aktivitas biasa dan tidak rumit. Bisa dilakukan semua ayah. Hanya saja karena bentuknya seperti kegiatan biasa, jadinya dianggap tidak penting. Padahal bagi anak, itu teramat penting.  Bagiku makna “pulang” itu lebih terasa sebagai panggilan untuk hadir secara fisik. Karena panggilan tugas telah membuatku di...

KOMPRÉ

 “ The purpose of evaluation is not to judge, but to improve .” — W. Edwards Deming , bapak manajemen mutu modern Ada kegiatan yang paling enggan diikuti par AR. Karena terasa seperti horor. Namanya monev . Kependekan dari Monitoring dan Evaluasi .  Terkesan gagah di posisi subjek. Tapi horor di posisi objek. Entah kenapa monev yang terasa horor hanya di para AR. Saya tidak pernah mendengar monev jadi horor di posisi penyuluh, pemeriksa, penagihan atau pelayanan. Dugaan saya, karena subjek monev kadang langsung oleh eselon II. AR jadinya langsung berhadap-hadapan dengan Kakanwil . Walaupun sering juga didelegasikan ke eselon III Kanwil.  Selain subjeknya, juga cara mengevaluasinya. Biasanya dengan metode sampling . Kasus ditentukan. Muncul WP -nya. Langsung ditanya AR-nya. Pertanyaannya juga komprehensif. Artinya AR harus jadi "yang maha tahu". Beruntung ketika bisa menjawab. Kalau sedang sial, akan malu karena tak bisa menjawab. Terkesan tidak bisa kerja.  Karena it...